>Kompas: Mengenang Ibu Ainin Habibie

>

Mengenang Ibu Ainun Habibie
Wardiman Djojonegoro

Selasa, 25 Mei 2010 | 08:50 WIB

KOMPAS/ TOTOK WIJAYANTO

Mantan Presiden RI BJ Habibie punya banyak kisah yang membuatnya bahagia. Yang utama adalah sang istri, Dr Hasri Ainun Habibie.

Oleh Wardiman Djojonegoro *

KOMPAS.com — Pada tahun 1963, beberapa mahasiswa Universitas Aachen menunggu di Bandara Dusseldorf, menanti kedatangan seniornya, BJ Habibie, yang membawa pasangannya yang baru.

Begitu diperkenalkan, kesan pertama kami adalah alangkah serasinya kedua sejoli ini dari segi penampilan, Habibie tidak tinggi dan Dr Hasri Ainun Besari Habibie (Ainun) tidak lebih tinggi dari suaminya.

Ia murah senyum, terlihat anggun dan menyerahkan semua percakapan kepada suaminya. Kami, anak mahasiswa Aachen, memang sudah terbiasa dengan sifat Rudy—panggilan Habibie—yang ramai, tetapi ramah. Kesan lain yang kami dapati adalah, Ainun seorang tokoh yang tidak ingin menonjol dan sengaja berada di garis belakang, tetapi bukan berarti tidak berbobot.

Mendukung dari belakang
Dalam sejarah perkenalan saya dengan keluarga ini, kesan pertama itu diperkuat lagi oleh kuatnya pendirian Ainun dalam mendukung suaminya dari belakang. Ia sangat memahami tugas-tugas suaminya dan bagaimana dengan setia mendampingi dan mendukung suaminya. Ke mana pun sang suami pergi, beliau dengan setia dan sabar mendampinginya, tidak saja secara fisik, tetapi juga dengan kata-kata dan nasihat yang bermakna.

Misalnya, sewaktu Sidang MPR tahun 1999, kata-kata kasar dari anggota DPR tetap diterima dengan anggun dan, di rumah, Ainun membantu Rudy mengatasi kecaman-kecaman yang diucapkan tidak pantas itu. Banyak dari kami yang mengatakan bahwa Ainun adalah contoh istri yang ideal, tidak menonjol tetapi menjadi satu kesatuan dengan suaminya karena selalu mendukungnya dari belakang.

Seorang sosok yang cantik, anggun, pintar, tetapi pandai menempatkan diri dalam pergaulan sehari-hari dan perjalanan karier di samping suaminya. Apalagi sang suami adalah seorang yang dinamis dan penuh dengan energi.

Dalam berbagai kesempatan, Rudy menyatakan di depan umum betapa Ainun menjadi penopang dan pendorong dalam hidup dan aktivitasnya. Betul pula pepatah yang menyatakan bahwa "di balik seorang laki laki yang sukses bisa didapati wanita yang telah mendukungnya".

Mereka mengalami masa pacaran yang singkat, tetapi cukup mengesankan. Mereka berpacaran di atas becak malam hari dengan jok tertutup kendati saat itu tidak sedang hujan.

Pada masa awal pacaran mereka, setelah Ainun menerima lamaran Rudy, Rudy secara reguler mengantar Ainun pergi bekerja ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, tempat Ainun bekerja di bagian anak-anak. Biasanya, Rudy menjemput Ainun memakai becak, sesudah itu mereka berjalan meninggalkan kompleks RSCM.

Mereka mengalami masa pacaran yang singkat, tetapi cukup mengesankan. Mereka berpacaran di atas becak malam hari dengan jok tertutup kendati saat itu tidak sedang hujan.

