>This article is written in Bahasa Indonesia. The original essay in english language follows.

Berjuang untuk Hidup

Kalau dipikir-pikir, Mike Powell mestinya tidak selamat. Kecanduan, menjadi pengedar obat-obatan, penjara, atau kematian adalah nasib yang biasanya menimpa anak jalanan di “rimba” South-Central Los Angeles-arena kejam untuk perang obat, pembunuhan geng, pelacuran, dan kejahatan. Tapi, kehidupan Mike kecil memiliki tujuan istimewa. Selama delapan tahun ia tabah menghadapi teror dan kebrutalan untuk mempertahankan keluarganya yang beranak tujuh. Hebatnya, selama masa itu, tak ada orang yang tahu bahwa orangtua yang sesungguhnya dalam keluarga itu hanyalah seorang anak.

Waktu Mike lahir, ayahnya, Fonso, dipenjarakan karena mengedarkan obat. Ibu Mike, Cheryl, yang berusia lima belas tahun, keluar dari sekolah untuk menafkahi bayinya. “Tanpa kau, kehidupanku tak akan begini,” begitu katanya pada Mike berkali-kali. Perasaan bersalah inilah yang membuat Mike tetap mendampinginya. selama tahun-tahun yang menyeramkan.

Fonso dibebaskan dari penjara saat Mike berusia empat tahun, tapi bukannya kearnanan yang dibawa veteran Vietnam setinggi 195 cm dengan berat 135 kg ini, melainkan rasa takut baru dalam kehidupan Mike. Fonso mengidap masalah psikologis yang parah, dan sikap disiplinnya mengkhawatirkan. Untuk kesalahan ringan, seperti menutup pintu terlalu keras, ia memaksa Mike melakukan pushup berjarn-jam. Kalau anak kecil itu tak tahan lagi, ayahnya memukulnya. Begitu fanatiknya pendirian Fonso mengenai pergi bersekolah, sehingga Cheryl harus menyembunyikan Mike di lemari kalau anak itu sakit.

Mungkin ada firasat buruk yang mendorong Fonso untuk bersikap keras pada anaknya dan mengajarinya supaya dapat mengandalkan diri sendiri jauh sebelum waktunya. Mike baru delapan tahun saat ayahnya dibunuh dalam perkelahian dengan seorang pengedar obat.

Dalam semalam, perlindungan dan nafkah yang disediakan Fonso lenyap. Artinya, Cheryl yang berusia dua puluh empat tahun harus kembali lagi ke jalanan, dan sekarang ia dibebani tiga anak: Mike; Raf, empat tahun; dan Amber, satu tahun. Hidup mereka sulit dan pahit, dan ada seorang anak lagi yang akan lahir.

Tak lama kemudian Cheryl membawa pulang Marcel, pecandu kokain yang menteror keluarga itu lebih parah daripada Fonso. Saat Mike dengan lugu menanyakan apa yang dilakukan Marcel terhadap upah Cheryl sebagai pekerja transit, Marcel mematahkan rahang anak itu sehingga harus diberi kawat untuk membetulkan letaknya.

Tak lama kemudian Marcel membuat Cheryl kecanduan kokain, dan keduanya akan tenggelam dalam pengaruh minuman keras. Mula-mula mereka mengunci anak-anak di lemari, tapi pada akhirnya hanya meninggalkan mereka sendirian, setiap kali selama berminggu-minggu. Cheryl meyakinkan Mike bahwa jika ada orang yang tahu apa yang terjadi, anak-anak akan terpisah dan dikirim ke rumah asuh. Mengingat pesan ayahnya yang galak agar ia menjadi “lelaki,” anak berusia delapan tahun itu menjadi sangat memperhatikan perlunya menjaga keutuhan keluarganya, apa pun yang terjadi.

Agar tak ada orang yang curiga, Mike mulai membersihkan apartemennya sendiri, mencuci pakaian dengan tangan, memberi makan, mengganti popok, dan memandikan adik-adiknya. Ia menjadi pemulung di toko kelontong untuk mendapatkan sisir, botol, dan pakaian, apa pun yang mampu mereka beli, dan menyembunyikan ketidak-hadiran ibunya dengan berbagai dalih. Cheryl dan Marcel tidak ragu-ragu menjual semua barang keluarga untuk membeli kokain-bahkan uang untuk biaya sewa rumah dan makanan anak-anak pun mereka gunakan. Saat situasi keuangan menjadi sangat memprihatinkan, Mike diam-diam berhenti sekolah pada usia sembilan tahun untuk menafkahi keluarganya sendiri. la membersihkan halaman, mengangkut barang dari truk dan toko minuman, selalu bekerja sebelum subuh atau di malam hari supaya adik-adiknya tidak sendirian saat mereka bangun.

Dengan bertambah lama dan bertambah parahnya kecanduan minuman keras dan semakin seringnya Cheryl dan Marcel tidak ada, maka saat mereka ada, mereka semakin kasar. Sedemikian parah kecanduannya sehingga Cheryl meninggalkan Marcel saat obat milik Marcel habis. Cheryl kemudian berteman dengan orang yang punya lebih banyak obat. Marcel yang berang melampiaskan amarahnya di apartemen kumuh itu, menyiksa dan menteror anak-anak supaya mereka memberitahukan tempat penyembunyian uang atau tempat ibu mereka berada.

Suatu malam, Marcel memasukkan adik Mike yang berusia dua tahun ke dalam kantong plastik dan menutupnya erat-erat. Tanpa udara, mata balita itu melotot dan kulitnya membiru. “Di mana ibumu?” seru pecandu itu. Sambil menangis, Mike dan Raf cilik berusia lima tahun menyerang Marcel berulang-ulang, memukul punggungnya dengan kepalan yang kecil dan tidak berarti. Karena marahnya, Mike akhirnya mengigit leher Marcel, sambil berharap agar si penyiksa kejam itu. melepaskan kantong plastik itu dan ganti memukulnya. Rencananya berhasil Martel berputar dan melemparkan Mike ke jendela, membuatnya terluka kena kepingan kaca dan tangannya patah.

Orangtua Cheryl, Mabel dan Otis Bradley, sangat mencintai cucu-cucu mereka, tapi mereka bekerja sepanjang hari dan tinggal di tempat yang hanya bisa dicapai dengan berganti bus beberapa kali, dan hanya dapat menjenguk sekali-sekali. Karena merasakan bahwa keluarga itu dalam kesulitan, Mabel mengirim mainan, pakaian, dan popok, dan tak pernah menduga bahwa popok pun dijual oleh Cheryl untuk membeli obat. Meskipun Mabel selalu bisa dihubungi melalui telepon dan menyediakan cinta tanpa pamrih sehingga menjadi satu-satunya jangkar bagi Mike, Mike tidak berani menceritakan masalah yang dihadapinya. Ia takut neneknya yang lembut akan mendapat serangan jantung jika tahu keadaan sesungguhnya-atau lebih buruk, dikasari oleh Marcel

Keluarga ini terpaksa selalu berpindah-pindah, tidur di bioskop, di dalam mobil rongsokan, dan bahkan di tempat kejahatan. Mike mencuci pakaian mereka di toilet umurn dan memasak dengan piring pemanas berapi tunggal. Pada akhirnya, Cheryl dan Marcel selalu berhasil menemukan mereka.

Meskipun berpindah-pindah, Mike bersikeras agar adik-adiknya bersekolah, mendapat nilai baik, dan menjadi warga teladan. Bagi teman sekelas, guru, dan bahkan nenek mereka, anak-anak itu selalu tampak normal, dirawat dengan baik, dan bahagia. Tak ada yang menyangka bagaimana hidup mereka atau bahwa mereka dibesarkan oleh seorang anak. Entah bagaimana Mike bisa berhasil menganut niat baik dari ayahnya yang galak dan memadukannya dengan teladan kasih neneknya, sehingga dalam dirinya terbentuk sistem nilai yang unik. Ia sangat mencintai keluarganya, dan adik-adiknya mempercayai dirinya. “Kau tak harus berakhir di jalanan,” katanya kepada mereka. “Lihat bagaimana Ibu? Jangan memakai obat!” Diam-diam ia takut kalau-kalau ibunya suatu hari menggelepar keracunan obat di depan mereka.

Selama beberapa tahun berikutnya, Cheryl sering dipenjara karena memiliki dan menjual narkotika dan melakukan kejahatan lain, dan kadang-kadang dipenjarakan hingga setahun. Di luar penjara, ia terus melahirkan anak-anak lagi, membuat situasi keuangan keluarga ini semakin kritis. Sekuat apa pun Mike mencoba, menjadi tak mungkin baginya merawat tiga bayi baru dan menafkahi keluarga dengan tujuh anak sekaligus. Pada suatu Natal, mereka hanya bisa berbagi sekaleng jagung dan sekotak makaroni dan keju. Satu-satunya mainan mereka selama tahun itu adalah satu boneka Happy Meal McDonald’s untuk setiap anak. Untuk kado, Mike menyuruh anak-anak membungkus bonekanya dengan kertas koran dan bertukaran. Itu salah satu Natal yang mendingan.

Mike sekarang remaja muda yang hidup selalu dalam kecemasan, tapi tetap menolak terjerumus; dalam dunia pengedar obat dan kejahatan yang lebih mudah dijalani. Malahan secara tabah, ia berjalan di jalanan berbahaya di larut malam menjual kacang makademia yang diolah lagi yang, bagi pecandu yang setengah gila, tampak seperti “batu” kokain seharga tiga puluh dolar. la tahu ia mempertaruhkan nyawanya setiap kali mengadu nasib seperti itu, tapi ia merasa tak punya banyak pilihan. Dengan pertarungan geng dan perang obat setiap malam, peruntungannya tidak terlalu baik. Pada usia lima belas tahun, Mike sudah pernah tertembak delapan kali.

Lebih buruk lagi, persediaan tenaga dan harapannya sekarang semakin rendah. Sepanjang ingatannya, ia hidup dengan rasa takut setiap hari yang tak pernah habis: Bisakah kami makan hari ini? Apakah kami akan di jalanan malam ini? Apakah Marcel akan muncul besok?

Dan setelah pindah lebih dari empat puluh kali, tampaknya mereka sudah mencapai keadaan paling parah. “Rumah mereka sekarang adalah Hotel Frontier, tempat kotor di Skid Row, tempat mucikari dan pelacur memenuhi koridor dan penjualan obat terjadi di tangga. Anak-anak pernah melihat pembunuhan di lobi, dan Mike sekarang takut meninggalkan mereka sendiri untuk tidur. Selama beberapa malam mereka di sana, ia berjaga dengan pemukul bisbol untuk membunuh tikus yang masuk lewat celah pintu.

Karena kurang tidur dan tak pernah berhenti dilanda stres, Mike merasa hancur oleh tanggung jawab dalam hidupnya. Saat itu jam dua pagi. Adik-adiknya meringkuk di bawah sehelai selimut di lantai. Michelle, bayi terkecil, sedang menangis, tapi Mike tak punya makanan untuknya. Anak yang menanggung beban diam-diam selama sekian tahun itu tiba-tiba putus asa.

Dengan terhuyung-huyung melangkah ke jendela dengan putus asa, Mike berdiri di pinggir, mempersiapkan diri untuk melompat. Dalam hati ia meminta keluarganya untuk memaafkannya, ia memejamkan mata dan menghela napas panjang yang terakhir. Saat itu, seorang wanita di seberang jalan melihatnya dan mulai menjerit. Mike mundur dari pinggiran itu dan terjatuh di sudut, terisak. Sepanjang sisa malam itu, ia membuai bayi yang lapar itu dan berdoa meminta tolong.

Pertolongan datang beberapa hari kemudian di malam Thanksgiving 1993, tak lama sebelum ulang tahun Mike yang keenam. belas. Kelompok pertolongan yang ada di gereja mendirikan dapur kaki lima untuk memberi makan orang lapar, dan Mike membawa adik-adiknya ke sana untuk mendapatkan roti lapis gratis. Begitu terkesannya para relawan dengannya dan anak-anak yang sopan sehingga mereka mulai bertanya. Bendungan di dalam diri Mike akhirnya jebol dan kisahnya menyembur keluar.

Dalam beberapa hari, kelompok gereja bekerja untuk menemukan keluarga asuh permanen, tapi tak ada rumah asuh yang dapat mengambil ketujuh-tujuhnya. Muncul nasihat bahwa keluarga itu harus dipisahkan “untuk kebaikan mereka sendiri.” Mike menolak dengan gigih, mengancam akan menghilang kembali ke dalam rimba bersama anak-anak. Satu-satunya orang yang dapat dipercayainya yang akan menjaga keutuhan keluarganya adalah neneknya. Dengan enggan ia akhirnya menceritakan kehidupan mereka selama delapan tahun terakhir itu.

Karena kaget dan ngeri, Mabel Bradley segera setuju mengambil anak-anak itu, tapi sistem kesejahteraan sosial Los Amgeles County tidak setuju. Mabel berusia enam puluh enam, sudah pensiun, sementara kakek mereka menderita diabetes. Mana mungkin suami-istri Bradley ini mampu mengurus tujuh anak? Tapi Mike lebih tahu. la menyembunyikan anak-anak dan menolak menegosiasikan alternatif apa pun kecuali tinggal bersama kakek-neneknya. Akhirnya, para pekerja sosial dan pengadilan setuju, dan Mabel dan Otis Bradley bergembira karena mendapat izin permanen yang legal untuk mengurus anak-anak itu. Entah bagaimana, tapi setiap anak bertahan hidup dengan baik. Memang seperti mukjizat-dan juga kekuatan dan cinta Mike yang tak terperikan-menjaga keutuhan mereka.

Sejak itu Mabel kembali bekerja dan bersedia bolak-balik lebih dari 150 km setiap hari, sementara Otis merawat anak-anak. Mike mengambil pekerjaan sebanyak mungkin untuk membantu mendukung keluarganya, tapi meskipun ia pandai, berkemauan dan jujur, hanya pekerjaan berupah minimum yang tersedia. Lebih dari siapa pun, ia menyadari arti pendidikan dan berusaha mendapatkan ijazahnya.

Impiannya adalah suatu hari memulai perusahaan kecil yang dapat sekaligus mempekerjakan dan membina anak jalanan seperti dirinya yang tak memiliki pendidikan dasar dan keterampilan untuk bertahan di dunia kerja normal, tapi yang tak mau terpaksa kembali ke kehidupan jalanan karena tak bisa mendapatkan pekerjaan.

Mike juga membaktikan dirinya merangkul anak-anak kumuh lainnya melalui musiknya. Sebagai penyanyi dan pengarang lagu yang berbakat, ia menulis musik rap inspirasional dengan pesan penuh harapannya yang unik. Setelah melihat begitu banyak anak mati dalam hidupnya yang masih muda, ia sangat ingin meraih mereka yang masih hidup. “Bertahan hidup memang tidak mudah, tapi itu bisa terjadi, dan kita harus menyampaikan pesan itu. jika seribu orang mendengarku. dan dua anak tidak tertembak, tidak menjual obat, dan. tidak mati, berarti kita berhasil.”

Tapi sekarang hanya sedikit waktu yang dimilikinya untuk menyanyi, karena Mike dan keluarganya masih berjuang. Tapi Raf, Amber, dan Chloe kini mengikuti jejak Mike untuk ikut menyumbangkan tenaga di rumah. Mereka adalah tiga bayi jalanan tertua yang dibesarkan Mike–dan diajarkan hidup dengan keberanian dan harapan.

Mereka ingat dengan baik semua perkataan Mike, yang dibisikkan kepada mereka berulang-ulang di saat-saat sulit, selama mereka berpindah-pindah, saat setiap kali mereka harus meninggalkan segalanya: “Apa pun yang kaumiliki, bersyukurlah! Bahkan kau tak memiliki apa-apa, bersyukurlah karena kau masih hidup! Percayalah pada dirimu sendiri. Tak ada yang akan mencegahmu. Milikilah tujuan. Bertahanlah!”

Mike Powell akan memiliki perusahaan untuk anak jalanan kelak. Dan kelak pun akan ada waktu untuk mewujudkan sernua impiannya. Lagi pula, Mike kan baru sembilan belas tahun.

Paula McDonald

(chicken soup for the teenage soul II)

Hero of the Hood

By all odds, Mike Powell should never have survived. Addiction, drug pushing, prison or early death is the most likely cards dealt to street kids growing up in the “jungle” of south central Los Angeles- a violent combat zone of drug wars, gang slaying, prostitution and crime. But Mike’s young life had a special purpose. For eight years he braved terror and brutalization to keep his family of 7 kids together. Incredibly during that time no one ever discovered that the only real parent the family had was just another kid.

When mike was born his father Fonso was in prison for drug dealing. Mike’s 15-year-old mother Cheryl dropped out of school to support the baby. “With out you my life could have been different” she later told mike over and over. It was the guilty glue that would make mike stick with her through the coming years of horror.

Fonso was released from prison when mike was 4 but instead of security 6-foot 5, 300-pound Vietnam vet brought a new kind of fear into mike’s life. Fonso had severe psychological problems and his discipline was harrowing. For minor infractions such as slamming a door he forced mike to do push-ups for hours. If the little boy collapsed his father would beat him. So fanatical was Fonso ‘s insistence on school attendance that Cheryl had to hide mike in a closet when he was sick.

Perhaps it was dark premonition that drove fonso to toughen up his young son and teach himself reliance far beyond his years. Mike was barley 8 when his father was murdered in a run-in with drug dealers.

Overnight the protection and income Fonso had provided were gone. It was back to the street for 24 year old Cheryl who now had 3 kids. Mike, Raf age 4 and amber 1 year. Life was bitterly hard and another baby on the way.

It wasn’t long before Cheryl brought home Marcel a cocaine addict who terrorized the family even more than fonso had. When mike innocently questioned what Marcel had done with cherry’s wages as a transit worker, Marcel broke the little boy’s jaw so badly it had to be wired back in place.

Marcel soon got Cheryl hooked on cocaine and the two would disappear on drug binges at first leaving the children locked in a closet but eventually just leaving them alone for weeks at a time. Cheryl had convinced mike that if anyone found out what was happening the children would be separated and sent to foster homes. Remembering his father’s fierce admonitions to “be a man” the eight-year-old became consumed by the need to keep his family together no matter what.

To make sure no one suspected anything mike began cleaning the apartment himself doing laundry by hand and keeping his sisters fed, diapered and immaculate. He scavenged junk shops for hair brushes, bottles and clothes whatever they could afford and covered up for his mothers absences with an endless litany of excuses. Cheryl and Marcel were soon burning through everything the family had in order to buy crack even money for rent and the children’s food. When their money situations became desperate mike quietly quit elementary school at 9 to support the family himself. He cleaned yards, unload trucks and stocked liquor stores, always working before dawn or late at night so the smaller wouldn’t be alone while awake.

