New domain rules ‘will make hijacking easier’

November 10, 2004

New rules for domain transfers will come into effect on Friday, making it easier for people to hijack domains, according to the security and network services company Netcraft.

The new rules, set by the Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN), will mean that requests for transferring a domain will be automatically approved in five days unless they are denied by the owner of the domain.

Currently, the ownership of a domain and the nameservers allotted stay as such if a request for a transfer evokes no response.

Domain owner who do not manage their records carefully face problems under the new regime. If the contact addresses given in the records are incorrect then a request for transfer would go to a wrong address and after five days of no response, the transfer would become effective.

No reply becomes the equivalent of saying “yes” to a transfer request, according to the new ICANN policy.

“Failure by the Registrar of Record to respond within five (5) calendar days to a notification from the Registry regarding a transfer request will result in a default ‘approval’ of the transfer,” the new rules state.

“In the event that a Transfer Contact listed in the Whois has not confirmed their request to transfer with the Registrar of Record and the Registrar of Record has not explicitly denied the transfer request, the default action will be that the Registrar of Record must allow the transfer to proceed.”

Netcraft said some prominent domains which had lapsed without being renewed included the lapse included The Washingon Post, the Gawker weblog and perhaps the most embarassing gaffe yet, the UK domain for Ogilvy Mather.

ICANN appears to be anticipating a spike in disputes as it has appointed staff to manage its domain dispute resolution policy.

Jika surga dan neraka tak pernah ada

Kutipan seorang tokoh sufi Basra abad ke 8
Rabi’ah Al Adawiyah dalam sebuah doanya.

“O God,
if I worship You for fear of Hell,
burn me in Hell,
And if I worship You in hope of Paradise,
Exclude me from Paradise.
But if I worship You for Your Own sake,
Grudge me not Your everlasting Beauty.”

(sumber: http://www.sufimaster.org/adawiyya.htm)

“Ya Allah,
jika aku menyembah-Mu, hanya karena takut api neraka,
bakarlah aku dalam neraka.
Dan jika aku menyembah-Mu, hanya karena mengharap surga,
keluarkan aku dari surga.
Tapi jika demi Engkau aku menyembah,
jangan sangkal aku dari karunia-Mu yang kekal”

Chrisye feat Ahmad Dhani:

Apakah kita semua, benar-benar tulus menyembah padaNya?
Atau mungkin kita hanya, takut pada neraka, dan inginkan surga

Reff:
Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepadaNya?
Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau, menyebut namaNya?

Sudah Sedemikian Keraskah Hati Ini?

Di dalam perjalanan menuju kantor, saya terlelap menikmati sejuknya udara dalam bis. Tak terasa hingga kondektur bis membangunkanku untuk menagih ongkos, dengan mataku yang masih merejap kuulurkan sejumlah uang untuk membayar ongkos bis. Dan … samar mataku menangkap sosok seorang ibu setengah baya berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Tapi, rasa kantuk dan lelah ku mengalahkan niat baik untuk memberikan tempat duduk untuk ibu tersebut.

Turun dari bis, baru lah sisi baik hati ini bergumam, “Andai saya berikan tempat duduk kepada ibu tadi, mungkin pagi hari ini keberkahan bisa kuraih”. “Siapa tahu ridha Allah untuk ku di hari ini dari doa dan terima kasih ibu itu jika saja kuberikan tempat dudukku …” Ah, kenapa baru kemudian diri ini menyesal?

Semalam dalam perjalanan pulang dengan kereta api, duduk di hadapan saya seorang bapak berusia 40-an. Lewat seorang penjual air minum kemasan, dan ia segera menyetopnya untuk membeli. Tangan kirinya memegang segelas air minum kemasan sementara tangan satunya merogoh-rogoh kantongnya. Sesaat ia memperhatikan beberapa keping yang ia mampu raih dari bagian terdalam kantongnya, ternyata … ia mengembalikan segelas air minum kemasan yang sudah digenggamnya kepada penjual air sambil menahan rasa hausnya.

Saya yang sedari tadi di depan bapak itu hanya bisa menjadikan serangkaian adegan itu sebagai tontonan. Tidak ada tawaran kebaikan keluar dari mulut ini untuk membelikannya air minum, meski di kantong saya terdapat sejumlah uang yang bahkan bisa untuk membeli dua dus air minum kemasan! Bayangkan, cuma 500 rupiah yang dibutuhkan bapak itu tapi hati ini tak juga tergerak?

Kemarin, sebelum Isya, juga dalam perjalanan pulang. Hanya berjarak 200 meter dari kantor, saya melewati pemandangan yang menyentuh hati. Di pinggir jalan Wijaya, Jakarta Selatan, sekeluarga pemulung tengah menikmati penganan kecil berbuka puasa mereka. Suami, istri beserta dua anaknya itu tetap lahap meski yang mereka nikmati hanya sebungkus kue -entah pemberian siapa. Sempat langkah ini terhenti setelah tujuh atau delapan langkah melewati mereka, sempat pula saya berpikir untuk menghampiri keluarga itu untuk sekadar mengajak mereka makan. Tapi … bayangan ingin segera bertemu anak-anakku di rumah mengalihkan langkahku untuk meneruskan perjalanan.

Padahal, dengan uang yang saya miliki saat itu, sepuluh bungkus nasi goreng pun bisa saya belikan. Apalagi jumlah mereka hanya empat kepala. Dan kalau pun harus tergesa-gesa, toh semestinya saya bisa memberikan sejumlah uang untuk makan mereka malam itu, atau juga untuk sahur esok hari. Duh, kenapa kaki ini justru meneruskan langkah sekadar untuk memburu kecupan kedua putriku sebelum mereka tidur?

Pagi ini. Saya coba renungi semua perjalanan hidup ini. Ya Tuhan, sudah sedemikian keras kah hati ini? Sehingga tanpa rasa berdosa kulewatkan begitu banyak kesempatan berbuat baik. Bukankah selama ini saya selalu berdoa agar Engkau memberikanku kemudahan untuk berbuat baik terhadap sesama? Tetapi ketika Engkau berikan jalan itu, aku malah melewatkannya.

Berikan kesempatan itu lagi untukku, Tuhan.

Bayu Gautama