Pernah pula ketika sedang pacaran mereka ketemu dengan rombongan teman-teman Ainun dari Fakultas Kedokteran. Salah seorang bertanya, "Siapa sih nama tunanganmu Ainun?" Seorang lagi memotong, "Namanya Bacharuddin Jusuf Habibie. Orang Arab lagi." Ainun tersenyum lalu berkata, "Ini orang Arab-nya," sambil menunjuk Rudy yang berada di sebelahnya. Teman-teman Ainun kaget, Rudy hanya senyum-senyum.

Selalu mengingatkan
Mereka menikah 12 Mei 1962 dan Ilham—putra mereka pertama—lahir pada 1963 di Jerman karena, setelah menikah, Ainun langsung di boyong ke Jerman. Di situ mereka hidup dalam rumah tangga anak muda, berpahit-pahit karena penghasilan Rudy sebagai mahasiswa tingkat doktoral masih sangat kecil, pemasukan harus pula disisihkan sebagian untuk ditabung.

Masa itulah masa berat mereka di awal-awal pernikahan. Ketika saya harus ke Holland (Belanda dengan Aachen sangat dekat), Rudy menitipkan kepada saya untuk membelikan kereta dorong bayi karena harga di Belanda lebih murah.

Ainun sangat mencintai dan selalu memberikan perhatian besar kepada suaminya. Ketika masih menjadi Menristek/Ketua BPPT, Rudy sering pulang terlambat dari kantor, biasanya bisa lewat dari pukul 22.00. Jika sudah terlambat seperti itu, Ainun menelepon langsung dari rumah mengingatkan agar Rudy segera pulang karena harus menjaga kesehatan. Rudy biasanya minta kepada sekretariat agar menjawab "Bapak sudah menuju lift", padahal sebenarnya ia masih duduk di kursi dan meneruskan pekerjaan, tidak langsung pulang.

Perhatian Ainun juga tertuju pada makanan Rudy sehari-hari. Ia selalu menjaga kalori yang pantas dalam asupan suaminya. Ia memberikan batasan-batasan makanan apa saja seharusnya yang dikonsumsi.

Perhatian Ainun juga tertuju pada makanan Rudy sehari-hari. Ia selalu menjaga kalori yang pantas dalam asupan suaminya. Ia memberikan batasan-batasan makanan apa saja seharusnya yang dikonsumsi. Karena itu, Rudy sangat tertib dalam hal makanan jika Ainun ada di dekatnya. Namun, jika Ainun tak ada, saya lihat Rudy sering melanggar pantangan yang diberikan Ainun.

Hal lain yang menarik adalah soal waktu. Kita semua tahu jika Rudy memberikan sambutan dan berceramah biasanya selalu panjang melebihi batas waktu yang dijatahkan. Namun, jika Ainun hadir, almarhumah biasa memberikan isyarat agar segera berhenti dan Rudy dengan jujur menyampaikan kepada hadirin, ia akan segera menghentikan pidato dan ceramahnya karena sudah mendapat isyarat dari Ibu Ainun agar berhenti.

Suatu waktu, pada acara salat tarawih di kediaman beliau di Jalan Patra, Rudy diberi kesempatan menyampaikan sambutan kepada jemaah. Ternyata, sambutan Rudy berkepanjangan. Melihat jemaah sudah gelisah karena masih akan dilanjutkan acara tarawih, Ibu Ainun melalui salah seorang cucunya meminta supaya memberikan isyarat kepada "eyang kakungnya" agar mengakhiri sambutan.

Sang cucu memang menjalankan tugasnya dan tampil ke depan mengayunkan tangan seperti kalau sedang salat. Rudy mengerti isyarat itu dan mengakhiri sambutannya. Namun, ia tidak lupa berkomentar, "Itu pasti disuruh oleh Ibu Ainun." Jemaah pun tertawa.

Ainun penuh dengan energi dan tidak saja aktif sebagai ibu rumah tangga meski suaminya menteri dalam Kabinet Pembangunan. Ia aktif dengan berbagai kegiatan di bidang organisasi wanita: Dharma Wanita Pusat, Ria Pembangunan, dan banyak kegiatan sosial di bidang anak dan manula. Namun, beliau sangat religius dan pengajian secara teratur dilakukan di rumahnya.

