Matinya Rasa Kemanusiaan

Tidak banyak yang sadar bahwa saat Ilak Alipredi mati dibunuh dan seluruh kota Goela bersuka ria, Klara Zakanasian malah menjadi satu-satunya orang yang sedih karena kematiaannya. Padahal Klara-lah yang menawari penduduk Kota Goela, yang telah bangkrut puluhan tahun itu, 1 trilyun untuk membunuh Ilak, kekasih masa kecil Klara yang telah menghamili, mencampaknya lalu memfitnahnya dengan membeli saksi tanpa ada satupun warga kota Goela yang membantunya.

Cuma Klara yang sedih. Bukan karena Ilak mati, tapi karena Klara melihat tidak ada yang berubah dari kota Goela. Empat puluh lima tahun yang lalu warga kota itu bisa dibeli dengan uang. Sekarang pun masih.

Anyway, apapun yang dipilih oleh warga Goela, membunuh Ilak atau tidak, Klara memang. Tapi bayarannya memang mahal. Hell hath no fury.

Jarang Teater Koma menampilkan cerita adaptasi untuk play-nya. Namun kali ini Teater Koma mengadaptasi karya Friedrich Dürrenmatt tahun 1956 berjudul asli Der Besuch der alten Dame (The Visit of the Old Lady). Teater Koma membesut judul Kunjungan Cinta untuk hajatan mereka yang ke-111 ini.

Kali ini Butet Kertaradjasa, Ratna Riantiarno dan kawan-kawan tampil disiplin pada script. Ceritanya pun masih 100% setia pada cerita aslinya. Tidak seperti adaptasi dalam film The Visit (1964, Ingrid Bergman & Anthony Quinn) yang akhir ceritanya sedikit berbeda. Kali ini kota Gullen menjadi kota Goela. Nama Klara Zachanasian jadi Klara Zakanasian. Alfred Ill jadi Ilak Alipredi. Tapi selain beda-beda kecil seperti adaptasi nama tadi, eksekusinya perfect seperti naskah aslinya.

Anyway, ceritanya sendiri memang berat, sehingga saat selesai, interpretasi penonton pun bermacam-macam. Walaupun Teater Koma biasanya tahu bahwa audiens Indonesia kalau tidak “dikasih tau maksudnya” suka nggak ngerti, tapi kali ini Teater Koma memilih loyal pada cerita aslinya. Tidak ada narasi “moral of the story” sama sekali. Interpretasi benar-benar bebas buat penonton.

Ada yang menyebut “bersenang-senang di atas penderitaan orang lain”, ada yang menyebut “balas dendam yang kebablasan” dst. Tapi saya sendiri lebih senang menyebut cerita ini sebagai cermin matinya rasa kemanusiaan warga kota Goela, sejak dulu, dan belum berubah sampai sekarang. Sebenarnya cermin ini bisa kita pakai juga untuk melihat keadaan sosial kita sendiri saat ini.

Sayang cermin ini sepertinya cuma jadi tontonan semata. Dan penonton pun dengan tanpa dosa tetap menyalakan HP, dan memotret cekrek-cekrek-cekrek-cekrek (baca: bersuara keras) tanpa peduli kiri kanan. 🙂

Sungguh. Rasa kemanusiaan kita sudah mati.

Tidak ikut kelaparan

Diambil dari tulisan Rony di milis gajah

saya: gimana kabarnya kawan?
kawan: baik dong, kamu baik juga kan?
saya: alhamdulillah. eh gimana bapak? jadi naik haji kan?
kawan: jadi kok
saya: wah, ikut jadi korban keterlambatan katering dong?
kawan: oh tidak
saya: owh, ONH plus ya?
kawan: enggak kok, ONH biasa
saya: wah beruntung sekali, ibuku ikut kelaparan je. kok bisa beruntung gitu sih?
kawan: iya, bapak meninggal sehari sebelum wukuf
saya: