A HUGE DEBT for rakyat indonesia…

From an article here.
Here’s some excerpt:

AMY GOODMAN: Okay. Explain the company you worked for.

JOHN PERKINS: Well, the company I worked for was a company named Chas. T. Main in Boston, Massachusetts. We were about 2,000 employees, and I became its chief economist. I ended up having fifty people working for me. But my real job was deal-making. It was giving loans to other countries, huge loans, much bigger than they could possibly repay. One of the conditions of the loan–let’s say a $1 billion to a country like Indonesia or Ecuador–and this country would then have to give ninety percent of that loan back to a U.S. company, or U.S. companies, to build the infrastructure–a Halliburton or a Bechtel. These were big ones. Those companies would then go in and build an electrical system or ports or highways, and these would basically serve just a few of the very wealthiest families in those countries. The poor people in those countries would be stuck ultimately with this amazing debt that they couldn’t possibly repay. A country today like Ecuador owes over fifty percent of its national budget just to pay down its debt. And it really can’t do it. So, we literally have them over a barrel. So, when we want more oil, we go to Ecuador and say, “Look, you’re not able to repay your debts, therefore give our oil companies your Amazon rain forest, which are filled with oil.” And today we’re going in and destroying Amazonian rain forests, forcing Ecuador to give them to us because they’ve accumulated all this debt. So we make this big loan, most of it comes back to the United States, the country is left with the debt plus lots of interest, and they basically become our servants, our slaves. It’s an empire. There’s no two ways about it. It’s a huge empire. It’s been extremely successful.

AMY GOODMAN: We’re talking to John Perkins, author of Confessions of an Economic Hit Man. You say because of bribes and other reason you didn’t write this book for a long time. What do you mean? Who tried to bribe you, or who — what are the bribes you accepted?

JOHN PERKINS: Well, I accepted a half a million dollar bribe in the nineties not to write the book.

AMY GOODMAN: From?

JOHN PERKINS: From a major construction engineering company.

AMY GOODMAN: Which one?

… [deleted]

Check the link above for the rest of the story.

Meja Kayu

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.

Keluarga itu biasa makan bersama diruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu,” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan.

Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek. Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.

Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.”

Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

Author Unknown

Hentikan Memberi Uang Kepada Anak Jalanan

Subject: Hentikan Memberi Uang Kepada Anak Jalanan

Banyak pihak dan yayasan yang telah mencoba menolong mereka dengan memberikan sekolah gratis, makanan gratis dan rumah singgah bagi mereka. Namun mereka tetap kembali ke jalan. Mengapa? Karena Uang Anda!

Karena setiap hari mereka memperoleh “uang gampang” paling sedikit Rp.25.000,- itu berarti dalam sebulan mereka bisa memperoleh Rp.750.000,- Jumlah yang cukup besar, tidak heran mereka memilih untuk tetap di jalan.

Tapi jika dibiarkan, 10-20 tahun lagi mereka akan tetap berada di jalanan dan bisa jadi menjadi preman yang tinggal di jalan dan melahirkan anak-anak kurang mampu dan yang tidak berpendidikan. Ini akan menjadi lingkaran setan di negara kita.

Mereka bukannya tidak punya pilihan lain, apa yang bisa kita lakukan agar mereka tidak berada di jalanan lagi ?

BERHENTI MEMBERIKAN UANG KEPADA MEREKA!!!

Dengan begitu kita menolong mereka dari resiko-resiko berbahaya serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyambut uluran tangan yayasan dan melakukan hal-hal yang berguna untuk masa depannya kelak.