As Cheryl and Marcel’s drug binges and absences became longer and more frequent their brief returns became more violent. Sinking deeper into addiction Cheryl would simply would abandon Marcel when his drugs ran out and hook up with someone who was better supplied. A crazed Marcel would then rampage through the slum apartment torturing and terrorizing the children for information about where more money was hidden or where he could find their mother.

One night Marcel put mike’s 2-year-old sister in a plastic bag and held it closed. Without air the toddler’s eyes were bulging and she was turning blue. “Where’s your mother? ” the addict screamed, Sobbing mike and little 5 year old Raf threw themselves at Marcel again and again beating on his back with small ineffectual fists. In desperation mike finally sank his teeth into Marcel’s neck praying the savage tormentor would drop the plastic bag and pick on him instead. It worked. Marcel wheeled and threw mike through the window cutting him with shattered glass and breaking his arm.

Cheryl’s parent’s Mabel and Otis Bradley loved their grandchildren deeply, but they worked long hours and lived a difficult multiple bus commute away and could see them only rarely. Sensing the family was struggling Mabel sent clothes and diapers never dreaming that Cheryl was selling the diapers, for drug money. Although Mabel’s constant phone calls and unconditional love became Mike’s only anchor of support he didn’t dare tell her that anything was wrong. He feared his gentle Grandmother would have a heart attack if she learned the truth or worse a violent confrontation with Marcel.

The family was forced to move constantly sleeping in Movie Theater’s, abandoned cars and even fresh crime scenes at times. Mike washed their clothes in public restrooms and cooked on a single burner hot plate. Eventually Cheryl and Marcel always caught up with them.

Despite the moves mike insisted the younger kids attend school, get good grades and be model citizens. To classmates, teachers and even their grandmother the children always seemed normal, well groomed and happy. No one could have imagined how they lived or that another child was raising them. Somehow Mike had managed to sort through the good intentions but brutal methods of his father and blend them with the loving example of his grandmother to form a unique value system. He loved his family deeply and in return the children loved, trusted and believed in him. “You don’t have to end up on the street” he told them. ” See what mom’s like? Stay off drugs!” secretly he was terrified that his mother would one day O.D in front of them.

Over the next few years Cheryl was repeatedly for possession and sale of narcotics and other crimes and was sometimes gone for up to a year at a time. Out of jail she continued to have more children making the family’s financial situation increasingly critical. Hard as mike tried it was becoming impossible for him to care for 3 new babies and support a family of 7 kids at the same time. One Christmas there was only a can of corn and a box of macaroni and cheese for all of them to share. Their only toys for the past year had a single McDonald’s happy meal figure for each child. For presents mike had the children wrap the figurine in newspaper and exchange them. It was one of their best Christmases.

The younger teenager now lived in constant anxiety but still refused to fall into the easier world of drug dealing and crime. Instead he braved the dangerous streets late at night selling doctored macadamia nuts which to half-crazed addict looked like 30 dollars crack- cocaine “rocks”. He knew he risked his life every time he took such chances but he felt he had few choices. In the nightly siege or gang and drug warfare the odds were against him though. By age 15 mike had been sot 8 times.

Worse his reserves of strength and hope were running dangerously low. For as long as he could remember he had live with relentless daily fears: will we be able to eat today? Will we all be on the street tonight? Will Marcel show up tomorrow?

And after more than 40 moves it seemed they had finally hit rock bottom. ” Home” was now the frontier hotel a filthy dive on skid row where pimps and prostitutes stalked the halls and drug deals went down on the stairways. The kids had watched a murder in the lobby and mike was now afraid to leave them alone or to sleep. For the few nights they had been there he had stayed up with a baseball bat to kill rats as they crawled under the door.

Sleep deprived and over whelmed by stress mike felt crushed by the responsibilities of his life. It was 2 am. His brother and sisters were huddled under a single blanket on the floor. Michelle the youngest baby was crying but he had no food for her. The boy who had shouldered his secret burden for so many years suddenly lost hope.

Stumbling to the window in despair mike stood at the edge steeling himself to jump. Silently asking his family to forgive him he closed his eyes and took a last deep breath. Just then a woman across the street spotted him and began screaming. Mike reeled back from the edge and fell into a corner, sobbing. For the rest of the night he rocked the hungry baby and prayed for help.

It came a few days later on the eve of Thanksgiving 1993 shortly before mike’s 16th birthday. A church outreach group had set up a sidewalk kitchen nearby to feed the hungry and mike took the children there for free sandwiches. So impressed were the volunteers with him and the polite youngsters that they began asking gentle questions. A dam deep inside mike finally broke and his story spilled out.

Within days the church group was at work trying to find the family permanent shelter but no single foster home could take all 7 children. Advised that the family would have to be separated for their own good” mike adamantly refused threatening to disappear back into the jungle with the kids. The only person he trusted to keep the family together was his grandmother. Reluctantly he finally told her of their life for the past 8 years.

Stunned and horrified Mabel Bradley immediately agreed to take the children but the Los Angeles county social welfare system balked Mabel was 66 retired and the children’s grandfather was diabetic. How could the Bradley possibly cope with 7 youngsters? But mike knew better. He hid the children and refused to negotiatiate any alternative except his grandparents. Finally the social workers and courts agreed and an ecstatic Mabel and Otis Bradley were granted permanent custody of the children. Somehow every child had survived unscathed. Nothing short of miracles it seemed and Mike unfathomable strength and love- had kept them together.

Mabel has since returned to work and now willingly commutes more than 100 miles away, while Otis cares for the children. Mike works, as many jobs as he can to help support the family but smart willing and honest as he is only minimum wage jobs are available. More than anyone he realizes the value of an education and is working on his GED.

His dream is to someday start a small company that can simultaneously employ the counsel street kids like himself who are without the traditional education. And skills to make it in a normal work world but who don’t want to be forced back to street life because they can’t find work.

Mike also dedicated to reaching other inner city kids through his music. A talented singer and songwriter, he wrote inspirational rap with his own unique message of hope. Having seen so many kids die in his young life he wants desperately to reach those who might live. “Surviving is against the odds but it happens and we have to get that message out. If a thousand people hear me and 2 kids don’t get shot, don’t deal, don’t die then we’ve done something.”

There is little time to sing right now though for Mike and his family are still struggling themselves. But Raf, Amber and Chloe are now stepping proudly into Mikes’ big shoes to do their part at home. They are the 3 oldest street babies he raised and taught to live with courage and hope.

The remember well all of Mike’s words, whispered fiercely to them over and over during the bad times, during the many moves when each time they had to leave every thing behind: ” whatever you have be grateful for it! Even if you’ve got nothing. Be grateful you’re alive! Believe in yourself. Nobody is stopping you. Have a goal. “Survive!”

Mike Powell will have his company for street kids someday. And there will be time later for the rest of his dreams too. Mike is, after all only Nineteen.

Paula McDonald

(chicken soup for the teenage soul II)

This article is written in Bahasa Indonesia. The original essay in english language follows.

Berjuang untuk Hidup

Kalau dipikir-pikir, Mike Powell mestinya tidak selamat. Kecanduan, menjadi pengedar obat-obatan, penjara, atau kematian adalah nasib yang biasanya menimpa anak jalanan di “rimba” South-Central Los Angeles-arena kejam untuk perang obat, pembunuhan geng, pelacuran, dan kejahatan. Tapi, kehidupan Mike kecil memiliki tujuan istimewa. Selama delapan tahun ia tabah menghadapi teror dan kebrutalan untuk mempertahankan keluarganya yang beranak tujuh. Hebatnya, selama masa itu, tak ada orang yang tahu bahwa orangtua yang sesungguhnya dalam keluarga itu hanyalah seorang anak.

Waktu Mike lahir, ayahnya, Fonso, dipenjarakan karena mengedarkan obat. Ibu Mike, Cheryl, yang berusia lima belas tahun, keluar dari sekolah untuk menafkahi bayinya. “Tanpa kau, kehidupanku tak akan begini,” begitu katanya pada Mike berkali-kali. Perasaan bersalah inilah yang membuat Mike tetap mendampinginya. selama tahun-tahun yang menyeramkan.

Fonso dibebaskan dari penjara saat Mike berusia empat tahun, tapi bukannya kearnanan yang dibawa veteran Vietnam setinggi 195 cm dengan berat 135 kg ini, melainkan rasa takut baru dalam kehidupan Mike. Fonso mengidap masalah psikologis yang parah, dan sikap disiplinnya mengkhawatirkan. Untuk kesalahan ringan, seperti menutup pintu terlalu keras, ia memaksa Mike melakukan pushup berjarn-jam. Kalau anak kecil itu tak tahan lagi, ayahnya memukulnya. Begitu fanatiknya pendirian Fonso mengenai pergi bersekolah, sehingga Cheryl harus menyembunyikan Mike di lemari kalau anak itu sakit.

Mungkin ada firasat buruk yang mendorong Fonso untuk bersikap keras pada anaknya dan mengajarinya supaya dapat mengandalkan diri sendiri jauh sebelum waktunya. Mike baru delapan tahun saat ayahnya dibunuh dalam perkelahian dengan seorang pengedar obat.

Dalam semalam, perlindungan dan nafkah yang disediakan Fonso lenyap. Artinya, Cheryl yang berusia dua puluh empat tahun harus kembali lagi ke jalanan, dan sekarang ia dibebani tiga anak: Mike; Raf, empat tahun; dan Amber, satu tahun. Hidup mereka sulit dan pahit, dan ada seorang anak lagi yang akan lahir.

Tak lama kemudian Cheryl membawa pulang Marcel, pecandu kokain yang menteror keluarga itu lebih parah daripada Fonso. Saat Mike dengan lugu menanyakan apa yang dilakukan Marcel terhadap upah Cheryl sebagai pekerja transit, Marcel mematahkan rahang anak itu sehingga harus diberi kawat untuk membetulkan letaknya.

Tak lama kemudian Marcel membuat Cheryl kecanduan kokain, dan keduanya akan tenggelam dalam pengaruh minuman keras. Mula-mula mereka mengunci anak-anak di lemari, tapi pada akhirnya hanya meninggalkan mereka sendirian, setiap kali selama berminggu-minggu. Cheryl meyakinkan Mike bahwa jika ada orang yang tahu apa yang terjadi, anak-anak akan terpisah dan dikirim ke rumah asuh. Mengingat pesan ayahnya yang galak agar ia menjadi “lelaki,” anak berusia delapan tahun itu menjadi sangat memperhatikan perlunya menjaga keutuhan keluarganya, apa pun yang terjadi.

Agar tak ada orang yang curiga, Mike mulai membersihkan apartemennya sendiri, mencuci pakaian dengan tangan, memberi makan, mengganti popok, dan memandikan adik-adiknya. Ia menjadi pemulung di toko kelontong untuk mendapatkan sisir, botol, dan pakaian, apa pun yang mampu mereka beli, dan menyembunyikan ketidak-hadiran ibunya dengan berbagai dalih. Cheryl dan Marcel tidak ragu-ragu menjual semua barang keluarga untuk membeli kokain-bahkan uang untuk biaya sewa rumah dan makanan anak-anak pun mereka gunakan. Saat situasi keuangan menjadi sangat memprihatinkan, Mike diam-diam berhenti sekolah pada usia sembilan tahun untuk menafkahi keluarganya sendiri. la membersihkan halaman, mengangkut barang dari truk dan toko minuman, selalu bekerja sebelum subuh atau di malam hari supaya adik-adiknya tidak sendirian saat mereka bangun.

Dengan bertambah lama dan bertambah parahnya kecanduan minuman keras dan semakin seringnya Cheryl dan Marcel tidak ada, maka saat mereka ada, mereka semakin kasar. Sedemikian parah kecanduannya sehingga Cheryl meninggalkan Marcel saat obat milik Marcel habis. Cheryl kemudian berteman dengan orang yang punya lebih banyak obat. Marcel yang berang melampiaskan amarahnya di apartemen kumuh itu, menyiksa dan menteror anak-anak supaya mereka memberitahukan tempat penyembunyian uang atau tempat ibu mereka berada.

Suatu malam, Marcel memasukkan adik Mike yang berusia dua tahun ke dalam kantong plastik dan menutupnya erat-erat. Tanpa udara, mata balita itu melotot dan kulitnya membiru. “Di mana ibumu?” seru pecandu itu. Sambil menangis, Mike dan Raf cilik berusia lima tahun menyerang Marcel berulang-ulang, memukul punggungnya dengan kepalan yang kecil dan tidak berarti. Karena marahnya, Mike akhirnya mengigit leher Marcel, sambil berharap agar si penyiksa kejam itu. melepaskan kantong plastik itu dan ganti memukulnya. Rencananya berhasil Martel berputar dan melemparkan Mike ke jendela, membuatnya terluka kena kepingan kaca dan tangannya patah.

Orangtua Cheryl, Mabel dan Otis Bradley, sangat mencintai cucu-cucu mereka, tapi mereka bekerja sepanjang hari dan tinggal di tempat yang hanya bisa dicapai dengan berganti bus beberapa kali, dan hanya dapat menjenguk sekali-sekali. Karena merasakan bahwa keluarga itu dalam kesulitan, Mabel mengirim mainan, pakaian, dan popok, dan tak pernah menduga bahwa popok pun dijual oleh Cheryl untuk membeli obat. Meskipun Mabel selalu bisa dihubungi melalui telepon dan menyediakan cinta tanpa pamrih sehingga menjadi satu-satunya jangkar bagi Mike, Mike tidak berani menceritakan masalah yang dihadapinya. Ia takut neneknya yang lembut akan mendapat serangan jantung jika tahu keadaan sesungguhnya-atau lebih buruk, dikasari oleh Marcel

Keluarga ini terpaksa selalu berpindah-pindah, tidur di bioskop, di dalam mobil rongsokan, dan bahkan di tempat kejahatan. Mike mencuci pakaian mereka di toilet umurn dan memasak dengan piring pemanas berapi tunggal. Pada akhirnya, Cheryl dan Marcel selalu berhasil menemukan mereka.

Meskipun berpindah-pindah, Mike bersikeras agar adik-adiknya bersekolah, mendapat nilai baik, dan menjadi warga teladan. Bagi teman sekelas, guru, dan bahkan nenek mereka, anak-anak itu selalu tampak normal, dirawat dengan baik, dan bahagia. Tak ada yang menyangka bagaimana hidup mereka atau bahwa mereka dibesarkan oleh seorang anak. Entah bagaimana Mike bisa berhasil menganut niat baik dari ayahnya yang galak dan memadukannya dengan teladan kasih neneknya, sehingga dalam dirinya terbentuk sistem nilai yang unik. Ia sangat mencintai keluarganya, dan adik-adiknya mempercayai dirinya. “Kau tak harus berakhir di jalanan,” katanya kepada mereka. “Lihat bagaimana Ibu? Jangan memakai obat!” Diam-diam ia takut kalau-kalau ibunya suatu hari menggelepar keracunan obat di depan mereka.

Selama beberapa tahun berikutnya, Cheryl sering dipenjara karena memiliki dan menjual narkotika dan melakukan kejahatan lain, dan kadang-kadang dipenjarakan hingga setahun. Di luar penjara, ia terus melahirkan anak-anak lagi, membuat situasi keuangan keluarga ini semakin kritis. Sekuat apa pun Mike mencoba, menjadi tak mungkin baginya merawat tiga bayi baru dan menafkahi keluarga dengan tujuh anak sekaligus. Pada suatu Natal, mereka hanya bisa berbagi sekaleng jagung dan sekotak makaroni dan keju. Satu-satunya mainan mereka selama tahun itu adalah satu boneka Happy Meal McDonald’s untuk setiap anak. Untuk kado, Mike menyuruh anak-anak membungkus bonekanya dengan kertas koran dan bertukaran. Itu salah satu Natal yang mendingan.

Mike sekarang remaja muda yang hidup selalu dalam kecemasan, tapi tetap menolak terjerumus; dalam dunia pengedar obat dan kejahatan yang lebih mudah dijalani. Malahan secara tabah, ia berjalan di jalanan berbahaya di larut malam menjual kacang makademia yang diolah lagi yang, bagi pecandu yang setengah gila, tampak seperti “batu” kokain seharga tiga puluh dolar. la tahu ia mempertaruhkan nyawanya setiap kali mengadu nasib seperti itu, tapi ia merasa tak punya banyak pilihan. Dengan pertarungan geng dan perang obat setiap malam, peruntungannya tidak terlalu baik. Pada usia lima belas tahun, Mike sudah pernah tertembak delapan kali.

Lebih buruk lagi, persediaan tenaga dan harapannya sekarang semakin rendah. Sepanjang ingatannya, ia hidup dengan rasa takut setiap hari yang tak pernah habis: Bisakah kami makan hari ini? Apakah kami akan di jalanan malam ini? Apakah Marcel akan muncul besok?

Dan setelah pindah lebih dari empat puluh kali, tampaknya mereka sudah mencapai keadaan paling parah. “Rumah mereka sekarang adalah Hotel Frontier, tempat kotor di Skid Row, tempat mucikari dan pelacur memenuhi koridor dan penjualan obat terjadi di tangga. Anak-anak pernah melihat pembunuhan di lobi, dan Mike sekarang takut meninggalkan mereka sendiri untuk tidur. Selama beberapa malam mereka di sana, ia berjaga dengan pemukul bisbol untuk membunuh tikus yang masuk lewat celah pintu.

Karena kurang tidur dan tak pernah berhenti dilanda stres, Mike merasa hancur oleh tanggung jawab dalam hidupnya. Saat itu jam dua pagi. Adik-adiknya meringkuk di bawah sehelai selimut di lantai. Michelle, bayi terkecil, sedang menangis, tapi Mike tak punya makanan untuknya. Anak yang menanggung beban diam-diam selama sekian tahun itu tiba-tiba putus asa.

Dengan terhuyung-huyung melangkah ke jendela dengan putus asa, Mike berdiri di pinggir, mempersiapkan diri untuk melompat. Dalam hati ia meminta keluarganya untuk memaafkannya, ia memejamkan mata dan menghela napas panjang yang terakhir. Saat itu, seorang wanita di seberang jalan melihatnya dan mulai menjerit. Mike mundur dari pinggiran itu dan terjatuh di sudut, terisak. Sepanjang sisa malam itu, ia membuai bayi yang lapar itu dan berdoa meminta tolong.

Pertolongan datang beberapa hari kemudian di malam Thanksgiving 1993, tak lama sebelum ulang tahun Mike yang keenam. belas. Kelompok pertolongan yang ada di gereja mendirikan dapur kaki lima untuk memberi makan orang lapar, dan Mike membawa adik-adiknya ke sana untuk mendapatkan roti lapis gratis. Begitu terkesannya para relawan dengannya dan anak-anak yang sopan sehingga mereka mulai bertanya. Bendungan di dalam diri Mike akhirnya jebol dan kisahnya menyembur keluar.

