11 Fatwa Baru dari MUI

11 Fatwa MUI, Mulai Imam Perempuan Hingga Liberalisme
Nurul Hidayati – detikcom

Jakarta – Munas VII Majelis Ulama Indonesia ditutup Jumat (29/7/2005) oleh Wapres Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jakarta. Hasil Munas MUI yang patut disimak adalah 11 fatwa yang dirilis lembaga itu.

Fatwa terbaru itu diumumkan Kamis (28/7/2005) malam. Untuk mengingatkannya, ada baiknya kita simak fatwa-fatwa tersebut:

1) MUI mengharamkan pelanggaran hak atas kekayaan intelektual termasuk hak cipta.

2) MUI mengharamkan perdukunan dan peramalan termasuk publikasi hal tersebut di media.

3) MUI mengharamkan doa bersama antaragama, kecuali doa menurut keyakinan atau ajaran agama masing-masing, dan mengamini pemimpin doa yang berasal dari agama Islam. Fatwa ini dikeluarkan karena doa bersama antaragama dianggap sebagai sesuatu yang bid’ah atau tidak diajarkan dalam syariah agama Islam.

4) MUI mengharamkan kawin beda agama kecuali tidak ada lagi muslim atau muslimah untuk dinikahi.

5) MUI mengharamkan warisan beda agama kecuali dengan wasiat dan hibah.

6) MUI mengeluarkan kriteria maslahat atau kebaikan bagi orang banyak.

7) MUI mengharamkan pluralisme (pandangan yang menganggap semua agama sama), sekularisme dan liberalisme.

8) MUI memfatwakan, hak milik pribadi wajib dilindungi oleh negara dan tidak ada hak bagi negara merampas bahkan memperkecilnya, namun jika berbenturan dengan kepentingan umum yang didahulukan adalah kepentingan umum.

Pemerintah dapat mencabut hak pribadi untuk kepentingan umum jika dilakukan dengan cara musyawarah dan tanpa paksaan serta harus menyediakan ganti rugi dan tidak untuk kepentingan komersial.

9) MUI mengharamkan perempuan menjadi imam salat selama ada pria yang telah akil baliq. Perempuan mubah jika menjadi imam salat bagi sesama perempuan.

10) MUI mengharamkan aliran Ahmadiyah.

11) MUI memperbolehkan hukuman mati untuk tindak pidana berat. (nrl)

sumber: detik

CAPEK vs SEMANGAT

Saat kita mau naik ke jembatan penyeberangan, ada dua hal yang mungkin kita pikirkan:

(1) Kita memikirkan: “Aduh! Tinggi banget! Jauh banget! Bakalan capek nih!” Alhasil, tiap jatuhnya langkah kita menaiki jembatan penyeberangan, kita akan berdzikir “Jauh! Capek! Jauh! Capek! Jauh! Capek!” dan seterusnya. Akibatnya, sampai di seberang, kita capek beneran.

(2) Kita memikirkan: “Ah, nggak papa! Sekalian olahraga, sehat!” Alhasil, tiap jatuhnya langkah kita menaiki jembatan penyeberangan, kita akan berdzikir “Olahraga! Sehat! Olahraga! Sehat! Olahraga! Sehat!” dan seterusnya. Akibatnya, sampai di seberang, kita tidak terasa capek.

Kita punya kemampuan untuk memilih.
So, guys, mana yang anda pilih?

Nomor Telepon Marshanda

Selingan. Buat bacaan ringan 😀
-ivo

———- Forwarded message ———-
Date: Jul 24, 2005 7:57 PM
Subject: Tanya Contact Person Marshanda & Delon

Sejak gue makin keranjingan internet, gue memutuskan untuk masang line telepon sendiri di kamar.  Tadinya gue happy banget punya line sendiri, sampe akhirnya gue mulai diganggu telepon-telepon misterius.

[kriiing]
"Halo…"
"Halo… Caca ada?"
"Oh salah sambung."
[klik]

[kriiing]
"Halo…"
"Halo… Caca ada?"
Nah, gue mulai heran nih. Yang nelepon beda, sama2 nyari Caca.
"Salah sambung" (nada tegas)
[klik]

[kriiing]
"Halo…"
"Halo, dengan 314-xxxx?"
"Iya betul."
"Cacanya ada?"