Lewat tindakan kita dan kesempatan yang kita berikan, kita secara tidak langsung sedang memulihkan hak-hak asasi anak menurut Konvensi hak anak PBB (diratifikasi Keppres RI No. 36/1990) :
– Hak untuk hidup
– Hak untuk tumbuh dan berkembang
– Hak untuk memperoleh perlindungan
– Hak untuk berpartisipasi

Dengan kita berhenti memberikan “uang gampang” berarti kita telah menjadi sukarelawan pasif dalam usaha pemulihan hak asasi anak. Disatu sisi kita kasihan melihat mereka namun jika kita memberi uang maka mereka akan tetap seperti itu dan tidak mau menyambut uluran tangan dari yayasan-yayasan yang berniat membantu mereka. Di sisi lain dengan tidak memberikan uang maka kita berharap masa depan mereka akan lebih baik dari sekarang ini.


http://www.stopberiuang.or.id

Kompas’ New Layout

“I am a Kompas reader. Like my father before me.”

Today, Kompas printed daily came up with a new appearance. For you who doesn’t know it, it’s the leading newspaper in Indonesia. I think, it’s not a coincidence for it to appear today, at Kompas’ 40th birthday.

Some of the new things are:

(1) Paper size. It shrinks. At least it loses one column width. About 8 centimeters short. From 84 to 76 cms. Not much, but it gives more comfort in holding it wide-spread. Well, for typical Indonesians it is. We haven’t that long arms caucasians have :p

(2) The layout. When you saw the old layout, it’s like reading a conservative, black and white newspaper. My first impression when I see the new layout was, I’m like seeing an article page of Times™ magazine. Not too colorful, still bear a sense of conservativeness in the soft color selections, but enough eye candy to draw younger market to read it.

I’ve been reading Kompas since I was a kid. It’s always present. Always there since I remember it. So, reading it is like a daily routine to me. Despite of some downward in the quality, details, and accuracy of it in recent times (yes, it’s true! Kompas admit them itself in some ways), I really do hope that perhaps this new layout will boost their spirit once again.

My other hope is, Kompas as an established media can accept that new media -like the blog I am writing- is emerging, in a way not to consider it as a threat, but as a challenge. A challenge can make someone bigger. Or smaller, but I refuse to think otherwise. 🙂