Dalam beberapa hari, kelompok gereja bekerja untuk menemukan keluarga asuh permanen, tapi tak ada rumah asuh yang dapat mengambil ketujuh-tujuhnya. Muncul nasihat bahwa keluarga itu harus dipisahkan “untuk kebaikan mereka sendiri.” Mike menolak dengan gigih, mengancam akan menghilang kembali ke dalam rimba bersama anak-anak. Satu-satunya orang yang dapat dipercayainya yang akan menjaga keutuhan keluarganya adalah neneknya. Dengan enggan ia akhirnya menceritakan kehidupan mereka selama delapan tahun terakhir itu.

Karena kaget dan ngeri, Mabel Bradley segera setuju mengambil anak-anak itu, tapi sistem kesejahteraan sosial Los Amgeles County tidak setuju. Mabel berusia enam puluh enam, sudah pensiun, sementara kakek mereka menderita diabetes. Mana mungkin suami-istri Bradley ini mampu mengurus tujuh anak? Tapi Mike lebih tahu. la menyembunyikan anak-anak dan menolak menegosiasikan alternatif apa pun kecuali tinggal bersama kakek-neneknya. Akhirnya, para pekerja sosial dan pengadilan setuju, dan Mabel dan Otis Bradley bergembira karena mendapat izin permanen yang legal untuk mengurus anak-anak itu. Entah bagaimana, tapi setiap anak bertahan hidup dengan baik. Memang seperti mukjizat-dan juga kekuatan dan cinta Mike yang tak terperikan-menjaga keutuhan mereka.

Sejak itu Mabel kembali bekerja dan bersedia bolak-balik lebih dari 150 km setiap hari, sementara Otis merawat anak-anak. Mike mengambil pekerjaan sebanyak mungkin untuk membantu mendukung keluarganya, tapi meskipun ia pandai, berkemauan dan jujur, hanya pekerjaan berupah minimum yang tersedia. Lebih dari siapa pun, ia menyadari arti pendidikan dan berusaha mendapatkan ijazahnya.

Impiannya adalah suatu hari memulai perusahaan kecil yang dapat sekaligus mempekerjakan dan membina anak jalanan seperti dirinya yang tak memiliki pendidikan dasar dan keterampilan untuk bertahan di dunia kerja normal, tapi yang tak mau terpaksa kembali ke kehidupan jalanan karena tak bisa mendapatkan pekerjaan.

Mike juga membaktikan dirinya merangkul anak-anak kumuh lainnya melalui musiknya. Sebagai penyanyi dan pengarang lagu yang berbakat, ia menulis musik rap inspirasional dengan pesan penuh harapannya yang unik. Setelah melihat begitu banyak anak mati dalam hidupnya yang masih muda, ia sangat ingin meraih mereka yang masih hidup. “Bertahan hidup memang tidak mudah, tapi itu bisa terjadi, dan kita harus menyampaikan pesan itu. jika seribu orang mendengarku. dan dua anak tidak tertembak, tidak menjual obat, dan. tidak mati, berarti kita berhasil.”

Tapi sekarang hanya sedikit waktu yang dimilikinya untuk menyanyi, karena Mike dan keluarganya masih berjuang. Tapi Raf, Amber, dan Chloe kini mengikuti jejak Mike untuk ikut menyumbangkan tenaga di rumah. Mereka adalah tiga bayi jalanan tertua yang dibesarkan Mike–dan diajarkan hidup dengan keberanian dan harapan.

Mereka ingat dengan baik semua perkataan Mike, yang dibisikkan kepada mereka berulang-ulang di saat-saat sulit, selama mereka berpindah-pindah, saat setiap kali mereka harus meninggalkan segalanya: “Apa pun yang kaumiliki, bersyukurlah! Bahkan kau tak memiliki apa-apa, bersyukurlah karena kau masih hidup! Percayalah pada dirimu sendiri. Tak ada yang akan mencegahmu. Milikilah tujuan. Bertahanlah!”

Mike Powell akan memiliki perusahaan untuk anak jalanan kelak. Dan kelak pun akan ada waktu untuk mewujudkan sernua impiannya. Lagi pula, Mike kan baru sembilan belas tahun.

Paula McDonald

(chicken soup for the teenage soul II)

Hero of the Hood

By all odds, Mike Powell should never have survived. Addiction, drug pushing, prison or early death is the most likely cards dealt to street kids growing up in the “jungle” of south central Los Angeles- a violent combat zone of drug wars, gang slaying, prostitution and crime. But Mike’s young life had a special purpose. For eight years he braved terror and brutalization to keep his family of 7 kids together. Incredibly during that time no one ever discovered that the only real parent the family had was just another kid.

When mike was born his father Fonso was in prison for drug dealing. Mike’s 15-year-old mother Cheryl dropped out of school to support the baby. “With out you my life could have been different” she later told mike over and over. It was the guilty glue that would make mike stick with her through the coming years of horror.

Fonso was released from prison when mike was 4 but instead of security 6-foot 5, 300-pound Vietnam vet brought a new kind of fear into mike’s life. Fonso had severe psychological problems and his discipline was harrowing. For minor infractions such as slamming a door he forced mike to do push-ups for hours. If the little boy collapsed his father would beat him. So fanatical was Fonso ‘s insistence on school attendance that Cheryl had to hide mike in a closet when he was sick.

Perhaps it was dark premonition that drove fonso to toughen up his young son and teach himself reliance far beyond his years. Mike was barley 8 when his father was murdered in a run-in with drug dealers.

Overnight the protection and income Fonso had provided were gone. It was back to the street for 24 year old Cheryl who now had 3 kids. Mike, Raf age 4 and amber 1 year. Life was bitterly hard and another baby on the way.

It wasn’t long before Cheryl brought home Marcel a cocaine addict who terrorized the family even more than fonso had. When mike innocently questioned what Marcel had done with cherry’s wages as a transit worker, Marcel broke the little boy’s jaw so badly it had to be wired back in place.

Marcel soon got Cheryl hooked on cocaine and the two would disappear on drug binges at first leaving the children locked in a closet but eventually just leaving them alone for weeks at a time. Cheryl had convinced mike that if anyone found out what was happening the children would be separated and sent to foster homes. Remembering his father’s fierce admonitions to “be a man” the eight-year-old became consumed by the need to keep his family together no matter what.

To make sure no one suspected anything mike began cleaning the apartment himself doing laundry by hand and keeping his sisters fed, diapered and immaculate. He scavenged junk shops for hair brushes, bottles and clothes whatever they could afford and covered up for his mothers absences with an endless litany of excuses. Cheryl and Marcel were soon burning through everything the family had in order to buy crack even money for rent and the children’s food. When their money situations became desperate mike quietly quit elementary school at 9 to support the family himself. He cleaned yards, unload trucks and stocked liquor stores, always working before dawn or late at night so the smaller wouldn’t be alone while awake.

As Cheryl and Marcel’s drug binges and absences became longer and more frequent their brief returns became more violent. Sinking deeper into addiction Cheryl would simply would abandon Marcel when his drugs ran out and hook up with someone who was better supplied. A crazed Marcel would then rampage through the slum apartment torturing and terrorizing the children for information about where more money was hidden or where he could find their mother.

One night Marcel put mike’s 2-year-old sister in a plastic bag and held it closed. Without air the toddler’s eyes were bulging and she was turning blue. “Where’s your mother? ” the addict screamed, Sobbing mike and little 5 year old Raf threw themselves at Marcel again and again beating on his back with small ineffectual fists. In desperation mike finally sank his teeth into Marcel’s neck praying the savage tormentor would drop the plastic bag and pick on him instead. It worked. Marcel wheeled and threw mike through the window cutting him with shattered glass and breaking his arm.

Cheryl’s parent’s Mabel and Otis Bradley loved their grandchildren deeply, but they worked long hours and lived a difficult multiple bus commute away and could see them only rarely. Sensing the family was struggling Mabel sent clothes and diapers never dreaming that Cheryl was selling the diapers, for drug money. Although Mabel’s constant phone calls and unconditional love became Mike’s only anchor of support he didn’t dare tell her that anything was wrong. He feared his gentle Grandmother would have a heart attack if she learned the truth or worse a violent confrontation with Marcel.

The family was forced to move constantly sleeping in Movie Theater’s, abandoned cars and even fresh crime scenes at times. Mike washed their clothes in public restrooms and cooked on a single burner hot plate. Eventually Cheryl and Marcel always caught up with them.

Despite the moves mike insisted the younger kids attend school, get good grades and be model citizens. To classmates, teachers and even their grandmother the children always seemed normal, well groomed and happy. No one could have imagined how they lived or that another child was raising them. Somehow Mike had managed to sort through the good intentions but brutal methods of his father and blend them with the loving example of his grandmother to form a unique value system. He loved his family deeply and in return the children loved, trusted and believed in him. “You don’t have to end up on the street” he told them. ” See what mom’s like? Stay off drugs!” secretly he was terrified that his mother would one day O.D in front of them.

Over the next few years Cheryl was repeatedly for possession and sale of narcotics and other crimes and was sometimes gone for up to a year at a time. Out of jail she continued to have more children making the family’s financial situation increasingly critical. Hard as mike tried it was becoming impossible for him to care for 3 new babies and support a family of 7 kids at the same time. One Christmas there was only a can of corn and a box of macaroni and cheese for all of them to share. Their only toys for the past year had a single McDonald’s happy meal figure for each child. For presents mike had the children wrap the figurine in newspaper and exchange them. It was one of their best Christmases.

The younger teenager now lived in constant anxiety but still refused to fall into the easier world of drug dealing and crime. Instead he braved the dangerous streets late at night selling doctored macadamia nuts which to half-crazed addict looked like 30 dollars crack- cocaine “rocks”. He knew he risked his life every time he took such chances but he felt he had few choices. In the nightly siege or gang and drug warfare the odds were against him though. By age 15 mike had been sot 8 times.

Worse his reserves of strength and hope were running dangerously low. For as long as he could remember he had live with relentless daily fears: will we be able to eat today? Will we all be on the street tonight? Will Marcel show up tomorrow?

And after more than 40 moves it seemed they had finally hit rock bottom. ” Home” was now the frontier hotel a filthy dive on skid row where pimps and prostitutes stalked the halls and drug deals went down on the stairways. The kids had watched a murder in the lobby and mike was now afraid to leave them alone or to sleep. For the few nights they had been there he had stayed up with a baseball bat to kill rats as they crawled under the door.

Sleep deprived and over whelmed by stress mike felt crushed by the responsibilities of his life. It was 2 am. His brother and sisters were huddled under a single blanket on the floor. Michelle the youngest baby was crying but he had no food for her. The boy who had shouldered his secret burden for so many years suddenly lost hope.

Stumbling to the window in despair mike stood at the edge steeling himself to jump. Silently asking his family to forgive him he closed his eyes and took a last deep breath. Just then a woman across the street spotted him and began screaming. Mike reeled back from the edge and fell into a corner, sobbing. For the rest of the night he rocked the hungry baby and prayed for help.

It came a few days later on the eve of Thanksgiving 1993 shortly before mike’s 16th birthday. A church outreach group had set up a sidewalk kitchen nearby to feed the hungry and mike took the children there for free sandwiches. So impressed were the volunteers with him and the polite youngsters that they began asking gentle questions. A dam deep inside mike finally broke and his story spilled out.

Within days the church group was at work trying to find the family permanent shelter but no single foster home could take all 7 children. Advised that the family would have to be separated for their own good” mike adamantly refused threatening to disappear back into the jungle with the kids. The only person he trusted to keep the family together was his grandmother. Reluctantly he finally told her of their life for the past 8 years.

Stunned and horrified Mabel Bradley immediately agreed to take the children but the Los Angeles county social welfare system balked Mabel was 66 retired and the children’s grandfather was diabetic. How could the Bradley possibly cope with 7 youngsters? But mike knew better. He hid the children and refused to negotiatiate any alternative except his grandparents. Finally the social workers and courts agreed and an ecstatic Mabel and Otis Bradley were granted permanent custody of the children. Somehow every child had survived unscathed. Nothing short of miracles it seemed and Mike unfathomable strength and love- had kept them together.

Mabel has since returned to work and now willingly commutes more than 100 miles away, while Otis cares for the children. Mike works, as many jobs as he can to help support the family but smart willing and honest as he is only minimum wage jobs are available. More than anyone he realizes the value of an education and is working on his GED.

His dream is to someday start a small company that can simultaneously employ the counsel street kids like himself who are without the traditional education. And skills to make it in a normal work world but who don’t want to be forced back to street life because they can’t find work.

Mike also dedicated to reaching other inner city kids through his music. A talented singer and songwriter, he wrote inspirational rap with his own unique message of hope. Having seen so many kids die in his young life he wants desperately to reach those who might live. “Surviving is against the odds but it happens and we have to get that message out. If a thousand people hear me and 2 kids don’t get shot, don’t deal, don’t die then we’ve done something.”

There is little time to sing right now though for Mike and his family are still struggling themselves. But Raf, Amber and Chloe are now stepping proudly into Mikes’ big shoes to do their part at home. They are the 3 oldest street babies he raised and taught to live with courage and hope.

The remember well all of Mike’s words, whispered fiercely to them over and over during the bad times, during the many moves when each time they had to leave every thing behind: ” whatever you have be grateful for it! Even if you’ve got nothing. Be grateful you’re alive! Believe in yourself. Nobody is stopping you. Have a goal. “Survive!”

Mike Powell will have his company for street kids someday. And there will be time later for the rest of his dreams too. Mike is, after all only Nineteen.

Paula McDonald

(chicken soup for the teenage soul II)

This article is written in Bahasa Indonesia. The original essay in english language follows.

Berjuang untuk Hidup

Kalau dipikir-pikir, Mike Powell mestinya tidak selamat. Kecanduan, menjadi pengedar obat-obatan, penjara, atau kematian adalah nasib yang biasanya menimpa anak jalanan di “rimba” South-Central Los Angeles-arena kejam untuk perang obat, pembunuhan geng, pelacuran, dan kejahatan. Tapi, kehidupan Mike kecil memiliki tujuan istimewa. Selama delapan tahun ia tabah menghadapi teror dan kebrutalan untuk mempertahankan keluarganya yang beranak tujuh. Hebatnya, selama masa itu, tak ada orang yang tahu bahwa orangtua yang sesungguhnya dalam keluarga itu hanyalah seorang anak.

Waktu Mike lahir, ayahnya, Fonso, dipenjarakan karena mengedarkan obat. Ibu Mike, Cheryl, yang berusia lima belas tahun, keluar dari sekolah untuk menafkahi bayinya. “Tanpa kau, kehidupanku tak akan begini,” begitu katanya pada Mike berkali-kali. Perasaan bersalah inilah yang membuat Mike tetap mendampinginya. selama tahun-tahun yang menyeramkan.

Fonso dibebaskan dari penjara saat Mike berusia empat tahun, tapi bukannya kearnanan yang dibawa veteran Vietnam setinggi 195 cm dengan berat 135 kg ini, melainkan rasa takut baru dalam kehidupan Mike. Fonso mengidap masalah psikologis yang parah, dan sikap disiplinnya mengkhawatirkan. Untuk kesalahan ringan, seperti menutup pintu terlalu keras, ia memaksa Mike melakukan pushup berjarn-jam. Kalau anak kecil itu tak tahan lagi, ayahnya memukulnya. Begitu fanatiknya pendirian Fonso mengenai pergi bersekolah, sehingga Cheryl harus menyembunyikan Mike di lemari kalau anak itu sakit.

Mungkin ada firasat buruk yang mendorong Fonso untuk bersikap keras pada anaknya dan mengajarinya supaya dapat mengandalkan diri sendiri jauh sebelum waktunya. Mike baru delapan tahun saat ayahnya dibunuh dalam perkelahian dengan seorang pengedar obat.

Dalam semalam, perlindungan dan nafkah yang disediakan Fonso lenyap. Artinya, Cheryl yang berusia dua puluh empat tahun harus kembali lagi ke jalanan, dan sekarang ia dibebani tiga anak: Mike; Raf, empat tahun; dan Amber, satu tahun. Hidup mereka sulit dan pahit, dan ada seorang anak lagi yang akan lahir.

Tak lama kemudian Cheryl membawa pulang Marcel, pecandu kokain yang menteror keluarga itu lebih parah daripada Fonso. Saat Mike dengan lugu menanyakan apa yang dilakukan Marcel terhadap upah Cheryl sebagai pekerja transit, Marcel mematahkan rahang anak itu sehingga harus diberi kawat untuk membetulkan letaknya.

Tak lama kemudian Marcel membuat Cheryl kecanduan kokain, dan keduanya akan tenggelam dalam pengaruh minuman keras. Mula-mula mereka mengunci anak-anak di lemari, tapi pada akhirnya hanya meninggalkan mereka sendirian, setiap kali selama berminggu-minggu. Cheryl meyakinkan Mike bahwa jika ada orang yang tahu apa yang terjadi, anak-anak akan terpisah dan dikirim ke rumah asuh. Mengingat pesan ayahnya yang galak agar ia menjadi “lelaki,” anak berusia delapan tahun itu menjadi sangat memperhatikan perlunya menjaga keutuhan keluarganya, apa pun yang terjadi.

Agar tak ada orang yang curiga, Mike mulai membersihkan apartemennya sendiri, mencuci pakaian dengan tangan, memberi makan, mengganti popok, dan memandikan adik-adiknya. Ia menjadi pemulung di toko kelontong untuk mendapatkan sisir, botol, dan pakaian, apa pun yang mampu mereka beli, dan menyembunyikan ketidak-hadiran ibunya dengan berbagai dalih. Cheryl dan Marcel tidak ragu-ragu menjual semua barang keluarga untuk membeli kokain-bahkan uang untuk biaya sewa rumah dan makanan anak-anak pun mereka gunakan. Saat situasi keuangan menjadi sangat memprihatinkan, Mike diam-diam berhenti sekolah pada usia sembilan tahun untuk menafkahi keluarganya sendiri. la membersihkan halaman, mengangkut barang dari truk dan toko minuman, selalu bekerja sebelum subuh atau di malam hari supaya adik-adiknya tidak sendirian saat mereka bangun.

Dengan bertambah lama dan bertambah parahnya kecanduan minuman keras dan semakin seringnya Cheryl dan Marcel tidak ada, maka saat mereka ada, mereka semakin kasar. Sedemikian parah kecanduannya sehingga Cheryl meninggalkan Marcel saat obat milik Marcel habis. Cheryl kemudian berteman dengan orang yang punya lebih banyak obat. Marcel yang berang melampiaskan amarahnya di apartemen kumuh itu, menyiksa dan menteror anak-anak supaya mereka memberitahukan tempat penyembunyian uang atau tempat ibu mereka berada.