Wah ini udah masuk kategori ajaib. Telepon baru dipasang sebulan, kok udah ada yang salah nomer sampe lengkap gitu? Gue jadi was-was; jangan2 telepon gue dikloning. Maka bulan berikutnya gue minta perincian tagihan telepon gue. Ternyata selah gue periksa dengan teliti………. normal aja tuh. Semua percakapan yang tertulis di situ beneran percakapan gue. Aneh.

Sementara itu telepon2 aneh yang nyari Caca terus berlanjut. Sehari bisa ada 8-10 orang yang nyari Caca sialan itu, dan khusus di akhir pekan atau hari libur nasional lainnya bisa naik sampe 20 panggilan sehari, dengan penelepon yang beda-beda. Persamaannya cuma satu: dari suaranya kayaknya rata2 anak kecil atau ABG. Si Caca ini anak gaul kronis kali, kerjaannya ngelayap mulu, makanya temennya segini banyak, pikir gue.

Segitu lama nerimain telepon salah sambung mulu, lama2 gue bete juga kan. Mana kalo nelepon suka nggak kenal waktu. Untungnya telepon gue ada CLI-nya, jadi kalo ada telepon masuk gue bisa memperkirakan ini salah sambung atau enggak. Kalo nomernya udah jelas2 aneh, nggak gue angkat sekalian. Tapi kalo lagi iseng nggak ada kerjaan, suka gue jadiin hiburan juga. Misalnya;

[kriiing-jam 11 malem]
"Halo…"
"Halo… Caca ada?"
"ooo… Cacanya lagi mandi…"
"Mandi Oom? Malem2 gini?" (sialan gue dipanggil oom, disangka bapaknya kali)
"Iya. Keramas. Tau sendiri dong abis ngapain, hmmm?
[klik]

[kriiing]
"Halo…"
"Halo… Caca ada?"
(dg nada panik)"Oooh…. kamu belum tau ya??"
"Kenapa? Kenapa?" (ikutan panik)
"Caca kecelakaan!!"
"HAH?! Dirawat di mana oom?"
"Di RS anu, di UGD!"
"Oh iya oom, saya segera ke sana."
[klik]

Makin lama gue jadi semakin tertantang kreativitasnya cari cara2 baru ngejawab telepon2 gila itu.

[kriiing-jam setengah 1 malem]
"HUAHAHAHA-HUAHAHAHA-HA-HA-HA!!"(ketawa ala buto ijo)
"…!!"(kaget campur ngeri)
[klik]

[kriiing]
"HALO!"
"ha-halo…?"
"YA HALO!! DI SINI POLSEK MENTENG!!"
"Oh, ma-maaf pak…"
"ADA PERLU APA INI, JANGAN MAIN-MAIN YA! SAYA TAHU NOMER TELEPON KAMU XXXXXXX!!"
"…!!!"(sama dengan kasus sebelumnya)
[klik]

[kriiing]
"Halo…"
"Halo… Caca ada?"
"Ya ini Caca."
"…Caca? (trus kedengeran si penelepon bisik2 sama orang di sebelahnya ‘kok suaranya laki sih?’)"
[klik]

Keponakan2 gue juga pada kesenengan kalo gue suruh angkatin telepon buat Caca. Tapi akhirnya terpaksa gue hentikan karena mereka jadi kayak dapet legitimasi mempraktekkan kata2 terlarang
"Caca nggak ada, dasar bego, kampret, monyet…!!!"

Ada juga yang sok imut, kalo diangkat diem. Thanks to CLI, gantian gue kerjain; gue teleponin dia di jam2 aneh (11 malem, 2 pagi, 5 subuh). Habis itu kapok nggak pernah iseng lagi. Dimarahin ibunya kali. Kadang kalo gue lagi males berkreativitas, telepon gue angkat tapi gue geletakin aja sementara gue asik main PS. Ada yang betah lho nungguin sampe lama padahal yang dia denger cuma suara berisiknya PS gue. Kadang2 gue angkat terus gue tutup lagi sampe pernah kejadian begini,

[kriiing]
"Halo…"
"Halo… Caca ada?" (dengan suara cengengesan)
[prok] (nutup sambil napsu)

[kriiing]
"Halo!"
"Gung, ini gue gung, gue…!! Iih galak amat sih langsung ditutup…!" Ternyata temen gue, tadinya berniat sok lucu ngaku2 nyari Caca.