Anyway, have a nice birthday to you. Don’t forget to keep your journalist “sejahtera”.

~~~
Update at June 28th, evening:

After reading more thorough, I can help to update my comments on Kompas’ new layout:

(3) Fonts got bigger. Paper less wider. Pages less thicker. Reading all news in less time. I came up with one conclusion: Kompas put less news in it. How disappointing.

(4) To many blank spaces between column and ads. I felt a sense of emptyness.

(5) Navigation got scrambled. I got dizzy reading it. But I guess I need more time to adjust. 😀

(6) A final surprise: I now felt reading Koran Tempo is more “berbobot” than Kompas! Dunno why. I lost the old feeling of the great Kompas. *sigh*

Hentikan Memberi Uang Kepada Anak Jalanan

Subject: Hentikan Memberi Uang Kepada Anak Jalanan

Banyak pihak dan yayasan yang telah mencoba menolong mereka dengan memberikan sekolah gratis, makanan gratis dan rumah singgah bagi mereka. Namun mereka tetap kembali ke jalan. Mengapa? Karena Uang Anda!

Karena setiap hari mereka memperoleh “uang gampang” paling sedikit Rp.25.000,- itu berarti dalam sebulan mereka bisa memperoleh Rp.750.000,- Jumlah yang cukup besar, tidak heran mereka memilih untuk tetap di jalan.

Tapi jika dibiarkan, 10-20 tahun lagi mereka akan tetap berada di jalanan dan bisa jadi menjadi preman yang tinggal di jalan dan melahirkan anak-anak kurang mampu dan yang tidak berpendidikan. Ini akan menjadi lingkaran setan di negara kita.

Mereka bukannya tidak punya pilihan lain, apa yang bisa kita lakukan agar mereka tidak berada di jalanan lagi?

BERHENTI MEMBERIKAN UANG KEPADA MEREKA!!!

Dengan begitu kita menolong mereka dari resiko-resiko berbahaya serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyambut uluran tangan yayasan dan melakukan hal-hal yang berguna untuk masa depannya kelak.

Lewat tindakan kita dan kesempatan yang kita berikan, kita secara tidak langsung sedang memulihkan hak-hak asasi anak menurut Konvensi hak anak PBB (diratifikasi Keppres RI No. 36/1990) :
– Hak untuk hidup
– Hak untuk tumbuh dan berkembang
– Hak untuk memperoleh perlindungan
– Hak untuk berpartisipasi

Dengan kita berhenti memberikan “uang gampang” berarti kita telah menjadi sukarelawan pasif dalam usaha pemulihan hak asasi anak. Disatu sisi kita kasihan melihat mereka namun jika kita memberi uang maka mereka akan tetap seperti itu dan tidak mau menyambut uluran tangan dari yayasan-yayasan yang berniat membantu mereka. Di sisi lain dengan tidak memberikan uang maka kita berharap masa depan mereka akan lebih baik dari sekarang ini.


http://www.stopberiuang.or.id

BPPT Tawarkan Software Gratis

Kamis, 23 Juni 2005 9:09:00

Software gratis BPPT itu adalah Komura, Kantaya, Kasipena, dan Kutahu. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kembali menawarkan software alternatif. Beberapa di antaranya sudah pernah diperkenalkan empat tahun silam.

“Ada empat aplikasi yang tersedia untuk beragam kepentingan,” ujar Sulistyo Suhrowardi, direktur Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Informasi dan Elektronika, BPPT, kepada wartawan, Rabu (22/6/2005). Keempat software tersebut adalah Komura, Kantaya, Kasipena, dan Kutahu. Aplikasi tersebut diluncurkan sebagai software alternatif bagi mereka yang ingin menggunakan peranti lunak berlisensi. “Keempat software yang dibuat BPPT ini merupakan software General Public License (GPL),” jelas Sulistyo.

Kendati merupakan software GPL yang semestinya bisa memungut biaya atas pendistribusian program komputer, BPPT menggratiskan keempat software tadi. Dengan sendirinya, keempat software tadi bisa dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat tanpa perlu membayar sepeser pun. “Pihak lain diperbolehkan menyalin, mendistribusikan, dan bahkan modifikasinya,” ucap Sulistyo.

