The Photograph

Ini film bagus banget. Gue gak mau nulis synopsisnya atau spoilernya di sini. Cuma mau bilang Shanty mainnya bagus banget. Lebih bagus dari waktu main Berbagi Suami. Mainnya total.

Propertinya bagus banget. They’ve really done their homework. Sinematografinya juga perfect. Very attentive to details. Nggak cuma visual, musicnya juga seamless. Bravo buat Aksan & wife.

Sayang yang nonton sedikit. I wonder why people don’t like to see good movies like this one?

Bravo Blitz!

Sabtu, setelah kejadian menyebalkan di JaCC, gue ma bojo akhirnya mampir juga ke Grand Indonesia, iseng mo nyobain Blitz. (Hare gene blon pernah ke Blitz? Kemane aje pak? hehehe)

The Photograph ternyata masih main! Kirain udah abis. Kalo The Simpsons Movie, kayaknya sebulan ke depan masih bakalan ada. Jadinya milih nonton The Photograph dulu, yang kemungkinan akan cepet menghilang dari tayangan.

Mungkin karena hari Sabtu, antriannya ternyata cukup panjang, baik yang untuk beli karcis maupun yang beli popcorn. Hall nya agak sempit, nggak kayak 21. Tapi enaknya, kita bisa beli tiket film mana aja di booth yg mana aja. Yang penting antri dulu :p

Sampai di ticket booth, nanya, kalo wheelchair duduk mana? Ternyata memang disediakan dua space di tengah depan untuk wheelchair! After all this year, baru kali ini nemu bioskop (di Indonesia) yang mikirin pengguna kursi roda! *smile*! Walaupun setelah masuk, nontonnya agak nggak enak, sedikit mendongak, tapi ya lumayan lah, daripada harus ke Amrik cuma buat bisa nonton bioskop pakai kursi roda.

Jempol buat Blitz!

JaCC un-accessible :p

“Lho, kok pulangnya cepet pak?” kata satpam di lantai 5 parkiran JaCC.
“Iya, soalnya percuma juga, saya nggak bisa ke Hypermart lantai satu,” jawab gue.
Satpam : “Bisa kok pak, pakai lift aja”
Gue : “Ah masa? Di semua lift tombol ke lantai 1 nya mati kan?”
Satpam : “Caranya ke lantai dua dulu aja pak” (ngeles)
Gue : “Terus?” (sambil senyum)
Satpam: “Turun ke lantai 1.”
Gue : “Caranya?” (masih senyum)
Satpam: “Pakai eskalator.”
Gue: “Emang kursi roda ini bisa lewat eskalator, gitu?”
Satpam, yang baru sadar bahwa gedung JaCC itu lantai hypermartnya un-accessible untuk wheelchair, cuma bisa speechless.

Ya udah gue tinggalin aja pergi.

For you who are on wheelchair, or have a family on wheelchair, or have a friend on wheelchair, DON’T bother to go to JaCC, hypermart’s floor. They DON’T want you there.

Kotor, Gelap, Panas, Bau

Dari semua bandara internasional yang pernah aku singgahi (JFK, SFO, Changi, Narita, KLIA, Taipei, Sydney) semuanya terang, bersih, sejuk dan segar. Kenapa ya begitu masuk ke Soekarno-Hatta, rasanya beda banget?

Only in Indonesia? Atau ada juga di negara berkembang yg lain? Gimana yang pernah ke India, Thailand, Filipin dan lain-lain? Seburuk airport internasional di Indonesia kah?