Setelah beberapa bulan diliputi misteri, pada suatu hari gue dapet petunjuk berarti tentang siapa sebenarnya Caca ini.
[kriiing]
"Halo…"
"Halo… MARSHANDA ada?" Marshanda? Yang bintang sinetron itu?
"Hm. Minta nomer berapa ya?"
"314-xxxx"
"Oooo… jadi ini nomer teleponnya Marshanda toh. Yang bintang sinetron itu?"
"Iya, oom."
"Dapet dari mana sih kamu?"
"Majalah, oom."
"Ooo.. gitu toh…"
"Jadi…. Marshanda-nya ada oom?"
"Ya enggak, lah! Salah sambung, monyong!"
[klik]

[kriiing-nomer yang tadi]
"APA KAMU, NGGA TERIMA DIKATAIN MONYONG??"
"…!!" (lagi2 surprise atas keajaiban teknologi bernama CLI).
[klik]

Sialan bener TELKOM, ternyata gue dikasih nomer bekas. Bekasnya bekas artis, lagi! Apes banget. Dugaan gue, si Marshanda ini mungkin udah ngga sanggup nerima telepon masuk melulu, makanya dia ganti nomer. Dasar sialnya gue aja kok ya ndilalah gue yang dapet nomer wasiat itu.

Sejak tau bahwa Caca = Marshanda, maka gue mencoba berbaik hati pada para anak kecil dan ABG salah sambung itu untuk menyampaikan kenyataan pahit bahwa bintang pujaan mereka males nerima telepon dari fansnya. Tapi kemudian malah timbul pertanyaan baru yang makin bikin ribet.

[kriiing]
"Halo…"
"Halo… Marshanda / Caca ada?"
"Oh, salah sambung dik, dulu memang benar ini nomernya Caca, tapi sekarang udah bukan, ok?"
"Ooooh… gitu….. trus, NOMER TELEPON MARSHANDA YANG SEKARANG BERAPA DONG OOM?"
Ya-elah, manalah gue tau…! Ggrrrrr… anak2 ini, kebanyakan makan MSG kali sampe bisa kompakan lemotnya gini.

Maka niat baik memberikan informasi gue batalkan dan gue kembali ke teknik awal penerimaan telepon dengan menyamar sebagai buto ijo, pak polisi, atau mengarang cerita2 tendensius tentang Caca alias Marshanda. Sekarang setelah gue tau Caca adalah Marshanda si artis, sekalian aja gue bikin gosip ala infotainment.

[kriiing]
"Halo…"
"Halo… Marshanda / Caca ada?"
"Oh, Cacanya lagi pergi, sama -BLANK-" (Isi sendiri dengan nama artis cowo yang gue tau, kadang Ari Wibowo, kadang Primus, kadang Syahrul, kadang Deddi Cobuzier)
"Emangnya…. mereka jadian ya oom?"
"Iya! Tapi ssst… jangan bilang2 ya!"
"Iya, iya oom!" (dengan nada ceria siap menyebar gosip).
[klik]

Pada suatu hari, akhirnya gue menemukan jalan untuk sedikit meringankan penderitaan gue dan mengembalikannya pada yang lebih berkepentingan. Awalnya gue mau pesen taksi BlueBird. Tau sendiri kan, kalo pesen BlueBird nggak perlu nyebutin alamat, cukup nomor telepon aja, nanti mereka udah punya database alamat orang sejakarta lengkap. Tapi waktu gue sebutin nomer telepon gue…
"…alamatnya di Jalan Lembang no. 6 ya Pak?"
"Jalan Lembang? Bukan!"
"tapi di database kami di jalan Lembang, pak"
Langsung gue ngeh: berarti, inilah alamatnya si Marshanda! Mungkin database BlueBird belum sempet diupdate sewaktu terjadi perubahan nomer telepon. Dan, kalo udah tau alamat lengkapnya, maka…
"Telkom 108 selamat siang, bisa dibantu?"
"Mbak, bisa tolong minta nomer telepon untuk alamat Jl. Lembang No. 6, Menteng 10310?"