Suatu malam, Marcel memasukkan adik Mike yang berusia dua tahun ke dalam kantong plastik dan menutupnya erat-erat. Tanpa udara, mata balita itu melotot dan kulitnya membiru. “Di mana ibumu?” seru pecandu itu. Sambil menangis, Mike dan Raf cilik berusia lima tahun menyerang Marcel berulang-ulang, memukul punggungnya dengan kepalan yang kecil dan tidak berarti. Karena marahnya, Mike akhirnya mengigit leher Marcel, sambil berharap agar si penyiksa kejam itu. melepaskan kantong plastik itu dan ganti memukulnya. Rencananya berhasil Martel berputar dan melemparkan Mike ke jendela, membuatnya terluka kena kepingan kaca dan tangannya patah.

Orangtua Cheryl, Mabel dan Otis Bradley, sangat mencintai cucu-cucu mereka, tapi mereka bekerja sepanjang hari dan tinggal di tempat yang hanya bisa dicapai dengan berganti bus beberapa kali, dan hanya dapat menjenguk sekali-sekali. Karena merasakan bahwa keluarga itu dalam kesulitan, Mabel mengirim mainan, pakaian, dan popok, dan tak pernah menduga bahwa popok pun dijual oleh Cheryl untuk membeli obat. Meskipun Mabel selalu bisa dihubungi melalui telepon dan menyediakan cinta tanpa pamrih sehingga menjadi satu-satunya jangkar bagi Mike, Mike tidak berani menceritakan masalah yang dihadapinya. Ia takut neneknya yang lembut akan mendapat serangan jantung jika tahu keadaan sesungguhnya-atau lebih buruk, dikasari oleh Marcel

Keluarga ini terpaksa selalu berpindah-pindah, tidur di bioskop, di dalam mobil rongsokan, dan bahkan di tempat kejahatan. Mike mencuci pakaian mereka di toilet umurn dan memasak dengan piring pemanas berapi tunggal. Pada akhirnya, Cheryl dan Marcel selalu berhasil menemukan mereka.

Meskipun berpindah-pindah, Mike bersikeras agar adik-adiknya bersekolah, mendapat nilai baik, dan menjadi warga teladan. Bagi teman sekelas, guru, dan bahkan nenek mereka, anak-anak itu selalu tampak normal, dirawat dengan baik, dan bahagia. Tak ada yang menyangka bagaimana hidup mereka atau bahwa mereka dibesarkan oleh seorang anak. Entah bagaimana Mike bisa berhasil menganut niat baik dari ayahnya yang galak dan memadukannya dengan teladan kasih neneknya, sehingga dalam dirinya terbentuk sistem nilai yang unik. Ia sangat mencintai keluarganya, dan adik-adiknya mempercayai dirinya. “Kau tak harus berakhir di jalanan,” katanya kepada mereka. “Lihat bagaimana Ibu? Jangan memakai obat!” Diam-diam ia takut kalau-kalau ibunya suatu hari menggelepar keracunan obat di depan mereka.

Selama beberapa tahun berikutnya, Cheryl sering dipenjara karena memiliki dan menjual narkotika dan melakukan kejahatan lain, dan kadang-kadang dipenjarakan hingga setahun. Di luar penjara, ia terus melahirkan anak-anak lagi, membuat situasi keuangan keluarga ini semakin kritis. Sekuat apa pun Mike mencoba, menjadi tak mungkin baginya merawat tiga bayi baru dan menafkahi keluarga dengan tujuh anak sekaligus. Pada suatu Natal, mereka hanya bisa berbagi sekaleng jagung dan sekotak makaroni dan keju. Satu-satunya mainan mereka selama tahun itu adalah satu boneka Happy Meal McDonald’s untuk setiap anak. Untuk kado, Mike menyuruh anak-anak membungkus bonekanya dengan kertas koran dan bertukaran. Itu salah satu Natal yang mendingan.

Mike sekarang remaja muda yang hidup selalu dalam kecemasan, tapi tetap menolak terjerumus; dalam dunia pengedar obat dan kejahatan yang lebih mudah dijalani. Malahan secara tabah, ia berjalan di jalanan berbahaya di larut malam menjual kacang makademia yang diolah lagi yang, bagi pecandu yang setengah gila, tampak seperti “batu” kokain seharga tiga puluh dolar. la tahu ia mempertaruhkan nyawanya setiap kali mengadu nasib seperti itu, tapi ia merasa tak punya banyak pilihan. Dengan pertarungan geng dan perang obat setiap malam, peruntungannya tidak terlalu baik. Pada usia lima belas tahun, Mike sudah pernah tertembak delapan kali.

Lebih buruk lagi, persediaan tenaga dan harapannya sekarang semakin rendah. Sepanjang ingatannya, ia hidup dengan rasa takut setiap hari yang tak pernah habis: Bisakah kami makan hari ini? Apakah kami akan di jalanan malam ini? Apakah Marcel akan muncul besok?

Dan setelah pindah lebih dari empat puluh kali, tampaknya mereka sudah mencapai keadaan paling parah. “Rumah mereka sekarang adalah Hotel Frontier, tempat kotor di Skid Row, tempat mucikari dan pelacur memenuhi koridor dan penjualan obat terjadi di tangga. Anak-anak pernah melihat pembunuhan di lobi, dan Mike sekarang takut meninggalkan mereka sendiri untuk tidur. Selama beberapa malam mereka di sana, ia berjaga dengan pemukul bisbol untuk membunuh tikus yang masuk lewat celah pintu.

Karena kurang tidur dan tak pernah berhenti dilanda stres, Mike merasa hancur oleh tanggung jawab dalam hidupnya. Saat itu jam dua pagi. Adik-adiknya meringkuk di bawah sehelai selimut di lantai. Michelle, bayi terkecil, sedang menangis, tapi Mike tak punya makanan untuknya. Anak yang menanggung beban diam-diam selama sekian tahun itu tiba-tiba putus asa.

Dengan terhuyung-huyung melangkah ke jendela dengan putus asa, Mike berdiri di pinggir, mempersiapkan diri untuk melompat. Dalam hati ia meminta keluarganya untuk memaafkannya, ia memejamkan mata dan menghela napas panjang yang terakhir. Saat itu, seorang wanita di seberang jalan melihatnya dan mulai menjerit. Mike mundur dari pinggiran itu dan terjatuh di sudut, terisak. Sepanjang sisa malam itu, ia membuai bayi yang lapar itu dan berdoa meminta tolong.

Pertolongan datang beberapa hari kemudian di malam Thanksgiving 1993, tak lama sebelum ulang tahun Mike yang keenam. belas. Kelompok pertolongan yang ada di gereja mendirikan dapur kaki lima untuk memberi makan orang lapar, dan Mike membawa adik-adiknya ke sana untuk mendapatkan roti lapis gratis. Begitu terkesannya para relawan dengannya dan anak-anak yang sopan sehingga mereka mulai bertanya. Bendungan di dalam diri Mike akhirnya jebol dan kisahnya menyembur keluar.

Dalam beberapa hari, kelompok gereja bekerja untuk menemukan keluarga asuh permanen, tapi tak ada rumah asuh yang dapat mengambil ketujuh-tujuhnya. Muncul nasihat bahwa keluarga itu harus dipisahkan “untuk kebaikan mereka sendiri.” Mike menolak dengan gigih, mengancam akan menghilang kembali ke dalam rimba bersama anak-anak. Satu-satunya orang yang dapat dipercayainya yang akan menjaga keutuhan keluarganya adalah neneknya. Dengan enggan ia akhirnya menceritakan kehidupan mereka selama delapan tahun terakhir itu.

Karena kaget dan ngeri, Mabel Bradley segera setuju mengambil anak-anak itu, tapi sistem kesejahteraan sosial Los Amgeles County tidak setuju. Mabel berusia enam puluh enam, sudah pensiun, sementara kakek mereka menderita diabetes. Mana mungkin suami-istri Bradley ini mampu mengurus tujuh anak? Tapi Mike lebih tahu. la menyembunyikan anak-anak dan menolak menegosiasikan alternatif apa pun kecuali tinggal bersama kakek-neneknya. Akhirnya, para pekerja sosial dan pengadilan setuju, dan Mabel dan Otis Bradley bergembira karena mendapat izin permanen yang legal untuk mengurus anak-anak itu. Entah bagaimana, tapi setiap anak bertahan hidup dengan baik. Memang seperti mukjizat-dan juga kekuatan dan cinta Mike yang tak terperikan-menjaga keutuhan mereka.

Sejak itu Mabel kembali bekerja dan bersedia bolak-balik lebih dari 150 km setiap hari, sementara Otis merawat anak-anak. Mike mengambil pekerjaan sebanyak mungkin untuk membantu mendukung keluarganya, tapi meskipun ia pandai, berkemauan dan jujur, hanya pekerjaan berupah minimum yang tersedia. Lebih dari siapa pun, ia menyadari arti pendidikan dan berusaha mendapatkan ijazahnya.

Impiannya adalah suatu hari memulai perusahaan kecil yang dapat sekaligus mempekerjakan dan membina anak jalanan seperti dirinya yang tak memiliki pendidikan dasar dan keterampilan untuk bertahan di dunia kerja normal, tapi yang tak mau terpaksa kembali ke kehidupan jalanan karena tak bisa mendapatkan pekerjaan.

Mike juga membaktikan dirinya merangkul anak-anak kumuh lainnya melalui musiknya. Sebagai penyanyi dan pengarang lagu yang berbakat, ia menulis musik rap inspirasional dengan pesan penuh harapannya yang unik. Setelah melihat begitu banyak anak mati dalam hidupnya yang masih muda, ia sangat ingin meraih mereka yang masih hidup. “Bertahan hidup memang tidak mudah, tapi itu bisa terjadi, dan kita harus menyampaikan pesan itu. jika seribu orang mendengarku. dan dua anak tidak tertembak, tidak menjual obat, dan. tidak mati, berarti kita berhasil.”

Tapi sekarang hanya sedikit waktu yang dimilikinya untuk menyanyi, karena Mike dan keluarganya masih berjuang. Tapi Raf, Amber, dan Chloe kini mengikuti jejak Mike untuk ikut menyumbangkan tenaga di rumah. Mereka adalah tiga bayi jalanan tertua yang dibesarkan Mike–dan diajarkan hidup dengan keberanian dan harapan.

Mereka ingat dengan baik semua perkataan Mike, yang dibisikkan kepada mereka berulang-ulang di saat-saat sulit, selama mereka berpindah-pindah, saat setiap kali mereka harus meninggalkan segalanya: “Apa pun yang kaumiliki, bersyukurlah! Bahkan kau tak memiliki apa-apa, bersyukurlah karena kau masih hidup! Percayalah pada dirimu sendiri. Tak ada yang akan mencegahmu. Milikilah tujuan. Bertahanlah!”

Mike Powell akan memiliki perusahaan untuk anak jalanan kelak. Dan kelak pun akan ada waktu untuk mewujudkan sernua impiannya. Lagi pula, Mike kan baru sembilan belas tahun.

Paula McDonald

(chicken soup for the teenage soul II)

Hero of the Hood

By all odds, Mike Powell should never have survived. Addiction, drug pushing, prison or early death is the most likely cards dealt to street kids growing up in the “jungle” of south central Los Angeles- a violent combat zone of drug wars, gang slaying, prostitution and crime. But Mike’s young life had a special purpose. For eight years he braved terror and brutalization to keep his family of 7 kids together. Incredibly during that time no one ever discovered that the only real parent the family had was just another kid.

When mike was born his father Fonso was in prison for drug dealing. Mike’s 15-year-old mother Cheryl dropped out of school to support the baby. “With out you my life could have been different” she later told mike over and over. It was the guilty glue that would make mike stick with her through the coming years of horror.

Fonso was released from prison when mike was 4 but instead of security 6-foot 5, 300-pound Vietnam vet brought a new kind of fear into mike’s life. Fonso had severe psychological problems and his discipline was harrowing. For minor infractions such as slamming a door he forced mike to do push-ups for hours. If the little boy collapsed his father would beat him. So fanatical was Fonso ‘s insistence on school attendance that Cheryl had to hide mike in a closet when he was sick.

Perhaps it was dark premonition that drove fonso to toughen up his young son and teach himself reliance far beyond his years. Mike was barley 8 when his father was murdered in a run-in with drug dealers.

Overnight the protection and income Fonso had provided were gone. It was back to the street for 24 year old Cheryl who now had 3 kids. Mike, Raf age 4 and amber 1 year. Life was bitterly hard and another baby on the way.

It wasn’t long before Cheryl brought home Marcel a cocaine addict who terrorized the family even more than fonso had. When mike innocently questioned what Marcel had done with cherry’s wages as a transit worker, Marcel broke the little boy’s jaw so badly it had to be wired back in place.

Marcel soon got Cheryl hooked on cocaine and the two would disappear on drug binges at first leaving the children locked in a closet but eventually just leaving them alone for weeks at a time. Cheryl had convinced mike that if anyone found out what was happening the children would be separated and sent to foster homes. Remembering his father’s fierce admonitions to “be a man” the eight-year-old became consumed by the need to keep his family together no matter what.

To make sure no one suspected anything mike began cleaning the apartment himself doing laundry by hand and keeping his sisters fed, diapered and immaculate. He scavenged junk shops for hair brushes, bottles and clothes whatever they could afford and covered up for his mothers absences with an endless litany of excuses. Cheryl and Marcel were soon burning through everything the family had in order to buy crack even money for rent and the children’s food. When their money situations became desperate mike quietly quit elementary school at 9 to support the family himself. He cleaned yards, unload trucks and stocked liquor stores, always working before dawn or late at night so the smaller wouldn’t be alone while awake.

As Cheryl and Marcel’s drug binges and absences became longer and more frequent their brief returns became more violent. Sinking deeper into addiction Cheryl would simply would abandon Marcel when his drugs ran out and hook up with someone who was better supplied. A crazed Marcel would then rampage through the slum apartment torturing and terrorizing the children for information about where more money was hidden or where he could find their mother.

One night Marcel put mike’s 2-year-old sister in a plastic bag and held it closed. Without air the toddler’s eyes were bulging and she was turning blue. “Where’s your mother? ” the addict screamed, Sobbing mike and little 5 year old Raf threw themselves at Marcel again and again beating on his back with small ineffectual fists. In desperation mike finally sank his teeth into Marcel’s neck praying the savage tormentor would drop the plastic bag and pick on him instead. It worked. Marcel wheeled and threw mike through the window cutting him with shattered glass and breaking his arm.

Cheryl’s parent’s Mabel and Otis Bradley loved their grandchildren deeply, but they worked long hours and lived a difficult multiple bus commute away and could see them only rarely. Sensing the family was struggling Mabel sent clothes and diapers never dreaming that Cheryl was selling the diapers, for drug money. Although Mabel’s constant phone calls and unconditional love became Mike’s only anchor of support he didn’t dare tell her that anything was wrong. He feared his gentle Grandmother would have a heart attack if she learned the truth or worse a violent confrontation with Marcel.

The family was forced to move constantly sleeping in Movie Theater’s, abandoned cars and even fresh crime scenes at times. Mike washed their clothes in public restrooms and cooked on a single burner hot plate. Eventually Cheryl and Marcel always caught up with them.

Despite the moves mike insisted the younger kids attend school, get good grades and be model citizens. To classmates, teachers and even their grandmother the children always seemed normal, well groomed and happy. No one could have imagined how they lived or that another child was raising them. Somehow Mike had managed to sort through the good intentions but brutal methods of his father and blend them with the loving example of his grandmother to form a unique value system. He loved his family deeply and in return the children loved, trusted and believed in him. “You don’t have to end up on the street” he told them. ” See what mom’s like? Stay off drugs!” secretly he was terrified that his mother would one day O.D in front of them.

Over the next few years Cheryl was repeatedly for possession and sale of narcotics and other crimes and was sometimes gone for up to a year at a time. Out of jail she continued to have more children making the family’s financial situation increasingly critical. Hard as mike tried it was becoming impossible for him to care for 3 new babies and support a family of 7 kids at the same time. One Christmas there was only a can of corn and a box of macaroni and cheese for all of them to share. Their only toys for the past year had a single McDonald’s happy meal figure for each child. For presents mike had the children wrap the figurine in newspaper and exchange them. It was one of their best Christmases.

The younger teenager now lived in constant anxiety but still refused to fall into the easier world of drug dealing and crime. Instead he braved the dangerous streets late at night selling doctored macadamia nuts which to half-crazed addict looked like 30 dollars crack- cocaine “rocks”. He knew he risked his life every time he took such chances but he felt he had few choices. In the nightly siege or gang and drug warfare the odds were against him though. By age 15 mike had been sot 8 times.

Worse his reserves of strength and hope were running dangerously low. For as long as he could remember he had live with relentless daily fears: will we be able to eat today? Will we all be on the street tonight? Will Marcel show up tomorrow?

And after more than 40 moves it seemed they had finally hit rock bottom. ” Home” was now the frontier hotel a filthy dive on skid row where pimps and prostitutes stalked the halls and drug deals went down on the stairways. The kids had watched a murder in the lobby and mike was now afraid to leave them alone or to sleep. For the few nights they had been there he had stayed up with a baseball bat to kill rats as they crawled under the door.

Sleep deprived and over whelmed by stress mike felt crushed by the responsibilities of his life. It was 2 am. His brother and sisters were huddled under a single blanket on the floor. Michelle the youngest baby was crying but he had no food for her. The boy who had shouldered his secret burden for so many years suddenly lost hope.

Stumbling to the window in despair mike stood at the edge steeling himself to jump. Silently asking his family to forgive him he closed his eyes and took a last deep breath. Just then a woman across the street spotted him and began screaming. Mike reeled back from the edge and fell into a corner, sobbing. For the rest of the night he rocked the hungry baby and prayed for help.

It came a few days later on the eve of Thanksgiving 1993 shortly before mike’s 16th birthday. A church outreach group had set up a sidewalk kitchen nearby to feed the hungry and mike took the children there for free sandwiches. So impressed were the volunteers with him and the polite youngsters that they began asking gentle questions. A dam deep inside mike finally broke and his story spilled out.

Within days the church group was at work trying to find the family permanent shelter but no single foster home could take all 7 children. Advised that the family would have to be separated for their own good” mike adamantly refused threatening to disappear back into the jungle with the kids. The only person he trusted to keep the family together was his grandmother. Reluctantly he finally told her of their life for the past 8 years.

Stunned and horrified Mabel Bradley immediately agreed to take the children but the Los Angeles county social welfare system balked Mabel was 66 retired and the children’s grandfather was diabetic. How could the Bradley possibly cope with 7 youngsters? But mike knew better. He hid the children and refused to negotiatiate any alternative except his grandparents. Finally the social workers and courts agreed and an ecstatic Mabel and Otis Bradley were granted permanent custody of the children. Somehow every child had survived unscathed. Nothing short of miracles it seemed and Mike unfathomable strength and love- had kept them together.