Sewaktu menjadi Ibu Negara saya sangat terkagum-kagum bagaimana Ainun bisa mempunyai stamina dan membagi waktu untuk mengikuti setiap acara Presiden, baik di dalam maupun di luar kota. Menerima lebih banyak lagi tamu di luar kegiatan keluarga. Dan, di samping itu, ia masih dapat membagikan kepedulian dalam kegiatan sosial.

Sewaktu menjadi Ibu Negara saya sangat terkagum-kagum bagaimana Ainun bisa mempunyai stamina dan membagi waktu untuk mengikuti setiap acara Presiden

Setelah Rudy tidak lagi menjabat di pemerintahan, Ainun masih aktif dalam kegiatan sosial. Misalnya menjadi Ketua Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI), Wakil Ketua Dewan Pendiri Yayasan SDM Iptek, mendirikan Yayasan Orbit dengan cabang di seluruh Indonesia. Juga memprakarsai majalah teknologi anak anak Orbit. Semasa gejolak di Aceh pada tahun 2000-an, Ainun mengadakan beasiswa ORBIT khusus untuk siswa Aceh.

Ibu Ainun sudah tiada, meninggalkan kita dengan banyak kenangan yang manis dan berkesan. Meskipun tak banyak diekspos media, banyak tindakan beliau semasa hidup yang menjadi suri teladan bagi kita semua. Kasih sayang dan cinta tidak saja dibagi dengan suami, anak, dan keluarga, tetapi juga dengan masyarakat.

Bagi saya, Ainun betul-betul sosok ibu dari anak-anak negara dan seorang istri teladan.

*Wardiman Djojonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Kabinet Pembangunan VI, 1993-1998

http://nasional.kompas.com/read/2010/05/25/08504368/Mengenang.Ibu.Ainun.Habibie

>ERP tidak ada untungnya buat rakyat

>http://www.detiknews.com/read/2010/05/20/100911/1360570/103/e-mangnya–r-akyat–p-erlu-

Kamis, 20/05/2010 10:09 WIB
E(mangnya) R(akyat) P(erlu)?
Agus Pambagio – detikNews


JakartaKepadatan lalu lintas di beberapa wilayah perkotaan di Indonesia sudah pada tahap yang sangat mengganggu kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kerugian demi kerugian terus bermunculan sebagai akibat kemacetan tanpa dapat dicegah dan diselesaikan oleh aparat Pemerintah Daerah dengan baik. Triliunan rupiah uang terbuang akibat kemacetan lalu lintas per tahunnya.

Kepadatan lalu lintas di wilayah DKI Jakarta dan Bodetabek dengan jumlah kendaraan roda empat sekitar 2,2 juta dan kendaraan roda dua sekitar 7,5 juta sudah sangat tidak produktif bagi warganya. Sebagai contoh, berangkat dari wilayah Pondok Labu pukul 06.30 menuju Kementerian Perindustrian di Jl. Gatot Subroto pada tahun 2009 memerlukan waktu sekitar 60 menit, saat ini sudah mendekati waktu sekitar 90 menit dengan rute dan jam keberangkatan yang sama.

Persoalannya selama 1 tahun ini, pertumbuhan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat sangat cepat, perilaku masyarakat pengendara kendaraan bermotor dan penumpang angkutan umum buruk, perilaku pengemudi (terutama pengemudi angkutan umum) buruk, jumlah pedagang kaki lima yang menyita luas jalan raya semakin bertambah, minimnya pertumbuhan jumlah jalan, tidak tegasnya pelaksanaan hukum lalu lintas jalan, dan buruknya sarana dan prasarana angkutan umum menyebabkan kerugian ekonomi sekitar Rp 12,8 triliun !