Hahaha, gotcha! Gue dapet nomer teleponnya Marshanda yang asli. Maka dengan ceria gue tempel tuh nomer di pesawat telepon gue dan tiap kali ada yang salah sambung…

[kriiing]
"Halo…"
"Halo… Marshanda / Caca ada?"
"Oh salah sambung, nomernya udah ganti, nomer Marshanda yang baru, catet nih, 3154119. Tolong kasih tau ke semua temen kamu, ya!"

Sejak itu telepon2 misterius berkurang drastis.
———-

sumber: milis.

Awas, Penumpang Bisa Kena Tilang

Perda No. 11/1998 Dihidupkan Lagi
Muhammad Atqa – detikcom

Jakarta – Jika Anda terbiasa membonceng motor tanpa helm atau menyetop angkot di sembarang tempat, mulai Kamis (21/7/2005) ini berhati-hatilah. Kepolisian Polda Metro Jaya menghidupkan lagi Perda Nomor 11/1988 yang melegalkan penumpang ditilang. Jadi nanti bukan sopir saja yang bisa ditilang.

"Penumpang ditilang jika ikut serta mendorong pengemudi melanggar rambu-rambu lalu lintas," ungkap Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Djoko Susilo di Silang Monas, Jakarta, Kamis (21/7/2005).

Bagi penumpang yang nekat melanggar Perda tersebut siap-siap saja mendapat sanksi, Rp 50 ribu atau hukuman kurungan sekurang-kurangnya tiga bulan.

Diakui Djoko, meski Perda itu dikeluarkan sekitar 17 tahun yang lalu, pelaksanaannya selama ini memang tidak efektif. Karena itu, rencananya, mulai hari ini, bertepatan dengan dimulainya Operasi Zebra Simpatik, Perda tersebut akan diefektifkan untuk menciptakan suasana tertib lalu lintas.

"Saya contohkan ya, misalnya ada tukang ojek yang memakai helm, namun Anda yang dibonceng tak pakai helm. Maka bukan pengendaranya saja yang ditilang, tapi Anda juga ikut ditilang," kata Djoko.

Tilang juga berlaku bagi penumpang yang sengaja naik di atas atap bus atau truk, dan penumpang yang menyetop angkot di sembarang tempat.

Untuk menyosialisasikan Perda ini, pada pukul 08.00-10.30 WIB Polda Metro Jaya mengundang sekitar 1.000 tukang ojek di wilayah kerjanya berkumpul di Taman Monas. Upaya sosialisasi dilakukan dengan aksi pawai mengelilingi Silang Monas melalui jalan di sekitar Tugu Tani, Jalan Prapatan, Jakarta hingga Jalan Medan Merdeka Timur, Medan Merdeka Selatan, Medan Merdeka Barat dan Medan Merdeka Utara.

Acara ini diselingi dengan pemasangan ribuan spanduk yang disebar di seluruh wilayah Polda Metro Jaya. Spanduk itu antara lain bertuliskan "Marka Bukan Hiasan" atau "Rambu Bukan Lukisan".

"Kita akan terus memberlakukan tertib lalu lintas, seminggu ini masih persuasif, setelah itu baru akan kita kenakan tindakan tegas," kata Djoko, seraya menambahkan pentingnya Perda tersebut untuk menghindari pelanggaran lalu lintas yang sering berujung pada kecelakaan. (umi)

Sumber: detikcom 

VoIP & e-mail onthel

Ditemukan: VoIP dan E-Mail ‘Tenaga Genjot’
Oktoria Yulius Darmawan – detikInet

Sepeda Inveneo (infoworld.com)

Jakarta, Listrik byar-per? BBM mahal? Bagi mereka yang ingin mengakses Internet dan menelepon lewat telepon Internet (Voice over Internet Protocols alias VoIP) ada temuan hemat listrik. Temuan itu mengkombinasikan Linux, Asterisk dan sepeda. Tinggal genjot!

Temuan itu digelar oleh Inveneo, sebuah perusahaan non-profit. Targetnya adalah supaya masyarakat di daerah terpencil yang belum terjangkau listrik dan telepon dapat menikmati teknologi Internet dan VoiP.

