Babe Lili – Cabang ke-2 ?

Hari ini sama temen-temen kantor makan di ikan bakar Babe Lili, tapi bukan di Babe Lili yang di Kebon Sirih, melainkan di Dharmawangsa.

Nggak tau deh apakah ini cabang resmi apa bukan. Yang pasti sih tempatnya lebih luas, lebih bersih, dengan parkir lebih banyak dibanding yang di Kebon Sirih. Berangkat dari kantor baru jam 12:30. Agak pesimis juga bahwa masih bakal dapet tempat, karena Babe Lili kan terkenal selalu penuh. Eh ternyata masih banyak tempat kosong. Mungkin karena relatif baru jadi belum sepenuh resto aslinya.

Pelayanannya cukup cepat, dan rasanya masih tetep enak. “Lebih enak dibanding Putra Bone, ” kata Made. Cuma harganya agak lebih mahal. Sepotong ikan ayam-ayam (or kambing-kambing) dihargai 20 rebu. Wah bisa tekor kalo gue tiap hari makan di situ. Untungnya siang itu judulnya ditraktir.. he he he.. Makasih om Chand.

None of your business! :D

Gaji orang Indonesia

Tidak biasanya, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ir TifatulSembiring tidak mengucapkan pantun saat memberikan kata sambutan pada seminar politik yang dihadiri oleh Prof James Fox dari Australian National University dan Jakob Utama, tokoh pers, di Jakarta, Senin.

Tifatul justru menyampaikan sebuah lelucon yang menggambarkan potret masyarakat Indonesia, yang sampai kini masih menjadi permasalahan bangsa.

Lelucon itu menceritakan dua orang yang sedang berdialog. Satu orang Eropa dan satunya, sudah tentu orang Indonesia.

Orang Indonesia bertanya pada orang Eropa, berapa gajimu dan untuk apa saja uang sejumlah itu?

Orang Eropa menjawab, “Gaji saya 3.000 Euro, 1.000 euro untuk tempat tinggal, 1.000 Euro untuk makan, 500 Euro untuk hiburan.”

Lalu sisa 500 Euro untuk apa? tanya orang Indonesia. Orang Eropa menjawab secara ketus, “Oh … itu urusan saya, Anda tidak berhak bertanya!”

Kemudian orang Eropa berbalik bertanya. Kalau anda bagaimana?

“Gaji saya Rp950 ribu, Rp450 ribu untuk tempat tinggal, Rp350 ribu untuk makan,Rp250 ribu untuk transport, Rp200 ribu untuk sekolah anak, Rp200 ribu untuk bayar cicilan pinjaman, … Rp100 ribu untuk….”.

Penjelasan orang Indonesia terhenti karena orang Eropa menyetop penjelasan itu dan langsung bertanya.

“Uang itu jumlahnya sudah melampui gaji anda. Sisanya dari mana?” kata orang Eropa itu keheranan.

Kemudian, orang Indonesia itu menjawab dengan enteng,” begini Mister, tentang uang yang kurang, itu urusan saya, anda tidak berhak bertanya-tanya,”

Spontan hadirin tertawa, termasuk Prof James Fox yang tertawa hingga terpingkal-pingkal.(*)

Tentang GIE

Setelah segala keribetan acara lamaran adik selesai Minggu siang, dan setelah kondisi badan agak mendingan (weekend ini gue agak kurang enak badan), akhirnya minggu sore sempet juga nonton Gie sama bini. Overall it’s a good movie. Good in research, cinematic, dramaturgy, musical score, property n stuff. Salut buat seluruh pendukung film ini.

Komentar dari gue: Nicholas main bagus. Buat yang dari awal udah antipati, tolong deh liat film ini dulu sebelum protes. Jangan harap Nicholas main cheesy. Yang nyari film kacangan pasti nyesel. Trus, yang jadi Gie & Han muda juga bagus. Bakalan naik daun itu anak-anak. Sayangnya Han gede kok jadi beda. Oh ya, ada baiknya baca bukunya dulu sebelum liat filmnya. Walaupun memang tidak ada korelasi 1-1 antara buku dan film nya, it will helps you alot to understand certain things in this movie.

Komentar dari bini: beberapa kali adegan bokapnya Gie punya anjing sekaligus kucing di rumahnya sampai-sampai dia bisa “mengelus kucing dengan tangan kanan sembari mengelus anjing di tangan kiri” itu simbolisme banget, ngelambangin bung Karno yang selalu mencoba menyeimbangkan/merangkul baik tentara maupun komunis. Simbolisme lain saat Gie pergi dari rumah cewenya, diperlihatkan berjalan menuju ke kegelapan sampai dengan punggungnya hilang sama sekali dari pandangan, itu ngelambangin orang yang pergi dan nggak bakal balik lagi. Cukup surprise juga denger analisis kayak gitu, tapi ya maklumlah, doi anak antrop.

Kalau taun depan ada FFI lagi, gue rasa GIE bakal jadi kandidat kuat buat best movie. Yang pasti, kalau DVD nya nongol, pasti bakal gue koleksi. Buat nambahin koleksi Indonesian movie gue yang kadang aneh, dan belum tentu semua orang punya. Lha wong G30S aja ada 😀

BTW, ada yang punya or tau dimana gue bisa dapet Oeroeg? Been searching, no luck so far.

Antara Mahasiswa dan Tukang Ketoprak…

Penulis: Donny B.U. – detikInet

Ketoprak Gaul (donnybu)

Jakarta, (Weekly Review). Beberapa hari silam saya kebetulan harus mengisi sebuah workshop sehari tentang jurnalisme online di sebuah kampus, di bilangan Jakarta Pusat. Program tersebut memang diadakan oleh pihak kampus bagi mahasiswa komunikasi dengan tujuan agar mereka bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang jurnalisme online.