Mabel has since returned to work and now willingly commutes more than 100 miles away, while Otis cares for the children. Mike works, as many jobs as he can to help support the family but smart willing and honest as he is only minimum wage jobs are available. More than anyone he realizes the value of an education and is working on his GED.

His dream is to someday start a small company that can simultaneously employ the counsel street kids like himself who are without the traditional education. And skills to make it in a normal work world but who don’t want to be forced back to street life because they can’t find work.

Mike also dedicated to reaching other inner city kids through his music. A talented singer and songwriter, he wrote inspirational rap with his own unique message of hope. Having seen so many kids die in his young life he wants desperately to reach those who might live. “Surviving is against the odds but it happens and we have to get that message out. If a thousand people hear me and 2 kids don’t get shot, don’t deal, don’t die then we’ve done something.”

There is little time to sing right now though for Mike and his family are still struggling themselves. But Raf, Amber and Chloe are now stepping proudly into Mikes’ big shoes to do their part at home. They are the 3 oldest street babies he raised and taught to live with courage and hope.

The remember well all of Mike’s words, whispered fiercely to them over and over during the bad times, during the many moves when each time they had to leave every thing behind: ” whatever you have be grateful for it! Even if you’ve got nothing. Be grateful you’re alive! Believe in yourself. Nobody is stopping you. Have a goal. “Survive!”

Mike Powell will have his company for street kids someday. And there will be time later for the rest of his dreams too. Mike is, after all only Nineteen.

Paula McDonald

(chicken soup for the teenage soul II)

>

Wawancara

Arswendo Atmowiloto: Gobloknya, Jaksa Terima Pakai Cek

[18/02/03]

Masih ingat kasus polling di tabloid Monitor yang mengakibatkan pemimpin redaksinya, Arswendo Atmowiloto, masuk bui? Pengalamannya melalui proses peradilan dan menjalani hukuman di penjara, membuat Wendo–begitu ia biasa dipanggil–mengetahui persis lika-liku proses peradilan maupun kehidupan di penjara. Termasuk, korupsi yang terjadi dalam setiap proses itu.

Karena itu, ketika berbicara dalam peluncuran buku “Menyingkap Mafia Peradilan” yang digelar ICW baru-baru ini, Wendo dengan santai menyatakan bahwa cara paling mudah untuk mengetahui pola korupsi di peradilan adalah dengan menjadi ‘pesakitan’.

Meski telah keluar keluar dari penjara pada 1995 dan kembali menghasilkan berbagai karya, Wendo tentu belum lupa pengalamannya selama menjalani proses hukum itu. Sekarang, kegiatan Wendo segudang, mulai dari serial “Keluarga Cemara”–tontonan keluarga yang banyak mendapat pujian–menjadi pimpinan penerbitan majalah anak-anak, sampai memiliki rumah produksi Atmochademas Persada.

Karena itu, hukumonline merasa perlu mewawancarai pria kelahiran tahun 1948 ini dan memintanya bercerita mengenai pengalamannya itu. Karena, kelihatannya keadaan peradilan dan pemasyarakatan saat ini masih tidak jauh berbeda dengan keadaan pada saat itu. Berikut petikan wawancara hukumonline dengan Wendo:

Bisa diceritakan pengalaman Anda sebagai orang yang awam hukum tiba-tiba harus berhadapan dengan proses peradilan?

Saya kira semua orang akan sama. Dalam arti, orang itu tidak ada pengalaman ditahan dan tidak ada persiapan untuk ditahan. So, yang pertama terjadi pastilah shock. Kedua, ia tidak mengerti rule-nya yang sebenarnya. Hak dia apa, kewajiban ia apa. Hubungan ke mana, ia tidak mengerti. Yang dimengerti adalah yang formal-formal, oh perlu pengacara. Padahal, realitas empiris yang terjadi tidak seperti itu.

Bagimana awal mulanya dari setelah polling Monitor itu sampai menjalani proses peradilan?

Setelah polling pada awal Oktober, terjadi protes yang eksklalatif. Sehingga pada 22 Oktober 1990, kantor saya didemo, dirusak, dan sebagainya. Saat itu, saya di kantor dan harus membuka pameran lukisan di balai budaya. Tapi karena keadaannya sudah seperti itu, siang itu saya melarikan diri bersama teman-teman dalam mobil boks untuk mengirim koran untuk menghindari massa karena kantor saya belakangnya tidak ada jalan tembusnya.

Kemudian, saya yang berada di kantor teman mendengar ada pendemo yang ditangkap. Begonya saya, saya datang ke kantor polisi di Kramat Raya. Saya datang ke situ cuma diantar supir saya. Saya bertemu mereka yang ditangkap dan dengan sok gagah saya bilang, “mereka mestinya tidak usah ditangkap, mereka tidak salah-salah amat, tidak usah ditahan”. Untuk keamanan, saya disuruh tinggal di situ. Di situ nggak bisa pulang, saya tanya status saya bagaimana. Lalu kejadian merebak ke arah itu (proses hukum-red).

Lima hari kemudian, saya resmi ditahan. Waktu lima hari itu status saya tidak jelas. Saya pastilah kontak-kontak orang-orang tertentu, termasuk Mensesneg Moerdiono, menjelaskan, kejadiannya begini. Tapi jawabannya, hanya tunggu saja dulu.

Sebagai tahanan, saya diperiksa. Di situ konflik-konflik muncul karena ketidaktahuan tadi. Saya cari pengacara, tidak ada yang berani. (Mohammad) Assegaf, siapa lagi, dikontak tidak berani. Mereka menolak karena kasusnya seperti itu.

Akhirnya, saya ke kantor pengacaranya Oemar Seno Adji. Beliau ini dulu yang merumuskan pasal itu. Pasal yang didakwakan pada saya adalah 156 KUHP. Tadinya, pasal itu cuma 156 lalu ada rinciannya 156a. Salah satu perumusnya adalah Oemar Senoadji, so ia menyatakan bersedia.

Saya hormat betul dengan kelompoknya Pak Oemar waktu itu. Waktu dengar-dengar di dalam bahwa kita bisa bertemu jaksa, saya bilang (pada pengacara) mau bertemu jaksa. Ia bilang kurang lebih, “Pokoknya saya nggak mau tau yang itu. Dia nggak mau jadi calo, bagus itu. Kalau berurusan, nggak usah dilaporin saya.”

Mulai tahu bahwa bisa melakukan hal seperti itu?

Di dalam. Ketika pemeriksaan polisi sudah mulai. Polisinya mulai bertanya, “Mau bertemu dengan jaksanya nggak? Sudah ketahuan nih jaksanya si A”. Saya tanya aturannya bagaimana. “Ketemu saja dulu, ngobrol aja di situ sendiri dulu”. Dikasih ruangan lalu, kami ngobrol. Jaksanya bilang, “nanti kita bantu, pasalnya yang akan didakwakan begini”.

Lalu Anda memberi uang pada jaksa?

Itu saat pemeriksaan. Status saya sudah dipindah dari polisi, dipindah ke Salemba. Di rutan kan sudah kenal dengan jaksanya, ketemu ngobrol-ngobrol, dibilang pasalnya segini. “Ini pasal maksimumnya lima tahun, saya akan nuntut sekitar tiga tahun”. “Wah masih tinggi banget”, saya bilang. “Biasanya hakim duapertiga dari situ, dua tahun,” kata jaksanya. “Dua tahun itu nanti dapat remisi, dapat ini-itu”.

Diminta menyetor berapa?

Tawar-menawar kami, saya nggak punya duit banyak. Akhirnya Rp75 juta. Untuk saya sih ya sudahlah, habis-habisan. Ia minta cash, saya nggak bisa cash, kecuali saya boleh keluar. Akhirnya lewat istri, pakai cek. Gobloknya, jaksa terima pakai cek. Padahal, katanya itu tidak lazim. Istri saya datang ke rumahnya ngasih cek, tapi itu dia terima.

Saya kemudian sudah agak tenang, hubungannya (dengan jaksa) juga baik. Jaksa menyuruh saya bikin surat pada hakim, akhirnya saya bikin surat, tolonglah. Nah di situ mafia, bahkan menurut saya sudah lebih dari mafia. Mereka sudah menyatakan, nanti jaksanya menuntut tiga tahun, hakim memutuskan dua tahun, dan dua tahun itu kamu nanti begitu Agustus dapat remisi dan lain-lain.

Tuntutannya apa benar tiga tahun?

Nggak, tuntutannya tetap lima tahun. Sehari saja, nggak kurang. Kan saya marah, saya cari jaksanya. Tapi ia juga baik kok, dia datang. Artinya, cukup ksatria juga. Saya tanya kenapa menuntut lima tahun, dia bilang, “saya hanya menjalankan tugas”. Duitnya balik apa nggak, ya pasti nggak.

Bagaimana berhubungan dengan hakim Pengadilan Negeri?

Melalui jaksa, mereka yang ngatur. Mungkin juga nggak sampai…saya nggak tahu.

Jadi jaksa janjikan Rp75 juta itu untuk mengurangi tuntutan dan untuk vonis dua tahun?

Ya. Ia yang akan menghubungi hakimnya. Saya tanya sudah ketemu Pak Sarwono hakimnya. “Ya, sudah sering kok,” kata dia.

Vonisnya?

Juga lima tahun, satu pun nggak ada pengurangan. Padahal, disebut berkelakuan baik, membantu persidangan, punya tanggungjawab keluarga, punya masa depan, tapi satu hari pun nggak kurang.

Kemudian banding. Banding, saya sudah mulai nggak percaya lagi. Sudah lebih lihai, nego sama panitera. Saya tahu lewat petugas di LP, kalau hubungi si ini, begini. Mereka sudah tahu petanya, kalau Jakarta Pusat, oh nanti pas sidangnya berkasnya nanti masuk ke majelis ini. Infonya dari petugas LP dan teman-teman di penjara. Si A lewat ini begini, si B lewat ini begini.

Panitera datang terang-terangan. Dia memberi nama, alamat, telpon untuk dihubungi. Tawar-menawar. Dia janji kan nanti berkas akan dibuat sedemikian rupa, sehingga hakim tingginya ini. Nanti hakim ini bisa diajak kompromi, bisa diajak ngomong. Ia akan menghubungi hakimnya juga. Ia bilang bisa kurang satu tahun, bayarnya Rp30 juta. Saya nggak mau kasih dulu. Nanti kalau ada putusannya, baru saya mau bayar. Tapi, dia nggak mau.

Akhirnya sepakat seminggu sebelum putusan keluar, duitnya baru dikasih semuanya. Saya bilang mau pakai cek, tanggalnya tanggal setelah putusan. Tapi dia bilang nggak bisa karena mesti cair dulu duitnya. Jaminannya apa saya tanya, “ya kita kenal baik, saya kenal Bapak, Bapak kenal saya”, dan beberapa teman meyakinkan ia. Memang berhasil, tapi hanya enam bulan.

Ia tadinya menjanjikan hukumannya berkurang berapa?

Kami tawar menawar. Saya bilang satu tahun pun nggak apa-apa, tapi Rp30 juta, karena duit saya sudah terakhir. Ternyata, cuma enam bulan. Saya juga sempat tanya ke dia, lho kok cuma enam bulan. Dia bilang, “Wah berat Mas. Perkara Mas menarik perhatian”. Itu alasan dia, mungkin benar.

Kasasi bagaimana?

Kasasi coba lagi, lebih pintar lagi. Tetap nggak saya keluarkan uangnya, masih tawar menawar. Kalau kasasi, itu jalurnya petugas penjara karena mereka punya banyak kenalan. Saya mengambil surat putusan PT saja perlu dana. Surat fotokopi saja nyuruh orang bayar, mengambil bayar. Dari petugas di sini, nanti bayar di sana, wis semuanya bayar.

Deal untuk kasasi bagaimana?

Orangnya bilang bisa dikurangi. Saya seminggu sebelum putusan akan dapat nomor-nomornya. Tapi, rupanya ini (pemeriksaan) berjalannya lama nggak kelar-kelar. Sementara saya ditahan makin lama makin berkurang, sampai saya hampir keluar baru ada deal lagi. Padahal, saya sudah istilahnya asimilasi. Kalau sudah menjalani separuh hukuman dan berkelakuan baik, saya bisa asimilasi. Asimilasi artinya pagi saya keluar, sore saya balik lagi.

Itu resmi?

Resmi. Tapi untuk mengurus asimilasi, itu butuh biaya besar. Setelah saya asimilasi, baru mereka menghubungi lagi. Tapi saya pikir, saya tinggal menjalani sekitar satu tahun setengah lagi. Ya sudah, tidak jadi.

Putusan kasasi apa?

Membenarkan putusan Pengadilan Tinggi. Tapi dalam bahasa hukumnya di situ, menilai sendiri kemudian memutuskan hukuman empat tahun enam bulan. Tapi itu istilahnya kalau di dalam penjara, velg. Velg itu tidak pakai dorongan, nggak pakai suapan atau apa.

Jadi korupsi dalam proses peradilan itu memang benar-benar terorganisir, tidak salah kalau dibilang mafia?

More than mafia. Mafia itu hanya klan sendiri. Ini klan orang lain, bisa ikutan kok… Dan itu tidak tertutup. Ada ruang khusus. Dan, celah-celah hukum memungkinkan itu. Misalnya, jaksa bertemu tersangka atau terdakwa. Kita dibawa ke kejaksaan, disuruh ngobrol, diperlihatkan pasalnya. Artinya, peluang itu ada.

Jadi, kesempatan jaksa bertemu terdakwa juga digunakan untuk tawar menawar?

Ya.

Di penjara, di mana tempat negosiasinya?

Di ruang besuk itu. Biasanya di tempat keamanan atau di mana, bukan yang besukan ramai-ramai. Tapi mojok, ngobrol.

Tapi itu terbuka, tidak sembunyi-sembunyi?

Nggak. Kami ngobrol di sini, sebelahnya mungkin lagi ketemu negosiasi juga. Kalau di ruang keamanannya itu, kami ngomong di sini, di sana juga ada yang lagi ngomong. Dan habis itu, kami kan juga komunikasi. Di dalam kan semua napinya komunikasi.

“Lu (kamu, Red) sama dia berapa, kasus lu penyelundupan sih enak. Judi juga enak. Paling tiga bulan di sini”. Tarifnya sudah ada. Untuk judi dan penyelundupan, biasanya mereka orang-orang yang sekadar masuk ke situ. Kalau judi atau apa kan bukan pelakunya, tapi orang yang yah kalau ditangkap dia lah yang ditangkap.

Bukan bekingnya?

Wah bukan, bukan bandarnya, penyelundupan juga begitu.

Sesama napi sudah tahu tarif-tarifnya?

Iya, kita sudah diberi tahu, lu jangan lewat dia.

Wendo lalu menceritakan tentang Dicky Iskandar DiNata yang melakukan negosiasi melalui calo, antara lain melalui Ais Anantama Said, anak ketua MA saat itu, Ali Said. Ais sendiri membantah pernyataan Dicky.

Dicky saat itu sempat diperas sampai Rp3 miliar?

Ya. Karena, kasusnya dia memang kasus duit. Kasus penyelundupan, bank, judi yang gede. Pemalsuan kartu kredit itu termasuk ‘kasus berdasi’ istilahnya. Untuk kasus berdasi, melibatkan jumlah uang yang besar. Untuk di luar kasus berdasi, tarifnya lebih murah.

Tapi jangan lupa, itu yang kelas penodong segala juga ada. Sejak dari LP mau ke pengadilan, bisa negosiasi, mau duduk di sebelah supir atau di belakang, mau diborgol atau tidak.

Dalam seluruh proses dari pemeriksaan sampai di LP, selain untuk menyuap hakim dan jaksa, untuk survive sehari-hari juga ada penyuapan?

Ya. Tergantung kita punya duit berapa. Untuk asimilasi, untuk berobat.

Bisa dijelaskan mekanisme berobat ?

Bilang sakit saja, datang ke dokter, CS-an sama dokternya nanti dibilang sakitnya perlu berobat keluar. Nanti kita cari surat lagi dari keamanan, yang mengawal siapa. Tapi mereka sudah ada mekanismenya, tinggal menyerahkan duit aja ke dua atau tiga orang. Nggak usah ke semua, ada calonya.

Jadi kita tinggal bilang kalau mau keluar?

Nggak, kadang mereka yang menawarkan, sakit nggak nih? Mereka pesannya cuma satu, jangan sampai ketahuan wartawan.

Jadi dokternya juga bisa disuap?

Ya, sudah Cs. Kita keluar dikawal polisi, sipir dari penjara. Paketnya sudah ada.

Apa banyak yang memanfaatkan paket ini?

Banyak. Yah kelas saya waktu itu sekitar Rp300 sampai 400 ribu. Yang lebih tinggi ada. Kita sakit ke dokter, misalnya dibilang jantung. Di sana peralatan nggak ada, nanti lapor keamanan lapasnya, dicatat pakai buku gede, nanti harinya kita yang tentukan. Keluar pagi kadang dikawal polisi. Ada sipir dua orang diantar pakai kendaraan LP. Nanti keluar dari situ, sekitar 100 meter, kita turun, mobil kita sudah nunggu. Cuma sebelum jam lima, saat pergantian penjagaan, kita harus pulang.

Di penjara, kita bisa meminta berbagai fasilitas?

Iya. Itu diurus sebelum kita ke sana. Waktu saya belum tahu, di Polda, saya tidurnya di triplek. Waktu ke Salemba juga pertama saya belum bawa kasur, nggak ada tikar, nggak ada apa-apa. Tapi waktu pindah ke Cipinang, saya sudah tahu. Jadi kamarnya sudah disiapkan. Sudah dibersihkan, dicat. Sebelum saya datang, barang-barang sudah ada. Ada yang mengatur, di sana kamarnya nomor sekian, bloknya. Sesama napi biasanya juga sudah tahu siapa yang datang.

Fasilitasnya apa saja ?

Tergantung uang kita.

Kalau kita mau AC, bisa?

Ya bisa. Tapi peraturan tidak tertulis, semua barang yang sudah ada di situ, tidak bisa ditarik keluar, tidak boleh diambil lagi. Apa saja yang mau dibawa, selama bukan senjata, selama kita mampu dan bisa nego, bisa. Cewek saja bisa.

Kalau cewek bagaimana caranya?

Kita atur jam-jam tertentu. Tapi periodenya pendek. Kita masuk satu ruangan, misal ruang keamanan, administrasi. Kalau diketok tiga kali, rada nggak aman, jangan berisik. Di tempat itu bisa ada kasur, kulkas kecil.

Jadi kita bisa bawa kulkas, TV, AC?

Ya. Kalau nanti ada kontrol, kita sudah tahu hari ini, jam segini, nanti kita tutupin.