Temuan itu berupa sebuah sepeda yang jika digenjot (dikayuh) akan menghasilkan listrik. Sepeda itu terhubung dengan perangkat keras yang umum dijual. Inveneo sengaja menggunakan perangkat itu karena harganya yang murah, mudah dicari, dan mudah diperbaiki .

Sepeda ini menggunakan jaringan Wi-fi untuk mengakses jaringan pusat yang terhubung dengan telepon. Jaraknya bisa sejauh 100 mil (160 kilometer) dari pusat tersebut. Demikian diberitakan InfoWorld yang dikutip detikinet, Kamis (21/7/2005).

Sistim operasi yang digunakan adalah Linux, yang relatif gratis karena bersifat Open Source. Piranti lunak pendukungnya adalah Asterisk, juga sebuah software Open Source. Asterisk berfungsi sebagai Private Branch eXchange (PBX) jaringan telepon berbasis VoIP.

Setiap 15 menit mengayuh sepeda, tenaga yang dihasilkan cukup untuk satu jam berbicara lewat telepon. Pengguna tidak perlu takut capai mengayuh setiap saat karena sepeda itu juga dilengkapi dengan panel tenaga surya.

Inveneo menyarankan transaksi seperti pengguna yang ingin menelepon bisa membayar orang lain untuk mengayuh sepeda. Bentuk lainnya adalah mensyaratkan seseorang untuk mengayuh sebelum menelepon.

Inveneo ingin menarik minat organisasi non pemerintahan seperti ActionAid untuk menggunakan temuan ini. Inveneo sendirian mungkin bisa memasangnya di 10 desa, tetapi ActionAid akan dapat mendanai dan membangun sistem komunikasi untuk ratusan desa, ujar CEO Inveneo, Mark Summer.

Saat ini Invenio sedang mengupayakan kerjasama dengan Cisco untuk membuat infrastruktur teknologi komunikasi kepada setengah juta sekolah di Afrika. Inveneo berharap bisa membantu meningkatkan kesehatan, pendidikan, dan kesempatan kerja pada jutaan orang lewat proyek tersebut.

Bagi Cisco, proyek tersebut merupakan investasi yang cerdas. Adanya 1-2 miliar orang yang terkoneksi dengan Internet akan menumbuhkan konsumen potensial mereka. Cisco adalah perusahaan penyedia jaringan. (wsh)

Sumber: detikinet

Walikota London: Negara Baratlah Pemicu Munculnya Teroris

Sirojul Muttaqien – detikcom

Jakarta – Walikota London Ken Livingstone tidak menyalahkan para pelaku yang mengebom kotanya. Livingstone menilai, standar ganda yang diterapkan negara-negara Barat kepada Timur Tengah dan umat Islam, memiliki kontribusi terhadap pertumbuhan ekstrimis Islam dan kelompok teroris seperti Al Qaeda.

“Pendudukan oleh asing tanpa melihat sisi kemanusiaan, mengekang segala hak manusia. Saya rasa bila ini terjadi di Inggris, kita juga akan melahirkan orang-orang yang akan melakukan bom bunuh diri,” kata Livingstone kepada radio BBC, seperti dilansir CNN, Kamis (21/7/2005).

Menurut Livingstone, intervensi Barat di Timur Tengah sejak akhir Perang Dunia I itu, dimotivasi keinginan untuk menguasai jalur minyak dunia. Livingstone juga memahami keadaan rakyat palestina yang terusir dari tanah kelahirannya oleh Israel.

“Saya tidak menyalahkan para pembom (London) ini. Tapi saya menyalahkan pemerintahnya yang menghalalkan pembantaian dalam kebijakan politiknya,” tegas Livingstone.

Dikecam

Komentar Livingstone yang bernada pedas ini langsung dijawab oleh juru bicara PM Inggris Tony Blair. Sindiran Livingstone yang tak senada dengan Blair itu, dinilai bisa menimbulkan masalah baru.

“Tapi bagaimanapun juga, kami memahami pernyataan Livingstone sebagai seorang yang terpilih memimpin London pada saat tragis ini. Pada saat yang sama, ia justru memberikan pandangan yang berbeda,” sesal juru bicara Blair. (fab)

Source: detik