Di sisi lain Pemerintah DKI Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia tidak mempunyai visi dan perencanaan yang jelas dan menyeluruh tentang masalah transportasi. Mereka hanya berpikiran bagaimana caranya mengutip retribusi dan pajak daerah setinggi mungkin demi menutupi kocek Pendapatan Asli Daerah (PAD) di wilayahnya. Mereka tidak pernah berpikir bahwa rusaknya pelayanan transportasi publik membuat PAD menjadi tidak ada gunanya.

Banyak isu terkait layanan publik betebaran setiap harinya yang kadang tanpa kejelasan ujung pangkalnya. Ada isu MRT, isu parkir berlangganan, isu air mati sampai isu yang dalam 2 minggu terakhir berkibar di media, yaitu isu ERP atau Electronic Road Pricing sebagai pengganti three in one. Semoga isu ERP bisa menjadi kenyataan sehingga kemacetan di DKI Jakarta bisa berkurang. Jangan sampai rakyat beranggapan bahwa ERP adalah E(mangnya) R(akyat) P(erlu).

Mahluk Apakah ERP ?

ERP sebenarnya merupakan sistem retribusi yang dikenakan kepada kendaraan bermotor yang melewati ruas jalan tertentu dengan tujuan tertentu, misalnya untuk mengurangi kepadatan lalu lintas, mengurangi polusi dan sebagainya. Dalam tarif ERP biasanya mencakup biaya pajak bahan bakar, biaya parkir dikawasan ERP, biaya tol, biaya kemacetan dan lain-lain.

Tujuan ERP yang sebenar-benarnya adalah agar Pemda DKI Jakarta memperoleh pemasukan yang akan digunakan hanya untuk pembiayaan pembangunan transportasi dan membiayai akibat dari kemacetan itu sendiri bukan untuk keperluan Pemerintah Daerah yang lain.

ERP pertama kali diterapkan di Singapura pada tahun 1978 diikuti oleh Norwegia (1986), London (2003) dan beberapa negara lain. Pemda DKI Jakarta sudah sejak 5 tahun terakhir ini membahas kemungkinan menerapkan ERP sebagai pengganti sistem three in one yang selama ini tidak efektif, namun tak kunjung terlaksana karena ketiadaan regulasi yang menaunginya.

Pertanyaannya, apakah Pemerintah Daerah DKI Jakarta sudah mempunyai data lengkap terkait dengan penerapan ERP? Apakah jika ERP diterapkan, kemacetan di wilayah DKI Jakarta bisa diurai dengan sukses ? Apakah landasan hukum untuk pelaksanaan ERP, khususnya pengelolaan dana retribusi yang diterima dari kendaraan yang melalui kawasan ERP, sudah lengkap?
 
Sampai hari ini landasan hukum pelaksanaan ERP belum lengkap. Memang landasan UU-nya sudah ada, yaitu UU no 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan serta UU No. 28 tahun 2009 tentang Pajak dan Pendapatan Daerah. Namun Peraturan Pelaksanaannya apa pun bentuknya, seperti Peraturan Pemerintah atau Keputusan Menteri Keuangan atau Perda belum selesai dibuat.

Peraturan Pelaksanaan menjadi penting agar penerimaan dari ERP tidak masuk ke Kas Daerah Pemda DKI sebagai PAD dan akan digunakan oleh Pemda untuk bermacam pembangunan, seperti pemakaman atau toilet umum atau bahkan membeli baju seragam Gubernur. Penerimaan dari ERP HARUS dapat digunakan untuk pengembangan transportasi di wilayah Pemda DKI, termasuk pembangunan jalan, under pass, fly over dan penyediaan sarana angkutan umum. 

Efektifkah ERP Menanggulangi Kemacetan ?