Wendo lalu bercerita ketika ia nonton Video Home Alone bersama Dicky, tapi tidak berani tertawa. Karena saat itu siang-siang dan jika mereka tertawa bisa ketahuan. Karena itu ketika ada adegan lucu, video dimatikan. Mereka keluar sel, ketawa-tawa dulu, lalu masuk lagi dan melanjutkan nonton.

Kenapa sembunyi-sembunyi kan sudah negosiasi waktu membawa barang-barang?

Ya sembunyi-sembunyi dong. Penjaganya kan 40 orang, yang kami sogok sedikit. Kalau kami ke dokter, semua bisa tahu. Paket itu berlaku untuk semua. Tapi kalau ini atau memasukkan cewek, nggak semuanya tahu.

Kalau ketahuan?

Dia minta uang atau barang disita, tapi yang ditakutkan bukan itu. Kami masuk letter F istilahnya. Itu artinya, kami tidak akan dapat remisi karena melanggar peraturan. Itu kami paling takut. Walau hanya 10 hari, seminggu, tapi itu berarti besar untuk kita. Biasanya yang nggak bisa bayar, yang kena letter F, di tempat abal-abal (istilah untuk napi yang tidak dapat fasilitas).

Pemindahan ke LP lain juga ada uangnya semua. Paling takut dipindah ke Cirebon karena permusuhan gengnya paling kuat. Tommy di Nusakambangan itu kan kompromi-kompromi tertentu. Dipikirnya dibuang di sana? Nggak, justru jauh dari pers. Dan begitu di sana, dia leluasa. Nggak usah pakai helikopter segala, wong di sini saja bisa. Tapi di sini kan pasti menyolok, misalnya tiap kali dia berobat.

Kalau tidak punya uang untuk semua proses itu, bagaimana?

Ya, berlaku seperti yang lainnya. Abal-abal itu. Baru diperiksa saja dibuka bajunya, disuruh jongkok, diperlakukan kayak begitu. Ketika di penjara tidak ada fasilitasnya, jam empat sudah masuk kamar, disel.

Antar tahanan ada geng-geng?

Ya, tapi mereka menurut saya jauh lebih sportif. Rule-nya lebih jelas. Ada geng Solo, Padang, Makassar.

Antar mereka apa ada intimidasi?

Nggak begitu. Intimidasi yang terjadi hanya kalau ada tahanan baru yang akan dijadikan cewek. Itu ada, tapi selebihnya nggak. Seperti Dicky, misalnya sudah ada napi sendiri yang akan mengawal dia. Sebelum datang, sudah disiapkan siapa yang akan jadi pelindung.

Yang di sana, yang ditakutkan di antara abal-abal adalah yang bunuh polisi, kursnya paling tinggi. Kasus yang paling buruk kalau memperkosa. Wah, itu abis. Bahkan di antara para napi, pemerkosa habis. Disodomi, dipaksa onani pakai rheumason sampai 7 kali. Apalagi, kalau yang main sama istri sesama napi. Menyiksa berhari-hari dengan cara paling sadis yang bisa dibayangkan.

Apa petugas diam saja?

Menutup mata. Memang rule-nya udah begitu. Sebelum dia (napi) datang saja, kami sudah tahu.

Apa penghubung dengan dunia luar?

Wah banyak banget. Apa saja bisa. Jaman saya belum ada HP saja bisa. Kami pakai telpon yang ada di situ, kita suruhan orang, yang besuk. Komunikasinya luar biasa. Yang di dalam ada yang dapat suplai dari bos-bos di luar, karena anak buahnya si ini. Besuk bukan hanya jam-jam tertentu. Ada lewat penjaganya atau lewat penjaga yang di menara. Pakai tali, makanan dibawa dari situ.

Dengan perantara petugas?

Semua kejadian itu selalu melibatkan petugas. Hampir tidak mungkin mereka murni sendiri. Dari makanan, buku porno

Bagaimana dengan obat-obatan, narkotika?

Obat leluasa di sana. Bisa petugas menjual, dari luar bisa, kita suruh petugas beli di luar bisa, beli di dalam bisa. Paling kalau nggak beli di dalam, kalau ketahuan ribut, kenapa nggak beli di dalam.

Di dalam ada yang jual?

Oh iya dong. Bandar-bandarnya top-top semua.

Bandar di dalam dapat pasokan barang dari mana?

Dari luar, dari pengunjung ke arah dia. Dan di dalam kan nggak bisa ditangkap lagi. Itu yang gede-gede. Yang miskin-miskin, pakai Napacin. Napacin dua ditelan langsung teler atau Paramex atau Spirtus campur kopi. Tapi yang paling banyak dan yang hampir semua menggunakan itu ganja dan AO, arak obat. Belinya dari penjaga.

Apa itu semua karena kesejahteraan petugas yang sangat minim?

Bukan minim, kurang banget. Saya beritahu ya, untuk tingkat kepala penjara saja– kayak rutan Salemba–waktu saya di dalam resminya gajinya cuma empat ratus ribu, nggak sampai lima ratus ribu. Itu take home pay. Lulusan SMA yang kerja di situ kira-kira 18 sampai 20 tahun, baru jadi yang namanya kepala regu, bukan kepala keamanan lho.

Jadi ada satu periode tertentu. Sehari itu dibagi tiga regu, ia bosnya. Itu saja gajinya hanya dua ratus ribuan. Artinya, godaannya untuk itu terlalu besar. Mereka hidup di Jakarta. Mereka melek, yang dikawal tidur. Saya tidak membenarkan mekanisme ini, tapi inilah yang terjadi. Sehingga, sedemikian mudahlah seorang Edy Tanzil itu nggak kembali. Untuk seorang Edy Tanzil, Tommy, penyelundup, ini (menyuap) nggak ada artinya.

Semakin tinggi pangkat, uang suap semakin besar?

Iya. Dibanding temannya, karena ia koordinator–misalnya istri mau datang–kita cuma ngomong sama kepala regu. Wakilnya sudah, mereka bagi sendiri.

Kepala penjara?

Sudah ada sendiri. Dealnya lain. Kepala penjara, kepala keamanan, deal-nya lain. Sejak sebelum masuk sudah deal.

Apa yang seharusnya dilakukan untuk memperbaiki kondisi ini?

Yang bisa dilakukan orang dari luar, misalnya membuat panduan yang menjelaskan posisi mereka, hak-hak mereka. Perkara itu didapat atau nggak, itu soal lain. Kedua, bagaimana mengaktifkan, memberi kesempatan organisasi-organisasi di luar untuk membantu penjara.

Sekarang yang bergerak hanya dari kelompok agama. Mengajar mengaji, berdoa, natalan. Seharusnya, organisasi sosial banyak yang bisa begitu. (Wendo menunjukkan tumpukan lukisan yang menurutnya dibuat oleh napi) Saya ajarin mereka melukis sampai sekarang. Karena sangat berarti untuk kepercayaan diri, supaya kepercayaan diri mereka ada lagi ketika keluar.

Bagaimana dengan pembenahan sistem di dalam?

Nggak. Peraturan sudah ada semua, tinggal dijalankan dengan bener. Sudah komplet aturannya. Yang perlu adalah menjalankan mekanisme dinamis dari sistem.

(Nay)



Wawancara

Arswendo Atmowiloto: Gobloknya, Jaksa Terima Pakai Cek

[18/02/03]

Masih ingat kasus polling di tabloid Monitor yang mengakibatkan pemimpin redaksinya, Arswendo Atmowiloto, masuk bui? Pengalamannya melalui proses peradilan dan menjalani hukuman di penjara, membuat Wendo–begitu ia biasa dipanggil–mengetahui persis lika-liku proses peradilan maupun kehidupan di penjara. Termasuk, korupsi yang terjadi dalam setiap proses itu.

Karena itu, ketika berbicara dalam peluncuran buku “Menyingkap Mafia Peradilan” yang digelar ICW baru-baru ini, Wendo dengan santai menyatakan bahwa cara paling mudah untuk mengetahui pola korupsi di peradilan adalah dengan menjadi ‘pesakitan’.

Meski telah keluar keluar dari penjara pada 1995 dan kembali menghasilkan berbagai karya, Wendo tentu belum lupa pengalamannya selama menjalani proses hukum itu. Sekarang, kegiatan Wendo segudang, mulai dari serial “Keluarga Cemara”–tontonan keluarga yang banyak mendapat pujian–menjadi pimpinan penerbitan majalah anak-anak, sampai memiliki rumah produksi Atmochademas Persada.

Karena itu, hukumonline merasa perlu mewawancarai pria kelahiran tahun 1948 ini dan memintanya bercerita mengenai pengalamannya itu. Karena, kelihatannya keadaan peradilan dan pemasyarakatan saat ini masih tidak jauh berbeda dengan keadaan pada saat itu. Berikut petikan wawancara hukumonline dengan Wendo:

Bisa diceritakan pengalaman Anda sebagai orang yang awam hukum tiba-tiba harus berhadapan dengan proses peradilan?

Saya kira semua orang akan sama. Dalam arti, orang itu tidak ada pengalaman ditahan dan tidak ada persiapan untuk ditahan. So, yang pertama terjadi pastilah shock. Kedua, ia tidak mengerti rule-nya yang sebenarnya. Hak dia apa, kewajiban ia apa. Hubungan ke mana, ia tidak mengerti. Yang dimengerti adalah yang formal-formal, oh perlu pengacara. Padahal, realitas empiris yang terjadi tidak seperti itu.

Bagimana awal mulanya dari setelah polling Monitor itu sampai menjalani proses peradilan?

Setelah polling pada awal Oktober, terjadi protes yang eksklalatif. Sehingga pada 22 Oktober 1990, kantor saya didemo, dirusak, dan sebagainya. Saat itu, saya di kantor dan harus membuka pameran lukisan di balai budaya. Tapi karena keadaannya sudah seperti itu, siang itu saya melarikan diri bersama teman-teman dalam mobil boks untuk mengirim koran untuk menghindari massa karena kantor saya belakangnya tidak ada jalan tembusnya.

Kemudian, saya yang berada di kantor teman mendengar ada pendemo yang ditangkap. Begonya saya, saya datang ke kantor polisi di Kramat Raya. Saya datang ke situ cuma diantar supir saya. Saya bertemu mereka yang ditangkap dan dengan sok gagah saya bilang, “mereka mestinya tidak usah ditangkap, mereka tidak salah-salah amat, tidak usah ditahan”. Untuk keamanan, saya disuruh tinggal di situ. Di situ nggak bisa pulang, saya tanya status saya bagaimana. Lalu kejadian merebak ke arah itu (proses hukum-red).

Lima hari kemudian, saya resmi ditahan. Waktu lima hari itu status saya tidak jelas. Saya pastilah kontak-kontak orang-orang tertentu, termasuk Mensesneg Moerdiono, menjelaskan, kejadiannya begini. Tapi jawabannya, hanya tunggu saja dulu.

Sebagai tahanan, saya diperiksa. Di situ konflik-konflik muncul karena ketidaktahuan tadi. Saya cari pengacara, tidak ada yang berani. (Mohammad) Assegaf, siapa lagi, dikontak tidak berani. Mereka menolak karena kasusnya seperti itu.

Akhirnya, saya ke kantor pengacaranya Oemar Seno Adji. Beliau ini dulu yang merumuskan pasal itu. Pasal yang didakwakan pada saya adalah 156 KUHP. Tadinya, pasal itu cuma 156 lalu ada rinciannya 156a. Salah satu perumusnya adalah Oemar Senoadji, so ia menyatakan bersedia.

Saya hormat betul dengan kelompoknya Pak Oemar waktu itu. Waktu dengar-dengar di dalam bahwa kita bisa bertemu jaksa, saya bilang (pada pengacara) mau bertemu jaksa. Ia bilang kurang lebih, “Pokoknya saya nggak mau tau yang itu. Dia nggak mau jadi calo, bagus itu. Kalau berurusan, nggak usah dilaporin saya.”

Mulai tahu bahwa bisa melakukan hal seperti itu?

Di dalam. Ketika pemeriksaan polisi sudah mulai. Polisinya mulai bertanya, “Mau bertemu dengan jaksanya nggak? Sudah ketahuan nih jaksanya si A”. Saya tanya aturannya bagaimana. “Ketemu saja dulu, ngobrol aja di situ sendiri dulu”. Dikasih ruangan lalu, kami ngobrol. Jaksanya bilang, “nanti kita bantu, pasalnya yang akan didakwakan begini”.

Lalu Anda memberi uang pada jaksa?

Itu saat pemeriksaan. Status saya sudah dipindah dari polisi, dipindah ke Salemba. Di rutan kan sudah kenal dengan jaksanya, ketemu ngobrol-ngobrol, dibilang pasalnya segini. “Ini pasal maksimumnya lima tahun, saya akan nuntut sekitar tiga tahun”. “Wah masih tinggi banget”, saya bilang. “Biasanya hakim duapertiga dari situ, dua tahun,” kata jaksanya. “Dua tahun itu nanti dapat remisi, dapat ini-itu”.

Diminta menyetor berapa?

Tawar-menawar kami, saya nggak punya duit banyak. Akhirnya Rp75 juta. Untuk saya sih ya sudahlah, habis-habisan. Ia minta cash, saya nggak bisa cash, kecuali saya boleh keluar. Akhirnya lewat istri, pakai cek. Gobloknya, jaksa terima pakai cek. Padahal, katanya itu tidak lazim. Istri saya datang ke rumahnya ngasih cek, tapi itu dia terima.

Saya kemudian sudah agak tenang, hubungannya (dengan jaksa) juga baik. Jaksa menyuruh saya bikin surat pada hakim, akhirnya saya bikin surat, tolonglah. Nah di situ mafia, bahkan menurut saya sudah lebih dari mafia. Mereka sudah menyatakan, nanti jaksanya menuntut tiga tahun, hakim memutuskan dua tahun, dan dua tahun itu kamu nanti begitu Agustus dapat remisi dan lain-lain.

Tuntutannya apa benar tiga tahun?

Nggak, tuntutannya tetap lima tahun. Sehari saja, nggak kurang. Kan saya marah, saya cari jaksanya. Tapi ia juga baik kok, dia datang. Artinya, cukup ksatria juga. Saya tanya kenapa menuntut lima tahun, dia bilang, “saya hanya menjalankan tugas”. Duitnya balik apa nggak, ya pasti nggak.

Bagaimana berhubungan dengan hakim Pengadilan Negeri?

Melalui jaksa, mereka yang ngatur. Mungkin juga nggak sampai…saya nggak tahu.

Jadi jaksa janjikan Rp75 juta itu untuk mengurangi tuntutan dan untuk vonis dua tahun?

Ya. Ia yang akan menghubungi hakimnya. Saya tanya sudah ketemu Pak Sarwono hakimnya. “Ya, sudah sering kok,” kata dia.

Vonisnya?

Juga lima tahun, satu pun nggak ada pengurangan. Padahal, disebut berkelakuan baik, membantu persidangan, punya tanggungjawab keluarga, punya masa depan, tapi satu hari pun nggak kurang.

Kemudian banding. Banding, saya sudah mulai nggak percaya lagi. Sudah lebih lihai, nego sama panitera. Saya tahu lewat petugas di LP, kalau hubungi si ini, begini. Mereka sudah tahu petanya, kalau Jakarta Pusat, oh nanti pas sidangnya berkasnya nanti masuk ke majelis ini. Infonya dari petugas LP dan teman-teman di penjara. Si A lewat ini begini, si B lewat ini begini.

Panitera datang terang-terangan. Dia memberi nama, alamat, telpon untuk dihubungi. Tawar-menawar. Dia janji kan nanti berkas akan dibuat sedemikian rupa, sehingga hakim tingginya ini. Nanti hakim ini bisa diajak kompromi, bisa diajak ngomong. Ia akan menghubungi hakimnya juga. Ia bilang bisa kurang satu tahun, bayarnya Rp30 juta. Saya nggak mau kasih dulu. Nanti kalau ada putusannya, baru saya mau bayar. Tapi, dia nggak mau.

Akhirnya sepakat seminggu sebelum putusan keluar, duitnya baru dikasih semuanya. Saya bilang mau pakai cek, tanggalnya tanggal setelah putusan. Tapi dia bilang nggak bisa karena mesti cair dulu duitnya. Jaminannya apa saya tanya, “ya kita kenal baik, saya kenal Bapak, Bapak kenal saya”, dan beberapa teman meyakinkan ia. Memang berhasil, tapi hanya enam bulan.

Ia tadinya menjanjikan hukumannya berkurang berapa?

Kami tawar menawar. Saya bilang satu tahun pun nggak apa-apa, tapi Rp30 juta, karena duit saya sudah terakhir. Ternyata, cuma enam bulan. Saya juga sempat tanya ke dia, lho kok cuma enam bulan. Dia bilang, “Wah berat Mas. Perkara Mas menarik perhatian”. Itu alasan dia, mungkin benar.

Kasasi bagaimana?

Kasasi coba lagi, lebih pintar lagi. Tetap nggak saya keluarkan uangnya, masih tawar menawar. Kalau kasasi, itu jalurnya petugas penjara karena mereka punya banyak kenalan. Saya mengambil surat putusan PT saja perlu dana. Surat fotokopi saja nyuruh orang bayar, mengambil bayar. Dari petugas di sini, nanti bayar di sana, wis semuanya bayar.

Deal untuk kasasi bagaimana?

Orangnya bilang bisa dikurangi. Saya seminggu sebelum putusan akan dapat nomor-nomornya. Tapi, rupanya ini (pemeriksaan) berjalannya lama nggak kelar-kelar. Sementara saya ditahan makin lama makin berkurang, sampai saya hampir keluar baru ada deal lagi. Padahal, saya sudah istilahnya asimilasi. Kalau sudah menjalani separuh hukuman dan berkelakuan baik, saya bisa asimilasi. Asimilasi artinya pagi saya keluar, sore saya balik lagi.

Itu resmi?

Resmi. Tapi untuk mengurus asimilasi, itu butuh biaya besar. Setelah saya asimilasi, baru mereka menghubungi lagi. Tapi saya pikir, saya tinggal menjalani sekitar satu tahun setengah lagi. Ya sudah, tidak jadi.

Putusan kasasi apa?

Membenarkan putusan Pengadilan Tinggi. Tapi dalam bahasa hukumnya di situ, menilai sendiri kemudian memutuskan hukuman empat tahun enam bulan. Tapi itu istilahnya kalau di dalam penjara, velg. Velg itu tidak pakai dorongan, nggak pakai suapan atau apa.

Jadi korupsi dalam proses peradilan itu memang benar-benar terorganisir, tidak salah kalau dibilang mafia?