Peluncuran Komura, Kantaya, Kasipena, dan Kutahu, lanjut Sulistyo, dilakukan untuk menjawab kebutuhan software berlisensi di masyarakat. Keempat software itu diyakini bisa menggantikan posisi program-program komputer bajakan yang marak dipergunakan masyarakat. “Apalagi, cara penggunaannya tidak jauh berbeda dengan software komersial,” katanya.

Sulistyo belum dapat memastikan apakah software yang dikembangkan BPPT akan dijadikan sebagai software resmi di kalangan institusi pemerintahan. Sejauh ini, belum ada komitmen yang tegas soal hal tersebut. “Pemerintah daerah Ponorogo (Jawa Timur), Bali, dan Binjai (Sumatera Utara) malah sudah lebih dulu memanfaatkannya,” ungkapnya.

Perangkat lunak yang disediakan untuk perkantoran itu bertajuk Kantaya. Ini merupakan web-based groupwave. “Kantaya bisa dijalankan di sistem operasi manapun. Programnya mirip dengan Microsoft Exchange ataupun Lotus Domino,” cetus Sulistyo.

Sementara itu, untuk pengelola warung internet tersedia Komura. Komura adalah sistem jaringan komputer murah. Software ini sangat cocok untuk warung internet yang beroperasi sebagai game center. Sistem jaringan komputernya terdiri dari server Linux WinBI dan sejumlah terminal berupa komputer sederhana tanpa hard-disk. “Sayangnya, belum semua multiplayer game bisa dimainkan di Komura,” sesal Sulistyo.

Dari segi skala ekonomi, Sulistyo memaparkan Komura akan lebih ekonomis ketimbang pembelian komputer secara terpisah. Kesimpulan ini berlaku untuk pembelian komputer di atas empat unit. “Komura tersedia dalam CD bootable yang bisa langsung dipasang untuk membangun jaringan komputer yang murah. Peminatnya juga dapat men-download-nya di http://www.software-ri.or.id.”

BPPT juga memperkenalkan Kasipena. Perangkat lunak ini merupakan Kantaya untuk dunia pendidikan. “Sedangkan Kutahu adalah contoh e-learning sederhana,” ujar Sulistyo. Keempat open source software tersebut dipastikan Sulistyo kompatibel dengan aplikasi-aplikasi desktop dari software komersial. Format file-nya sudah standar. “Penggunanya bisa menyimpan file dalam format rtf ataupun pdf.”

Berdasarkan hasil riset, Kementerian Riset dan Teknologi memantau hal-hal yang menjadi penghambat penguasaan komputer di masyarakat. Riset ini melibatkan kalangan pemerintah daerah, usaha kecil menengah, serta dunia pendidikan. “Biaya komunikasi dan perangkat keras masih mahal, terbatasnya pelatihan, dan kendala bahasa adalah penyebabnya,” ungkap Sulistyo.

BPPT berharap ketersediaan software gratis dengan kinerja yang dapat diandalkan akan membuat penguasaan komputer di Indonesia meningkat. Terlebih, software tersebut tersedia dalam tampilan bahasa Indonesia. “Kami tidak memiliki target khusus dalam hal jumlah pengguna.” (rei)


sumber: mailto:gratis@hangtuah.or.id

TABEL DENDA TILANG LALIN

TABEL PELANGGARAN LALU LINTAS YANG DITINDAK
DENGAN TILANG SESUAI UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1992
BESERTA PERATURAN PELAKSANAANNYA UNTUK DKI JAKARTA

Keterangan:

  • A merupakan kendaraan tidak bermotor
  • B merupakan sepeda motor
  • C merupakan mobil penumpang pribadi
  • D merupakan mobil penumpang umum
  • E merupakan pick up
  • F merupakan bus/truk
  • G merupakan truk gandeng
  • Semua denda tersebut dalam ribu (000,00) rupiah (Rp)
  • Setiap daerah mempunyai tabel denda yang berbeda-beda
  • Tabel pelanggaran ini berdasarkan petunjuk praktis pengisian blanko tilang yang diperbarui dan dapat dapat dibayar melalui bank, berlaku Februari 1995.
  • No

    KLASIFIKASI

    PASAL

    JENIS PELANGGARAN

    JENIS KENDARAAN PELANGGAR DAN

    UANG TITIPAN DALAM RIBU RUPIAH

    A

    B

    C

    D

    E

    F

    G

    <

    RINGAN

    <

    <

    <

    <

    <

    <

    <

    <

    1

    Psl. 91 (1) & (2) PP 43/93