Pada sesi pembukaan, saya mencoba mengawali dengan pertanyaan, "ada yang bisa menjelaskan tentang konvergensi?" Hening! "Atau setidaknya siapa yang pernah mendengarnya," tanya saya agak mendesak. Sedetik dua detik, kemudian salah satu dari peserta menjawab, "saya pernah baca di koran, tetapi tidak tahu artinya."

Sontak saya berpikir, jangan-jangan memang tidak pada tempatnya saya menanyakan tentang konvergensi kepada mereka. Lho, tetapi konvergensi kan juga "menyeret" media (massa) juga, tidak sekedar teknologinya saja. Harusnya, setidaknya menurut saya, sebagai mahasiswa komunikasi mereka tahu tentang konvergensi.

Konvergensi TI

Penasaran, saya lemparkan pertanyaan lain kepada mereka, "adakah yang sudah mendapatkan materi pengantar teknologi informasi, seperti internet atau komputer pada semester-semester sebelumnya?" Respon mereka bisa ditebak, celingak-celinguk kebingungan. Alamak, padahal saat itu saya tengah berdiri di dalam sebuah ruang kelas yang dipenuhi dengan PC multimedia tercanggih, full akses Internet, dengan rasio 1 PC untuk 1 mahasiswa.

Saya tidak tahu kesalahan ada dimana. Pikir saya saat itu, semangat yang melandasi lahirnya jurnalisme online adalah terakselerasinya diseminasi informasi melalui teknologi informasi (TI). Dan dengan semangat konvergensi, jurnalisme online kini sudah tak sama dengan sekedar meng-online-kan media massa.

Ketika media massa sudah bisa dibaca, didengar ataupun ditonton melalui ponsel, ketika citizen journalism atawa blog makin diperhitungkan keberadaannya, dan ketika tingkat partisipasi dan interaksi audience menjadi salah satu penentu kualitas suatu berita, maka agak berat rasanya jika kita bicara konvergensi, apalagi soal tren jurnalisme, tanpa dibarengi dengan pemahaman tentang TI yang cukup.

Bahkan sekelebat saya sempat berpikir, yang disebut "online" seharusnya medianya, bukan "jurnalisme"-nya. Karena kaidah jurnalistik tidak membedakan antara yang online maupun yang tidak. Online atau tidak hanyalah menegaskan pada "melalui apa" suatu berita disampaikan kepada pembaca, bukan pada "bagaimana" berita itu dibuat.

Tidak Wajib

Karena akan aneh rasanya jika nanti orang terbiasa membaca berita melalui ponsel, kemudian lahirlah "mobile journalism", alias jurnalisme bergerak. Kalau ada jurnalisme bergerak, berarti ada jurnalisme yang tidak bergerak? Kalau memang ada jurnalisme online, berarti ada jurnalisme offline? Ah, itu tak penting untuk dipikirkan sekarang. Nanti sajalah.

Pikiran saya pun segera beralih pada kejadian beberapa bulan silam, ketika saya mengikuti rapat antar fakultas ekonomi se-Jakarta di suatu kampus daerah Senayan. Salah satu topik yang dibahas saat itu adalah tentang wajib-tidaknya mata kuliah semacam pengantar teknologi informasi diajakan di jurusan non-eksakta, semisal jurusan akuntansi ataupun manajemen.

Ketika itu saya menyampaikan argumen saya tentang pentingnya pemahaman dasar tentang TI didapatkan oleh seluruh mahasiswa, tidak peduli apapun jurusannya. Sayang, keputusan yang diambil ketika itu adalah "tidak wajib".

Alasannya, "kami tidak punya cukup sumber daya untuk menjalankan mata kuliah tentang TI." Sumber daya yang dimaksud adalah dari soal infrastruktur, materi hingga tenaga pengajar.

Tukang Ketoprak

Saya punya keyakinan, TI bukan milik kaum teknokrat, mahasiswa eksakta/komputer ataupun orang teknis belaka. Ilmu TI haruslah ilmu melayani, termasuk melayani ilmu lainnya, semisal ilmu ekonomi ataupun sosial. Sehingga menggunakan TI tidaklah demi TI itu sendiri, tetapi bagi aspek kehidupan bermasyarakat, semisal berpolitik ataupun berberkomunikasi.

Sehingga keberanian mengaku sebagai orang TI seharusnya sejalan dengan kemauan dan kemampuan untuk melayani (orang lain), bukan malah menghujat, mengecam ataupun memaki sesuatu ataupun seseorang atas nama TI.

Jadi, saya "terpaksa" maklum sembari tersenyum kecut, ketika kini menghadapi mahasiswa yang nyaris buta TI, termasuk Internet. Pikiran saya menerawang kembali, ketika beberapa bulan silam berbincang dengan abang tukang ketoprak yang rutin lewat depan rumah saya di Depok.

"Sudah pernah pakai Internet?" tanya saya penasaran kepada si abang, lantaran saya melihat tulisan "www.gaul.com" pada bagian depan gerobak ketopraknya.

"Wah ya saya tahunya ya cuma tempatnya aja, di warnet-warnet," jawab si abang. "Tetapi saya mau coba pakai (Internet) kapan-kapan," tambahnya. Sempat kaget juga saya, ketika sejurus kemudian dia lumayan fasih menceritakan apa yang dia pahami tentang Internet.

Saya kembali tersadar tengah di depan kelas dengan mahasiswa yang sedang ketak-ketik di keyboard, entah mengetik apa. Saya lantas merenung, "nah lho, tukang ketoprak saja sudah (mau) pakai Internet…"

(dbu)