More than mafia. Mafia itu hanya klan sendiri. Ini klan orang lain, bisa ikutan kok… Dan itu tidak tertutup. Ada ruang khusus. Dan, celah-celah hukum memungkinkan itu. Misalnya, jaksa bertemu tersangka atau terdakwa. Kita dibawa ke kejaksaan, disuruh ngobrol, diperlihatkan pasalnya. Artinya, peluang itu ada.

Jadi, kesempatan jaksa bertemu terdakwa juga digunakan untuk tawar menawar?

Ya.

Di penjara, di mana tempat negosiasinya?

Di ruang besuk itu. Biasanya di tempat keamanan atau di mana, bukan yang besukan ramai-ramai. Tapi mojok, ngobrol.

Tapi itu terbuka, tidak sembunyi-sembunyi?

Nggak. Kami ngobrol di sini, sebelahnya mungkin lagi ketemu negosiasi juga. Kalau di ruang keamanannya itu, kami ngomong di sini, di sana juga ada yang lagi ngomong. Dan habis itu, kami kan juga komunikasi. Di dalam kan semua napinya komunikasi.

“Lu (kamu, Red) sama dia berapa, kasus lu penyelundupan sih enak. Judi juga enak. Paling tiga bulan di sini”. Tarifnya sudah ada. Untuk judi dan penyelundupan, biasanya mereka orang-orang yang sekadar masuk ke situ. Kalau judi atau apa kan bukan pelakunya, tapi orang yang yah kalau ditangkap dia lah yang ditangkap.

Bukan bekingnya?

Wah bukan, bukan bandarnya, penyelundupan juga begitu.

Sesama napi sudah tahu tarif-tarifnya?

Iya, kita sudah diberi tahu, lu jangan lewat dia.

Wendo lalu menceritakan tentang Dicky Iskandar DiNata yang melakukan negosiasi melalui calo, antara lain melalui Ais Anantama Said, anak ketua MA saat itu, Ali Said. Ais sendiri membantah pernyataan Dicky.

Dicky saat itu sempat diperas sampai Rp3 miliar?

Ya. Karena, kasusnya dia memang kasus duit. Kasus penyelundupan, bank, judi yang gede. Pemalsuan kartu kredit itu termasuk ‘kasus berdasi’ istilahnya. Untuk kasus berdasi, melibatkan jumlah uang yang besar. Untuk di luar kasus berdasi, tarifnya lebih murah.

Tapi jangan lupa, itu yang kelas penodong segala juga ada. Sejak dari LP mau ke pengadilan, bisa negosiasi, mau duduk di sebelah supir atau di belakang, mau diborgol atau tidak.

Dalam seluruh proses dari pemeriksaan sampai di LP, selain untuk menyuap hakim dan jaksa, untuk survive sehari-hari juga ada penyuapan?

Ya. Tergantung kita punya duit berapa. Untuk asimilasi, untuk berobat.

Bisa dijelaskan mekanisme berobat ?

Bilang sakit saja, datang ke dokter, CS-an sama dokternya nanti dibilang sakitnya perlu berobat keluar. Nanti kita cari surat lagi dari keamanan, yang mengawal siapa. Tapi mereka sudah ada mekanismenya, tinggal menyerahkan duit aja ke dua atau tiga orang. Nggak usah ke semua, ada calonya.

Jadi kita tinggal bilang kalau mau keluar?

Nggak, kadang mereka yang menawarkan, sakit nggak nih? Mereka pesannya cuma satu, jangan sampai ketahuan wartawan.

Jadi dokternya juga bisa disuap?

Ya, sudah Cs. Kita keluar dikawal polisi, sipir dari penjara. Paketnya sudah ada.

Apa banyak yang memanfaatkan paket ini?

Banyak. Yah kelas saya waktu itu sekitar Rp300 sampai 400 ribu. Yang lebih tinggi ada. Kita sakit ke dokter, misalnya dibilang jantung. Di sana peralatan nggak ada, nanti lapor keamanan lapasnya, dicatat pakai buku gede, nanti harinya kita yang tentukan. Keluar pagi kadang dikawal polisi. Ada sipir dua orang diantar pakai kendaraan LP. Nanti keluar dari situ, sekitar 100 meter, kita turun, mobil kita sudah nunggu. Cuma sebelum jam lima, saat pergantian penjagaan, kita harus pulang.

Di penjara, kita bisa meminta berbagai fasilitas?

Iya. Itu diurus sebelum kita ke sana. Waktu saya belum tahu, di Polda, saya tidurnya di triplek. Waktu ke Salemba juga pertama saya belum bawa kasur, nggak ada tikar, nggak ada apa-apa. Tapi waktu pindah ke Cipinang, saya sudah tahu. Jadi kamarnya sudah disiapkan. Sudah dibersihkan, dicat. Sebelum saya datang, barang-barang sudah ada. Ada yang mengatur, di sana kamarnya nomor sekian, bloknya. Sesama napi biasanya juga sudah tahu siapa yang datang.

Fasilitasnya apa saja ?

Tergantung uang kita.

Kalau kita mau AC, bisa?

Ya bisa. Tapi peraturan tidak tertulis, semua barang yang sudah ada di situ, tidak bisa ditarik keluar, tidak boleh diambil lagi. Apa saja yang mau dibawa, selama bukan senjata, selama kita mampu dan bisa nego, bisa. Cewek saja bisa.

Kalau cewek bagaimana caranya?

Kita atur jam-jam tertentu. Tapi periodenya pendek. Kita masuk satu ruangan, misal ruang keamanan, administrasi. Kalau diketok tiga kali, rada nggak aman, jangan berisik. Di tempat itu bisa ada kasur, kulkas kecil.

Jadi kita bisa bawa kulkas, TV, AC?

Ya. Kalau nanti ada kontrol, kita sudah tahu hari ini, jam segini, nanti kita tutupin.

Wendo lalu bercerita ketika ia nonton Video Home Alone bersama Dicky, tapi tidak berani tertawa. Karena saat itu siang-siang dan jika mereka tertawa bisa ketahuan. Karena itu ketika ada adegan lucu, video dimatikan. Mereka keluar sel, ketawa-tawa dulu, lalu masuk lagi dan melanjutkan nonton.

Kenapa sembunyi-sembunyi kan sudah negosiasi waktu membawa barang-barang?

Ya sembunyi-sembunyi dong. Penjaganya kan 40 orang, yang kami sogok sedikit. Kalau kami ke dokter, semua bisa tahu. Paket itu berlaku untuk semua. Tapi kalau ini atau memasukkan cewek, nggak semuanya tahu.

Kalau ketahuan?

Dia minta uang atau barang disita, tapi yang ditakutkan bukan itu. Kami masuk letter F istilahnya. Itu artinya, kami tidak akan dapat remisi karena melanggar peraturan. Itu kami paling takut. Walau hanya 10 hari, seminggu, tapi itu berarti besar untuk kita. Biasanya yang nggak bisa bayar, yang kena letter F, di tempat abal-abal (istilah untuk napi yang tidak dapat fasilitas).

Pemindahan ke LP lain juga ada uangnya semua. Paling takut dipindah ke Cirebon karena permusuhan gengnya paling kuat. Tommy di Nusakambangan itu kan kompromi-kompromi tertentu. Dipikirnya dibuang di sana? Nggak, justru jauh dari pers. Dan begitu di sana, dia leluasa. Nggak usah pakai helikopter segala, wong di sini saja bisa. Tapi di sini kan pasti menyolok, misalnya tiap kali dia berobat.

Kalau tidak punya uang untuk semua proses itu, bagaimana?

Ya, berlaku seperti yang lainnya. Abal-abal itu. Baru diperiksa saja dibuka bajunya, disuruh jongkok, diperlakukan kayak begitu. Ketika di penjara tidak ada fasilitasnya, jam empat sudah masuk kamar, disel.

Antar tahanan ada geng-geng?

Ya, tapi mereka menurut saya jauh lebih sportif. Rule-nya lebih jelas. Ada geng Solo, Padang, Makassar.

Antar mereka apa ada intimidasi?

Nggak begitu. Intimidasi yang terjadi hanya kalau ada tahanan baru yang akan dijadikan cewek. Itu ada, tapi selebihnya nggak. Seperti Dicky, misalnya sudah ada napi sendiri yang akan mengawal dia. Sebelum datang, sudah disiapkan siapa yang akan jadi pelindung.

Yang di sana, yang ditakutkan di antara abal-abal adalah yang bunuh polisi, kursnya paling tinggi. Kasus yang paling buruk kalau memperkosa. Wah, itu abis. Bahkan di antara para napi, pemerkosa habis. Disodomi, dipaksa onani pakai rheumason sampai 7 kali. Apalagi, kalau yang main sama istri sesama napi. Menyiksa berhari-hari dengan cara paling sadis yang bisa dibayangkan.

Apa petugas diam saja?

Menutup mata. Memang rule-nya udah begitu. Sebelum dia (napi) datang saja, kami sudah tahu.

Apa penghubung dengan dunia luar?

Wah banyak banget. Apa saja bisa. Jaman saya belum ada HP saja bisa. Kami pakai telpon yang ada di situ, kita suruhan orang, yang besuk. Komunikasinya luar biasa. Yang di dalam ada yang dapat suplai dari bos-bos di luar, karena anak buahnya si ini. Besuk bukan hanya jam-jam tertentu. Ada lewat penjaganya atau lewat penjaga yang di menara. Pakai tali, makanan dibawa dari situ.

Dengan perantara petugas?

Semua kejadian itu selalu melibatkan petugas. Hampir tidak mungkin mereka murni sendiri. Dari makanan, buku porno

Bagaimana dengan obat-obatan, narkotika?

Obat leluasa di sana. Bisa petugas menjual, dari luar bisa, kita suruh petugas beli di luar bisa, beli di dalam bisa. Paling kalau nggak beli di dalam, kalau ketahuan ribut, kenapa nggak beli di dalam.

Di dalam ada yang jual?

Oh iya dong. Bandar-bandarnya top-top semua.

Bandar di dalam dapat pasokan barang dari mana?

Dari luar, dari pengunjung ke arah dia. Dan di dalam kan nggak bisa ditangkap lagi. Itu yang gede-gede. Yang miskin-miskin, pakai Napacin. Napacin dua ditelan langsung teler atau Paramex atau Spirtus campur kopi. Tapi yang paling banyak dan yang hampir semua menggunakan itu ganja dan AO, arak obat. Belinya dari penjaga.

Apa itu semua karena kesejahteraan petugas yang sangat minim?

Bukan minim, kurang banget. Saya beritahu ya, untuk tingkat kepala penjara saja– kayak rutan Salemba–waktu saya di dalam resminya gajinya cuma empat ratus ribu, nggak sampai lima ratus ribu. Itu take home pay. Lulusan SMA yang kerja di situ kira-kira 18 sampai 20 tahun, baru jadi yang namanya kepala regu, bukan kepala keamanan lho.

Jadi ada satu periode tertentu. Sehari itu dibagi tiga regu, ia bosnya. Itu saja gajinya hanya dua ratus ribuan. Artinya, godaannya untuk itu terlalu besar. Mereka hidup di Jakarta. Mereka melek, yang dikawal tidur. Saya tidak membenarkan mekanisme ini, tapi inilah yang terjadi. Sehingga, sedemikian mudahlah seorang Edy Tanzil itu nggak kembali. Untuk seorang Edy Tanzil, Tommy, penyelundup, ini (menyuap) nggak ada artinya.

Semakin tinggi pangkat, uang suap semakin besar?

Iya. Dibanding temannya, karena ia koordinator–misalnya istri mau datang–kita cuma ngomong sama kepala regu. Wakilnya sudah, mereka bagi sendiri.

Kepala penjara?

Sudah ada sendiri. Dealnya lain. Kepala penjara, kepala keamanan, deal-nya lain. Sejak sebelum masuk sudah deal.

Apa yang seharusnya dilakukan untuk memperbaiki kondisi ini?

Yang bisa dilakukan orang dari luar, misalnya membuat panduan yang menjelaskan posisi mereka, hak-hak mereka. Perkara itu didapat atau nggak, itu soal lain. Kedua, bagaimana mengaktifkan, memberi kesempatan organisasi-organisasi di luar untuk membantu penjara.

Sekarang yang bergerak hanya dari kelompok agama. Mengajar mengaji, berdoa, natalan. Seharusnya, organisasi sosial banyak yang bisa begitu. (Wendo menunjukkan tumpukan lukisan yang menurutnya dibuat oleh napi) Saya ajarin mereka melukis sampai sekarang. Karena sangat berarti untuk kepercayaan diri, supaya kepercayaan diri mereka ada lagi ketika keluar.

Bagaimana dengan pembenahan sistem di dalam?

Nggak. Peraturan sudah ada semua, tinggal dijalankan dengan bener. Sudah komplet aturannya. Yang perlu adalah menjalankan mekanisme dinamis dari sistem.

(Nay)



Wawancara

Arswendo Atmowiloto: Gobloknya, Jaksa Terima Pakai Cek

[18/02/03]

Masih ingat kasus polling di tabloid Monitor yang mengakibatkan pemimpin redaksinya, Arswendo Atmowiloto, masuk bui? Pengalamannya melalui proses peradilan dan menjalani hukuman di penjara, membuat Wendo–begitu ia biasa dipanggil–mengetahui persis lika-liku proses peradilan maupun kehidupan di penjara. Termasuk, korupsi yang terjadi dalam setiap proses itu.

Karena itu, ketika berbicara dalam peluncuran buku “Menyingkap Mafia Peradilan” yang digelar ICW baru-baru ini, Wendo dengan santai menyatakan bahwa cara paling mudah untuk mengetahui pola korupsi di peradilan adalah dengan menjadi ‘pesakitan’.

Meski telah keluar keluar dari penjara pada 1995 dan kembali menghasilkan berbagai karya, Wendo tentu belum lupa pengalamannya selama menjalani proses hukum itu. Sekarang, kegiatan Wendo segudang, mulai dari serial “Keluarga Cemara”–tontonan keluarga yang banyak mendapat pujian–menjadi pimpinan penerbitan majalah anak-anak, sampai memiliki rumah produksi Atmochademas Persada.

Karena itu, hukumonline merasa perlu mewawancarai pria kelahiran tahun 1948 ini dan memintanya bercerita mengenai pengalamannya itu. Karena, kelihatannya keadaan peradilan dan pemasyarakatan saat ini masih tidak jauh berbeda dengan keadaan pada saat itu. Berikut petikan wawancara hukumonline dengan Wendo:

Bisa diceritakan pengalaman Anda sebagai orang yang awam hukum tiba-tiba harus berhadapan dengan proses peradilan?

Saya kira semua orang akan sama. Dalam arti, orang itu tidak ada pengalaman ditahan dan tidak ada persiapan untuk ditahan. So, yang pertama terjadi pastilah shock. Kedua, ia tidak mengerti rule-nya yang sebenarnya. Hak dia apa, kewajiban ia apa. Hubungan ke mana, ia tidak mengerti. Yang dimengerti adalah yang formal-formal, oh perlu pengacara. Padahal, realitas empiris yang terjadi tidak seperti itu.

Bagimana awal mulanya dari setelah polling Monitor itu sampai menjalani proses peradilan?

Setelah polling pada awal Oktober, terjadi protes yang eksklalatif. Sehingga pada 22 Oktober 1990, kantor saya didemo, dirusak, dan sebagainya. Saat itu, saya di kantor dan harus membuka pameran lukisan di balai budaya. Tapi karena keadaannya sudah seperti itu, siang itu saya melarikan diri bersama teman-teman dalam mobil boks untuk mengirim koran untuk menghindari massa karena kantor saya belakangnya tidak ada jalan tembusnya.

Kemudian, saya yang berada di kantor teman mendengar ada pendemo yang ditangkap. Begonya saya, saya datang ke kantor polisi di Kramat Raya. Saya datang ke situ cuma diantar supir saya. Saya bertemu mereka yang ditangkap dan dengan sok gagah saya bilang, “mereka mestinya tidak usah ditangkap, mereka tidak salah-salah amat, tidak usah ditahan”. Untuk keamanan, saya disuruh tinggal di situ. Di situ nggak bisa pulang, saya tanya status saya bagaimana. Lalu kejadian merebak ke arah itu (proses hukum-red).

Lima hari kemudian, saya resmi ditahan. Waktu lima hari itu status saya tidak jelas. Saya pastilah kontak-kontak orang-orang tertentu, termasuk Mensesneg Moerdiono, menjelaskan, kejadiannya begini. Tapi jawabannya, hanya tunggu saja dulu.

Sebagai tahanan, saya diperiksa. Di situ konflik-konflik muncul karena ketidaktahuan tadi. Saya cari pengacara, tidak ada yang berani. (Mohammad) Assegaf, siapa lagi, dikontak tidak berani. Mereka menolak karena kasusnya seperti itu.

Akhirnya, saya ke kantor pengacaranya Oemar Seno Adji. Beliau ini dulu yang merumuskan pasal itu. Pasal yang didakwakan pada saya adalah 156 KUHP. Tadinya, pasal itu cuma 156 lalu ada rinciannya 156a. Salah satu perumusnya adalah Oemar Senoadji, so ia menyatakan bersedia.

Saya hormat betul dengan kelompoknya Pak Oemar waktu itu. Waktu dengar-dengar di dalam bahwa kita bisa bertemu jaksa, saya bilang (pada pengacara) mau bertemu jaksa. Ia bilang kurang lebih, “Pokoknya saya nggak mau tau yang itu. Dia nggak mau jadi calo, bagus itu. Kalau berurusan, nggak usah dilaporin saya.”

Mulai tahu bahwa bisa melakukan hal seperti itu?

Di dalam. Ketika pemeriksaan polisi sudah mulai. Polisinya mulai bertanya, “Mau bertemu dengan jaksanya nggak? Sudah ketahuan nih jaksanya si A”. Saya tanya aturannya bagaimana. “Ketemu saja dulu, ngobrol aja di situ sendiri dulu”. Dikasih ruangan lalu, kami ngobrol. Jaksanya bilang, “nanti kita bantu, pasalnya yang akan didakwakan begini”.

Lalu Anda memberi uang pada jaksa?

Itu saat pemeriksaan. Status saya sudah dipindah dari polisi, dipindah ke Salemba. Di rutan kan sudah kenal dengan jaksanya, ketemu ngobrol-ngobrol, dibilang pasalnya segini. “Ini pasal maksimumnya lima tahun, saya akan nuntut sekitar tiga tahun”. “Wah masih tinggi banget”, saya bilang. “Biasanya hakim duapertiga dari situ, dua tahun,” kata jaksanya. “Dua tahun itu nanti dapat remisi, dapat ini-itu”.

Diminta menyetor berapa?

Tawar-menawar kami, saya nggak punya duit banyak. Akhirnya Rp75 juta. Untuk saya sih ya sudahlah, habis-habisan. Ia minta cash, saya nggak bisa cash, kecuali saya boleh keluar. Akhirnya lewat istri, pakai cek. Gobloknya, jaksa terima pakai cek. Padahal, katanya itu tidak lazim. Istri saya datang ke rumahnya ngasih cek, tapi itu dia terima.