    Kewajiban pejalan kaki untuk berjalan pada bagian jalan yang diperuntukan baginya atau pada bagian jalan yang paling kiri bila tidak terdapat bagian jalan yang dimaksudkan dan menyeberang ditempat yang telah ditentukan.

    10

    <

    <

    <

    <

    <

    <

    2

    58 Yo Psl. 17 (1) UULAJ

    Mengemudikan kendaraan tidak bermotor tanpa memenuhi persyaratan rem, lampu, tuter bagi kendaraan tidak bermotor.

    15

    <

    <

    <

    <

    <

    <

    3

    61 (1) Yo Psl. 23 (1) d Yo Psl. 8 (1) A UULAJ Yo Psl. 17 (3) & (4) PP 43/93

    Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar rambu-rambu perintah atau larangan.

    <

    15

    25

    30

    30

    50

    75

    4

    61 (1) Yo Psl 23 (1) d Yo Psl 8 (1) b UULAJ Yo Psl 21 (1) & (4) PP 43/1993

    Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar marka jalan yang berupa garis utuh membujur tunggal atau ganda gerakan LL/Jalur.

    <

    10

    25

    30

    30

    50

    75

    5

    61 (1) Yo Psl. 23 (1) d Yp Psl 8 (1) d UULAJ Yo Psl. 22 (2) PP 43/93

    Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar marka jalan sebagai garis berhenti bagi kendaraan bermotor yang diwajibkan oleh alat pemberi isyarat lalu lintas atau rambu stop.

    <

    10

    15

    25

    25

    50

    75

    6

    61 (1) Yo Psl. 23 (1) d Yo Psl. 8 (1) C UULAJ Yo Psl. 29 PP 43/93

    Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar ketentuan cahaya yang diberikan alat pemberi isyarat lalu lintas.

    <

    10

    25

    25

    30

    50

    75

    7

    61 (1) Yo Psl. 23 (1) d Yo Psl. 55a PP 43/93

    Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar larangan melewati kendaraan lain dipersimpangan atau dipersilangan sebidang.

    <

    10

    25

    25

    30

    50

    75

    8

    61 (1) Yo Psl 23 (1) d UULAJ Yo 55b PP 43/93

    Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar larangan melewati kendaraan lain yang sedang memberi kesempatan menyeberang pejalan kaki atau pengendara sepeda.

    <

    10

    25

    25

    30

    50

    75

    9

    61 (1) Yo Psl 23 (1) d UULAJ Yo Psl 65 PP 43/93

    Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar kewajiban pemakai jalan untuk mendahulukan kendaraan yang mendapat prioritas sebagai yang dimaksud ayat 1 Psl 65 PP 43/1993.

    <

    10

    25

    25

    30

    60

    75

    10

    61 (1) Yo Psl. 23 (1) d Yo Psl. 23 (1) Psl 22 (1) UULAJ Yo Psl 66 (2) PP 43/93

    Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar tanda berhenti atau parkir di tempat-tempat tertentu.

    <

    10

    25

    25

    30

    50

    75

    11

    61 (1) Yo Psl. 23 (1) d Yo Psl. 22 (1) d Yo Psl. 71 (2) b PP 43/93

    Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar isyarat bunyi yang mengeluarkan suara tidak sesuai dengan persyaratan teknis dan laik jalan.

    <

    10

    25

    25

    25

    40

    50

    12

    61 (1) yo Psl 23 (1) d Yo Psl 22 (1) Yo Psl 72 PP 43/93

    Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar penggunaan isyarat peringatan dengan bunyi sirene.

    <

    10

    15

    15

    15

    25

    30

    13

    51(1) Yo Psl. 23 (1) d UULAJ Yo Psl. 73 (1) e PP 43/93

    Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar kewajiban pada waktu malam hari atau dalam keadaan gelap untuk menyalakan lampu utama, dekat lampu posisi depan dan belakakang, lampu tanda nomor kendaraan.

    <

    10

    15

    15

    15

    25

    30

    14

    61 (1) Yo Psl. 23 (1) d UULAJ Yo Psl. 74 (1) e PP 43/93

    Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar larangan menyalakan lampu peringatan berwarna biru atau merah kecuali kendaraan bermotor tertentu sebagaimana Psl 72 PP43/93.

