Sedekah Waktu

Ada teman saya yang suka mengingatkan orang disekitarnya untuk bersedekah (uang) barang sedikit. Intinya, jika kita mendapat rejeki, jangan lupa membagi ke orang lain.

I agree. It’s a nice thing to do. Sampai tiba-tiba ada hal yang mengusik pikiran saya. Apakah bersedekah itu harus berupa duit?

Teman saya ini (sebut saja si A) tipenya gemar bekeja. Bekerja menjadi prioritas nomor satu. Nah, di sini problem muncul. Keluarga jadi nomor sekian. Semua urusan keluarga diserahkan ke istri. Urusan keperluan rumah tangga, adalah urusan istri. Urusan anak, adalah urusan istri. Sampai-sampai mengurus orang tua (dari si suami), menjadi urusan istri. Si A kerja sampai malam. Weekend pun kadang kerja. Kalau tidak kerja, weekend lebih suka dihabiskannya bersama komunitas hobinya.

Kenapa ya si A ini lupa bahwa di weekend, anaknya pasti ingin jalan-jalan sama bapaknya. Istrinya pasti juga ingin ngobrol bedua sama suaminya walaupun cuma untuk curhat tentang anaknya yang mulai bandel. Atau bahkan orangtuanya, pasti juga ingin ketemu sama anaknya.

Apa susahnya menyediakan waktu barang sejenak untuk keluarga. Kalau memang tidak bisa tiap hari, setidaknya sediakan waktu di akhir pekan. Nggak cuma sedekah duit. Sedekahkan sedikit saja waktunya. Pasti akan lebih membahagiakan buat keluarga.

Saya mencoba berada di posisi dia. Saya berandai-andai, jika saya ada di posisi dia, apa kira-kira yang menyebabkan saya begitu? Apakah karena kerja itu adalah sumber nafkah satu-satunya, maka harus menjadi nomor satu? Apakah karena waktu saya sudah habis untuk menafkahi keluarga, makanya saya berhak menikmati waktu saya sendirian tanpa keluarga? Keluarga kan cukup dikasih duit doang toh?

Banyak andaian yang bisa muncul. Tapi saya tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya. Saya bukan dia. 🙂

Yang saya tahu cuma satu. Kalau perusahaan sudah tidak membutuhkan seseorang, perusahaan akan dengan mudah membuangnya. Berbeda dengan keluarga. Keluarga akan selalu ada buat dia. Tapi ada syaratnya. Keluarga akan selalu ada kalau dia juga mempertahankan keberadaan keluarga itu sendiri.

Soal meluangkan waktu buat keluarga ini bukan merupakan kearifan yang saya ketahui sejak dulu. Saya juga belajar untuk melakukannya. Terutama setelah menikah.

Saat ini saya (dan istri) tinggal dengan ibu mertua saya (ibu dari istri saya). Apalagi setelah bapak mertua meninggal, tidak mungkin kami meninggalkan ibu mertua tinggal sendiri. Berbeda dengan orang tua saya sendiri yang masih punya banyak anak untuk menemani.

Soal sedekah finansial, saya dan istri selalu mencoba untuk tidak lupa menyisihkan sebagian gaji untuk ortu istri, maupun ortu saya. Kalau buat ibu mertua bisa langsung dikasih, atau dalam bentuk natura (barang konsumsi yang notabene kami juga ikut makan).

Nah, yang buat ortu saya sendiri, sebenarnya bisa saja kalau saya kirim atau transfer lewat bank, lalu mengabari lewat telepon. Namun istri saya yang waktu itu menyarankan bahwa ada baiknya sebulan sekali kita antar secara personal. Sekaligus mengunjungi orang tua saya. Walaupun untuk ukuran Jakarta cukup jauh, tapi hal-hal seperti ini tetap harus diniatkan untuk dilakukan. Itung-itung sedekah waktu. In some way, it’s a fun way to do. Just enjoy the process.

Hidup di Jakarta, terkadang memang waktu itu menjadi kemewahan yang sangat mahal. Padahal sebenarnya bisa saja tidak jadi mahal. Caranya? Bikin prioritas!

Nah, buat sidang pembaca yang budiman… (halah)… saya mau nanya nih. Mana yang lebih menjadi prioritas buat anda. Pekerjaan, atau keluarga?

Kapan terakhir anda dengar bahwa ayah anda, atau ibu anda, atau suami anda, atau istri anda, atau kakak anda, atau adik anda, atau anak anda masuk angin? Ataukah mereka menyimpan info tak penting ini dari anda, karena anda sudah terlalu sibuk dan tak punya waktu untuk mendengarkannya?