Saya kemudian sudah agak tenang, hubungannya (dengan jaksa) juga baik. Jaksa menyuruh saya bikin surat pada hakim, akhirnya saya bikin surat, tolonglah. Nah di situ mafia, bahkan menurut saya sudah lebih dari mafia. Mereka sudah menyatakan, nanti jaksanya menuntut tiga tahun, hakim memutuskan dua tahun, dan dua tahun itu kamu nanti begitu Agustus dapat remisi dan lain-lain.

Tuntutannya apa benar tiga tahun?

Nggak, tuntutannya tetap lima tahun. Sehari saja, nggak kurang. Kan saya marah, saya cari jaksanya. Tapi ia juga baik kok, dia datang. Artinya, cukup ksatria juga. Saya tanya kenapa menuntut lima tahun, dia bilang, “saya hanya menjalankan tugas”. Duitnya balik apa nggak, ya pasti nggak.

Bagaimana berhubungan dengan hakim Pengadilan Negeri?

Melalui jaksa, mereka yang ngatur. Mungkin juga nggak sampai…saya nggak tahu.

Jadi jaksa janjikan Rp75 juta itu untuk mengurangi tuntutan dan untuk vonis dua tahun?

Ya. Ia yang akan menghubungi hakimnya. Saya tanya sudah ketemu Pak Sarwono hakimnya. “Ya, sudah sering kok,” kata dia.

Vonisnya?

Juga lima tahun, satu pun nggak ada pengurangan. Padahal, disebut berkelakuan baik, membantu persidangan, punya tanggungjawab keluarga, punya masa depan, tapi satu hari pun nggak kurang.

Kemudian banding. Banding, saya sudah mulai nggak percaya lagi. Sudah lebih lihai, nego sama panitera. Saya tahu lewat petugas di LP, kalau hubungi si ini, begini. Mereka sudah tahu petanya, kalau Jakarta Pusat, oh nanti pas sidangnya berkasnya nanti masuk ke majelis ini. Infonya dari petugas LP dan teman-teman di penjara. Si A lewat ini begini, si B lewat ini begini.

Panitera datang terang-terangan. Dia memberi nama, alamat, telpon untuk dihubungi. Tawar-menawar. Dia janji kan nanti berkas akan dibuat sedemikian rupa, sehingga hakim tingginya ini. Nanti hakim ini bisa diajak kompromi, bisa diajak ngomong. Ia akan menghubungi hakimnya juga. Ia bilang bisa kurang satu tahun, bayarnya Rp30 juta. Saya nggak mau kasih dulu. Nanti kalau ada putusannya, baru saya mau bayar. Tapi, dia nggak mau.

Akhirnya sepakat seminggu sebelum putusan keluar, duitnya baru dikasih semuanya. Saya bilang mau pakai cek, tanggalnya tanggal setelah putusan. Tapi dia bilang nggak bisa karena mesti cair dulu duitnya. Jaminannya apa saya tanya, “ya kita kenal baik, saya kenal Bapak, Bapak kenal saya”, dan beberapa teman meyakinkan ia. Memang berhasil, tapi hanya enam bulan.

Ia tadinya menjanjikan hukumannya berkurang berapa?

Kami tawar menawar. Saya bilang satu tahun pun nggak apa-apa, tapi Rp30 juta, karena duit saya sudah terakhir. Ternyata, cuma enam bulan. Saya juga sempat tanya ke dia, lho kok cuma enam bulan. Dia bilang, “Wah berat Mas. Perkara Mas menarik perhatian”. Itu alasan dia, mungkin benar.

Kasasi bagaimana?

Kasasi coba lagi, lebih pintar lagi. Tetap nggak saya keluarkan uangnya, masih tawar menawar. Kalau kasasi, itu jalurnya petugas penjara karena mereka punya banyak kenalan. Saya mengambil surat putusan PT saja perlu dana. Surat fotokopi saja nyuruh orang bayar, mengambil bayar. Dari petugas di sini, nanti bayar di sana, wis semuanya bayar.

Deal untuk kasasi bagaimana?

Orangnya bilang bisa dikurangi. Saya seminggu sebelum putusan akan dapat nomor-nomornya. Tapi, rupanya ini (pemeriksaan) berjalannya lama nggak kelar-kelar. Sementara saya ditahan makin lama makin berkurang, sampai saya hampir keluar baru ada deal lagi. Padahal, saya sudah istilahnya asimilasi. Kalau sudah menjalani separuh hukuman dan berkelakuan baik, saya bisa asimilasi. Asimilasi artinya pagi saya keluar, sore saya balik lagi.

Itu resmi?

Resmi. Tapi untuk mengurus asimilasi, itu butuh biaya besar. Setelah saya asimilasi, baru mereka menghubungi lagi. Tapi saya pikir, saya tinggal menjalani sekitar satu tahun setengah lagi. Ya sudah, tidak jadi.

Putusan kasasi apa?

Membenarkan putusan Pengadilan Tinggi. Tapi dalam bahasa hukumnya di situ, menilai sendiri kemudian memutuskan hukuman empat tahun enam bulan. Tapi itu istilahnya kalau di dalam penjara, velg. Velg itu tidak pakai dorongan, nggak pakai suapan atau apa.

Jadi korupsi dalam proses peradilan itu memang benar-benar terorganisir, tidak salah kalau dibilang mafia?

More than mafia. Mafia itu hanya klan sendiri. Ini klan orang lain, bisa ikutan kok… Dan itu tidak tertutup. Ada ruang khusus. Dan, celah-celah hukum memungkinkan itu. Misalnya, jaksa bertemu tersangka atau terdakwa. Kita dibawa ke kejaksaan, disuruh ngobrol, diperlihatkan pasalnya. Artinya, peluang itu ada.

Jadi, kesempatan jaksa bertemu terdakwa juga digunakan untuk tawar menawar?

Ya.

Di penjara, di mana tempat negosiasinya?

Di ruang besuk itu. Biasanya di tempat keamanan atau di mana, bukan yang besukan ramai-ramai. Tapi mojok, ngobrol.

Tapi itu terbuka, tidak sembunyi-sembunyi?

Nggak. Kami ngobrol di sini, sebelahnya mungkin lagi ketemu negosiasi juga. Kalau di ruang keamanannya itu, kami ngomong di sini, di sana juga ada yang lagi ngomong. Dan habis itu, kami kan juga komunikasi. Di dalam kan semua napinya komunikasi.

“Lu (kamu, Red) sama dia berapa, kasus lu penyelundupan sih enak. Judi juga enak. Paling tiga bulan di sini”. Tarifnya sudah ada. Untuk judi dan penyelundupan, biasanya mereka orang-orang yang sekadar masuk ke situ. Kalau judi atau apa kan bukan pelakunya, tapi orang yang yah kalau ditangkap dia lah yang ditangkap.

Bukan bekingnya?

Wah bukan, bukan bandarnya, penyelundupan juga begitu.

Sesama napi sudah tahu tarif-tarifnya?

Iya, kita sudah diberi tahu, lu jangan lewat dia.

Wendo lalu menceritakan tentang Dicky Iskandar DiNata yang melakukan negosiasi melalui calo, antara lain melalui Ais Anantama Said, anak ketua MA saat itu, Ali Said. Ais sendiri membantah pernyataan Dicky.

Dicky saat itu sempat diperas sampai Rp3 miliar?

Ya. Karena, kasusnya dia memang kasus duit. Kasus penyelundupan, bank, judi yang gede. Pemalsuan kartu kredit itu termasuk ‘kasus berdasi’ istilahnya. Untuk kasus berdasi, melibatkan jumlah uang yang besar. Untuk di luar kasus berdasi, tarifnya lebih murah.

Tapi jangan lupa, itu yang kelas penodong segala juga ada. Sejak dari LP mau ke pengadilan, bisa negosiasi, mau duduk di sebelah supir atau di belakang, mau diborgol atau tidak.

Dalam seluruh proses dari pemeriksaan sampai di LP, selain untuk menyuap hakim dan jaksa, untuk survive sehari-hari juga ada penyuapan?

Ya. Tergantung kita punya duit berapa. Untuk asimilasi, untuk berobat.

Bisa dijelaskan mekanisme berobat ?

Bilang sakit saja, datang ke dokter, CS-an sama dokternya nanti dibilang sakitnya perlu berobat keluar. Nanti kita cari surat lagi dari keamanan, yang mengawal siapa. Tapi mereka sudah ada mekanismenya, tinggal menyerahkan duit aja ke dua atau tiga orang. Nggak usah ke semua, ada calonya.

Jadi kita tinggal bilang kalau mau keluar?

Nggak, kadang mereka yang menawarkan, sakit nggak nih? Mereka pesannya cuma satu, jangan sampai ketahuan wartawan.

Jadi dokternya juga bisa disuap?

Ya, sudah Cs. Kita keluar dikawal polisi, sipir dari penjara. Paketnya sudah ada.

Apa banyak yang memanfaatkan paket ini?

Banyak. Yah kelas saya waktu itu sekitar Rp300 sampai 400 ribu. Yang lebih tinggi ada. Kita sakit ke dokter, misalnya dibilang jantung. Di sana peralatan nggak ada, nanti lapor keamanan lapasnya, dicatat pakai buku gede, nanti harinya kita yang tentukan. Keluar pagi kadang dikawal polisi. Ada sipir dua orang diantar pakai kendaraan LP. Nanti keluar dari situ, sekitar 100 meter, kita turun, mobil kita sudah nunggu. Cuma sebelum jam lima, saat pergantian penjagaan, kita harus pulang.

Di penjara, kita bisa meminta berbagai fasilitas?

Iya. Itu diurus sebelum kita ke sana. Waktu saya belum tahu, di Polda, saya tidurnya di triplek. Waktu ke Salemba juga pertama saya belum bawa kasur, nggak ada tikar, nggak ada apa-apa. Tapi waktu pindah ke Cipinang, saya sudah tahu. Jadi kamarnya sudah disiapkan. Sudah dibersihkan, dicat. Sebelum saya datang, barang-barang sudah ada. Ada yang mengatur, di sana kamarnya nomor sekian, bloknya. Sesama napi biasanya juga sudah tahu siapa yang datang.

Fasilitasnya apa saja ?

Tergantung uang kita.

Kalau kita mau AC, bisa?

Ya bisa. Tapi peraturan tidak tertulis, semua barang yang sudah ada di situ, tidak bisa ditarik keluar, tidak boleh diambil lagi. Apa saja yang mau dibawa, selama bukan senjata, selama kita mampu dan bisa nego, bisa. Cewek saja bisa.

Kalau cewek bagaimana caranya?

Kita atur jam-jam tertentu. Tapi periodenya pendek. Kita masuk satu ruangan, misal ruang keamanan, administrasi. Kalau diketok tiga kali, rada nggak aman, jangan berisik. Di tempat itu bisa ada kasur, kulkas kecil.

Jadi kita bisa bawa kulkas, TV, AC?

Ya. Kalau nanti ada kontrol, kita sudah tahu hari ini, jam segini, nanti kita tutupin.

Wendo lalu bercerita ketika ia nonton Video Home Alone bersama Dicky, tapi tidak berani tertawa. Karena saat itu siang-siang dan jika mereka tertawa bisa ketahuan. Karena itu ketika ada adegan lucu, video dimatikan. Mereka keluar sel, ketawa-tawa dulu, lalu masuk lagi dan melanjutkan nonton.

Kenapa sembunyi-sembunyi kan sudah negosiasi waktu membawa barang-barang?

Ya sembunyi-sembunyi dong. Penjaganya kan 40 orang, yang kami sogok sedikit. Kalau kami ke dokter, semua bisa tahu. Paket itu berlaku untuk semua. Tapi kalau ini atau memasukkan cewek, nggak semuanya tahu.

Kalau ketahuan?

Dia minta uang atau barang disita, tapi yang ditakutkan bukan itu. Kami masuk letter F istilahnya. Itu artinya, kami tidak akan dapat remisi karena melanggar peraturan. Itu kami paling takut. Walau hanya 10 hari, seminggu, tapi itu berarti besar untuk kita. Biasanya yang nggak bisa bayar, yang kena letter F, di tempat abal-abal (istilah untuk napi yang tidak dapat fasilitas).

Pemindahan ke LP lain juga ada uangnya semua. Paling takut dipindah ke Cirebon karena permusuhan gengnya paling kuat. Tommy di Nusakambangan itu kan kompromi-kompromi tertentu. Dipikirnya dibuang di sana? Nggak, justru jauh dari pers. Dan begitu di sana, dia leluasa. Nggak usah pakai helikopter segala, wong di sini saja bisa. Tapi di sini kan pasti menyolok, misalnya tiap kali dia berobat.

Kalau tidak punya uang untuk semua proses itu, bagaimana?

Ya, berlaku seperti yang lainnya. Abal-abal itu. Baru diperiksa saja dibuka bajunya, disuruh jongkok, diperlakukan kayak begitu. Ketika di penjara tidak ada fasilitasnya, jam empat sudah masuk kamar, disel.

Antar tahanan ada geng-geng?

Ya, tapi mereka menurut saya jauh lebih sportif. Rule-nya lebih jelas. Ada geng Solo, Padang, Makassar.

Antar mereka apa ada intimidasi?

Nggak begitu. Intimidasi yang terjadi hanya kalau ada tahanan baru yang akan dijadikan cewek. Itu ada, tapi selebihnya nggak. Seperti Dicky, misalnya sudah ada napi sendiri yang akan mengawal dia. Sebelum datang, sudah disiapkan siapa yang akan jadi pelindung.

Yang di sana, yang ditakutkan di antara abal-abal adalah yang bunuh polisi, kursnya paling tinggi. Kasus yang paling buruk kalau memperkosa. Wah, itu abis. Bahkan di antara para napi, pemerkosa habis. Disodomi, dipaksa onani pakai rheumason sampai 7 kali. Apalagi, kalau yang main sama istri sesama napi. Menyiksa berhari-hari dengan cara paling sadis yang bisa dibayangkan.

Apa petugas diam saja?

Menutup mata. Memang rule-nya udah begitu. Sebelum dia (napi) datang saja, kami sudah tahu.

Apa penghubung dengan dunia luar?

Wah banyak banget. Apa saja bisa. Jaman saya belum ada HP saja bisa. Kami pakai telpon yang ada di situ, kita suruhan orang, yang besuk. Komunikasinya luar biasa. Yang di dalam ada yang dapat suplai dari bos-bos di luar, karena anak buahnya si ini. Besuk bukan hanya jam-jam tertentu. Ada lewat penjaganya atau lewat penjaga yang di menara. Pakai tali, makanan dibawa dari situ.

Dengan perantara petugas?

Semua kejadian itu selalu melibatkan petugas. Hampir tidak mungkin mereka murni sendiri. Dari makanan, buku porno

Bagaimana dengan obat-obatan, narkotika?

Obat leluasa di sana. Bisa petugas menjual, dari luar bisa, kita suruh petugas beli di luar bisa, beli di dalam bisa. Paling kalau nggak beli di dalam, kalau ketahuan ribut, kenapa nggak beli di dalam.

Di dalam ada yang jual?

Oh iya dong. Bandar-bandarnya top-top semua.

Bandar di dalam dapat pasokan barang dari mana?

Dari luar, dari pengunjung ke arah dia. Dan di dalam kan nggak bisa ditangkap lagi. Itu yang gede-gede. Yang miskin-miskin, pakai Napacin. Napacin dua ditelan langsung teler atau Paramex atau Spirtus campur kopi. Tapi yang paling banyak dan yang hampir semua menggunakan itu ganja dan AO, arak obat. Belinya dari penjaga.

Apa itu semua karena kesejahteraan petugas yang sangat minim?

Bukan minim, kurang banget. Saya beritahu ya, untuk tingkat kepala penjara saja– kayak rutan Salemba–waktu saya di dalam resminya gajinya cuma empat ratus ribu, nggak sampai lima ratus ribu. Itu take home pay. Lulusan SMA yang kerja di situ kira-kira 18 sampai 20 tahun, baru jadi yang namanya kepala regu, bukan kepala keamanan lho.

Jadi ada satu periode tertentu. Sehari itu dibagi tiga regu, ia bosnya. Itu saja gajinya hanya dua ratus ribuan. Artinya, godaannya untuk itu terlalu besar. Mereka hidup di Jakarta. Mereka melek, yang dikawal tidur. Saya tidak membenarkan mekanisme ini, tapi inilah yang terjadi. Sehingga, sedemikian mudahlah seorang Edy Tanzil itu nggak kembali. Untuk seorang Edy Tanzil, Tommy, penyelundup, ini (menyuap) nggak ada artinya.

Semakin tinggi pangkat, uang suap semakin besar?

Iya. Dibanding temannya, karena ia koordinator–misalnya istri mau datang–kita cuma ngomong sama kepala regu. Wakilnya sudah, mereka bagi sendiri.

Kepala penjara?

Sudah ada sendiri. Dealnya lain. Kepala penjara, kepala keamanan, deal-nya lain. Sejak sebelum masuk sudah deal.

Apa yang seharusnya dilakukan untuk memperbaiki kondisi ini?

Yang bisa dilakukan orang dari luar, misalnya membuat panduan yang menjelaskan posisi mereka, hak-hak mereka. Perkara itu didapat atau nggak, itu soal lain. Kedua, bagaimana mengaktifkan, memberi kesempatan organisasi-organisasi di luar untuk membantu penjara.

Sekarang yang bergerak hanya dari kelompok agama. Mengajar mengaji, berdoa, natalan. Seharusnya, organisasi sosial banyak yang bisa begitu. (Wendo menunjukkan tumpukan lukisan yang menurutnya dibuat oleh napi) Saya ajarin mereka melukis sampai sekarang. Karena sangat berarti untuk kepercayaan diri, supaya kepercayaan diri mereka ada lagi ketika keluar.

Bagaimana dengan pembenahan sistem di dalam?

Nggak. Peraturan sudah ada semua, tinggal dijalankan dengan bener. Sudah komplet aturannya. Yang perlu adalah menjalankan mekanisme dinamis dari sistem.

(Nay)

>

NASEHAT DIRI

Suka duka perih sedih – jalani

hina mulia senang susah – jalani

jangan hitung buntung dan untung

seperti dulu kerja di restoran

menggunung tinggi cucian

menumpuk kas-kas minuman soft-drink

jangan takut – jalani dan lakukan

jangan marah jangan berwajah segi delapan

biar pelan tapi terus jalan

diam-diam dia sudah rapi.

Jadi orang jangan setengah-setengah

jadi orang harus tuntas dan utuh

dorong tarik gerobak tua

mendaki dan menurun

pastikan agar sampai ke tujuan,-

Holland, 17 febr 03

Sobron Aidit