    <

    10

    15

    15

    15

    25

    30

    15

    61 (1) Yo Psl. 23 (1) d UULAJ Yo Psl. 74 (2) b PP 43/93

    Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar kewajiban untuk menyalakan lampu petunjuk arah waktu akan membelok atau membalik arah.

    <

    10

    25

    25

    30

    35

    50

    16

    61 (1) Yo Psl. 23 (1) d UULAJ Yo Psl. 74 (2) c PP 43/93

    Pengemudi bus sekolah melanggar kewajiban untuk menyalakan lampu tanda berhenti waktu menurunkan atau menaikkan penumpang.

    <

    <

    15

    25

    25

    40

    40

    17

    61 (1) Yo Psl. 23 (1) d UULAJ Yo Psl. 74 (2) c PP 43/93

    Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar kewajiban untuk menyalakan lampu peringatan berwarna kuning bagi kendaraan bermotor untuk penggunaan tertentu atau yang menyangkut barang tertentu sebagaimana yang dimaksud pasal 64 PP 44/93.

    <

    <

    25

    40

    40

    50

    60

    18

    61 (1) Yo Psl 23 (1) d UULAJ Yo Psl. 80 PP 43/93

    Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar kecepatan maksimum yang diijinkan untuk kendaraan bermotor.

    <

    25

    50

    50

    50

    100

    125

    19

    61 (1) Yo Psl 23 (1) d UULAJ Yo Psl. 124 (1) b PP 43/93

    Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar larangan kendaraan bermotor ditarik oleh lebih dari satu kendaraan bermotor.

    <

    15

    25

    50

    50

    75

    75

    20

    61 (1) Yo Psl. 23 (1) d UULAJ Yo Psl. 124 b PP 44/1993

    Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar kewajiban menggunakan alat penarik yang kaku apabila kendaraan bermotor yang ditarik memiliki jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 4000 kg.

    <

    <

    25

    50

    50

    75

    75

    21

    61 (1) Yo Psl. 23 (1) c UULAJ Yo Psl.69 & 70 PP 44/1993

    Kewajiban menggunakan helm bagi pengemudi atau penumpang sepeda motor maupun kendaraan bermotor roda empat atau lebih tanpa dilengkapi rumah-rumah.

    <

    10

    25

    25

    25

    40

    50

    <

    SEDANG

    <

    <

    <

    <

    <

    <

    <

    <

    22

    56 (1) Yo Psl. 13 (3) UULAJ

    Mengemudikan kendaraan bermotor tanpa dilengkapi tanda bukti lulus uji bagi mobil bus, mobil barang, kendaraan umum, kereta gandeng dan kendaraan khusus di jalan.

    <

    <

    25

    50

    50

    75

    150

    23

    57 (2) Yo Psl. 14 (2) UULAJ Yo Psl 197 (1) & (3) PP 44/93

    Mengemudikan kendaraan bermotor tidak dapat menunjukkan STNK atau STCK beserta BTCK.

    <

    20

    50

    50

    50

    100

    125

    24

    57 (2) Yo Psl 14 (2) UULAJ

    Mengemudikan kendaraan bermotor tidak dilengkapi TNKB/TNCK yang sesuai dengan ketentuan.

    <

    15

    40

    40

    40

    75

    100

    25

    59 (1) Yo Psl 18 (1) UULAJ

    Mengemudikan kendaraan bermotor tidak sesuai dengan SIM sesuai ketentuan.

    <

    25

    50

    50

    75

    125

    150

    <

    BERAT

    <

    <

    <

    <

    <

    <

    <

    <

    26

    54 Yo Psl. 12 (1) Yo Psl. 34 UULAJ

    Mengemudikan kendaraan bermotor untuk mangangkut orang atau barang tidak sesuai dengan peruntukan (kecuali yang dimaksud ayat 1 Psl. 3 PP 41/93).

    <

    25

    50

    50

    75

    125

    150

    27

    54 Yo Psl. 12 (1) UULAJ

    Mengemudikan kendaraan bermotor tidak sesuai dengan persyaratan tehnis dan laik jalan yang meliputi persyaratan lampu dan komponen pendukung.

    <

    25

    50

    50

    75

    125

    150

    28

    54 Yo Psl. 12 (1) Yo Psl. 7 UULAJ

    Mengemudikan kendaraan bermotor tidak sesuai dengan kelas jalan yang dinyatakan dengan rambu-rambu.