Jika ERP diterapkan tanpa melakukan beberapa langkah-langkah terintegrasi lainnya, kemacetan di wilayah DKI dan Bodetabek tidak secara otomatis akan terurai. Untuk mengurangi kemacetan, ERP harus diterapkan secara bersama-sama dengan pengembangan angkutan masal yang modern-terencana-terjadwal, tarif parkir yang tinggi, perbaikan sistem pengambilan Surat Izin Mengemudi (SIM), pendidikan tertib berlalu lintas dan penegakan hukum yang tegas bagi siapa saja termasuk pejabat publik dan militer. Tanpa ini semua ERP hanya akan menjadi beban warga pemilik kendaraan bermotor, khususnya roda empat.

Supaya tidak menjadi bahan olok-olok di masyarakat dan ERP diplesetkan menjadi E(mangnya) R(akyat) P(erlu), Pemda DKI Jakarta harus serius melaksanakan pembenahan sistem transportasi termasuk mengelola dana penerimaan yang berasal dari ERP dengan baik. Bukan diselewengkan untuk hal-hal aneh lainnya. Semoga.

*) Agus Pambagio, Pemerhati Kebijakan Pubik dan Perlindungan Konsumen
(asy/asy)

>Kaum Difabel masih susah bersekolah

>Selasa, 18/05/2010 08:06 WIB
38 Ribu Difabel di Jabar Tidak Bersekolah
Baban Gandapurnama – detikBandung

Bandung – Sebanyak 38 ribu orang penyandang cacat atau difabel di Jawa Barat tidak bersekolah. Usia mereka semestinya mengenyam bangku sekolah. Jumlah tersebut berdasarkan data Forum Sukwan Tenaga Pendidikan Luar Biasa (PLB) Jawa Barat pada 2010.

Koordinator Forum Perjuangan Difabel Jabar, Djumono Wirosiswowiyono mengatakan, Sukman Tenaga PLB mencatat pada 2010 di Jawa Barat ada 51 ribu orang difabel.

"Yang sekolah  jumlahnya 13 ribu orang. Sementara 38 ribu lainnya tidak bersekolah," jelas Djumono kepada wartawan di PSBN Wyata Guna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Senin (17/5/2010).

Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan mereka tidak sekolah. Di antaranya ialah kurangnya peran pemerintah menyediakan insfrastruktur sekolah luar biasa (SLB). Saat ini, kata dia, di Jawa Barat terdapat 330 SLB. Idelanya, lanjut Djumono, satu kecamatan itu satu SLB.

"Faktor lain mereka tidak sekolah juga yaitu kurangnya motivasi dari keluarga penyandang cacat untuk menyekolahkan anaknya," ujarnya.

Djumono berharap Pemprov Jabar untuk memenuhi dan memperhatikan hak-hak kaum difabel selama ini.

(bbn/ern)

>Menghapus Akun Facebook Secara Permanen

>http://www.groovypost.com/howto/security/permanently-delete-your-facebook-profile-account/

WP Greet Box icon

Hello and welcome to groovyPost! If you're new here, you might want to subscribe to our RSS feed or our daily Email updates for regular How-To tutorials and Tech News.

facebook  deactivation policy

Over the last 12 months, Facebook has seen its share of controversy in regard to account privacy and its terms of service.  It’s hard to say what sparked all the excitement: Rapid growth of the service (#3 on the internet overall)?  Parents growing awareness of the site and how their kids were using it?  The Media?  Or perhaps they deserved it based on their unethical business practices, privacy policy and terms of service

Share

Whatever the reasons, it’s obvious some no longer trust the internet giant as I seem to keep hearing the same question over and over again:

 

“Is it possible to delete my facebook account?”

and

“I managed to deactivate it so it’s deleted right?”.

 

You would think the answer would be fairly straightforward however I have to admit, it took quite a bit of digging to come up with the answers surrounding account / profile deactivation and full blown account removal from the service.  After doing the research and walking through the deceptive complex process, it was very apparent that Facebook has done their very best to prevent its customers from leaving their service thus limiting the amount of customer data being scrubbed from their service. 

Personally, I really feel Facebook has definitely crossed the border of unethical behavior on this.  After all, they don’t “actually” provide an interface to delete your account and end your agreement with them regarding the use of your personal data per section 2.1 in their terms of service.

Here, let me show you.  First I’ll explain Facebook Account Deactivation since this is the only option offered in their User Interface.

 

Deactivating Your Facebook Account, Is it the same as Account Deletion?

Users can deactivate their Facebook account from the user interface without too much trouble however Facebook will ask you to confirm your decision (more on this) by displaying one of your friends and telling you “Your Friend will miss you”.  In my example for instance, I’m pretty sure it took at least a few days for “P-Diddy” to get over losing me as a FaceBook friend.  :)

Facebook Account Deactivate  Confirmation Screenshot 

Once you confirm you want to deactivate your account, be sure to: Read the fine print! 

 

The fine print clearly outlines that account “deactivation” is not the same as deleting your account / profile and all your data in the service.

you can reactivate  facebook at any time, is this really deactivation?

What surprised me was the fact that even after the account was “deactivated”, YOU can still be tagged in photos, invited to events, etc.. With this in mind, be sure to “opt out” of emails if that’s the path you’re going down.

Even if you deactivate  your account you can still be tagged in photos and added to friends  lists and groups, and you'll still receive emails.

So in short, deactivating your Facebook account is pretty much worthless.  It’s Facebook’s deceptive and very smart practice of luring you into a false sense of security by making you think you’ve removed your account, personal data and license to your IP (intellectual property) from the service when actually you haven’t.   The unethical part about this is even while your account is deactivated, the license granted to Facebook in section 2.1 of their terms:

Section 2.1 of the Facebook Terms of Service

…you grant us a non-exclusive, transferable, sub-licensable, royalty-free, worldwide license to use any IP content that you post on or in connection with Facebook ("IP License"). This IP License ends when you delete your IP content or your account unless your content has been shared with others, and they have not deleted it.

is still in affect.  Groovy huh?  Good news however, all you have to do to “re-activate” your account is log in again and tadaa, everything is right back where you left it as if you never left – pictures, friends, posts etc…

So I think everyone will agree with me in that the Facebook Account / Profile deactivation process is worthless if your goal is to delete your account and remove your data or IP from the service.   Seriously..  The “real” good news is there actually IS a way to delete your account and IP!

 

How to Really Delete Your Facebook Account

Deep in the belly of the Facebook help center you can find the URL to permanently delete your Facebook account.

 

Before I show you the link however please read the following carefully:

Remember that deleting your Facebook means that all of the information you have entered will be erased.  Photos, account friends, messages, status updates etc..  All traces of you will be nuked on Facebook (At least we can assume so…).  With that in mind, please move forward reading all large and fine print.  :)

 

Okay so lets get started on permanently deleting your profile.

 

1.    Visit http://www.facebook.com/help/contact.php?show_form=delete_account, Click Submit

Facebook account deletion confirmation

2.  You’ll be asked to confirm, Type in your Password, and then Solve the CaptchaClick Okay to continue.

facebook accoun deletion again

All done, sort of…

 

Even after confirming the deletion of your account, Facebook will only “deactivate” it leaving you 14 days to log back in and cancel the entire deletion… um yeah…

You must wait 14 days after confirming deletion of your Facebook  account

I know what you’re thinking…  “Really?  14 days to delete my data?”

  1. I completed the scavenger hunt and found the “DELETE” link.
  2. I saw the BIG RED TEXT warning me my account would be permanently deleted.
  3. I entered my password.
  4. I helped by solving the Captcha puzzle. 
  5. And lastly I clicked the Okay button

 

What part of “DELETE MY ACCOUNT” don’t you understand Facebook?  Perhaps you thought I was joking?  Or Drunk?  But if that’s the case why the 5 steps above?  Yes Regis, that’s my final answer!  Delete my account!  ;)

Anyway, I think it’s pretty obvious by now Facebook doesn’t really care about you personally, they just don’t want to lose any of YOUR data from their service.  Not your employment data, school history, friends, network, photos, your tagged face etc… which they managed to collect from you over the year in their social web.  The 14 day grace period is just their last ditch attempt to somehow lure you back into the service somehow (either accidently or from some subconscious facebook addiction) in order to abort the account cancellation process.

With this in mind, here’s a few tips to make sure you don’t “accidently” login to Facebook thus aborting your account nuke process.

  1. Clear your browser cache and delete all cookies – / /
  2. Delete the Facebook Application on your iPhone (don’t worry, it’s free if you ever want to add it again…)
  3. Avoid clicking the Facebook Share button on any websites you read such as the button below (sorry, couldn’t resist <smile> )

Now, I can’t make any promises however after ALL THIS WORK (and 14 days of course), your account should be deleted.. that is unless you were only joking and actually DIDN’T want to delete your account…

 

groovyShare

— 

>Guru : dirampok, dibunuh, dipungli…

>

http://berita.liputan6.com/daerah/201005/275318/Perampok.Berpistol.Rampok.Gaji.Guru.Dua.Tewas

Perampok Berpistol Rampok Gaji Guru, Dua Tewas  

Ridwan Pamungkas

03/05/2010 16:41

Liputan6.com, Cirebon: Sebuah aksi perampokan menggegerkan Kota Cirebon, Jawa Barat, Senin (3/5). Kawanan perampok yang terdiri dari dua orang berpistol membawa kabur uang tunai senilai Rp 600 juta untuk gaji para guru sekolah. Perampok juga menembak dua pegawai yang membawa uang gaji itu, sehingga kedua korban tewas seketika.

Menurut saksi mata, saat korban keluar dari Bank Jabar yang berada di Kompleks Rumah Sakit Gunungjati, korban sudah dipepet oleh dua pelaku yang mengendarai sepeda motor. Bahkan, pelaku sempat mengeluarkan tembakan beberapa kali. Korban yang mencoba mempertahankan tas berisi uang gaji guru langsung ditembak beberapa kali.

Akibat perampokan ini, sekitar 300 guru sekitar wilayah Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan Kesambi, terancam tidak menerima gaji.(IDS/ANS)

~~~
http://www.detiknews.com/read/2010/05/03/135825/1350136/10/usai-ambil-gaji-guru-di-bank-2-pns-cirebon-ditembak-perampok

Senin, 03/05/2010 13:58 WIB
Usai Ambil Gaji Guru di Bank, 2 PNS Cirebon Ditembak Perampok
Reno Nugraha – detikNews

Cirebon
– Nasib sial dialami dua Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Pendidikan Kota Cirebon, Jawa Barat. Mereka tewas ditembak perampok usai mengambil gaji milik 300 guru SD di Bank Jabar Banten, Kota Cirebon. 

Peristiwa tragis itu terjadi sekitar pukul 09.00 WIB, Senin (3/5/2010). Kedua PNS naas itu adalah Sutikno (45) warga Jalan Harapan Drajat Kesambi Cirebon, dan Rudiwan (45) warga Desa Kraton, Gunung Jati Cirebon.

Kedua pegawai Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) tersebut rencananya akan mengambil uang gaji milik 300 guru senilai Rp 585 juta. Namun, secara tidak sadar, keduanya telah dibuntuti oleh kawanan perampok.

Usai keluar dari Bank Jabar kantor kas Gunung Djati yang hanya berjarak 100 meter dari kantornya, kedua korban yang berboncengan dengan sepeda motor, tiba-tiba dicegat seorang pria yang juga mengendarai sepeda motor. Tanpa basa-basi, pria tersebut langsung menembak korban Sutikno yang kala itu membawa sepeda motor Honda Supra bernopol E 6858 AT.

"Korban Rudiwan panik dan berusaha menyelamatkan uang tersebut. Namun, dia justru ditabrak pelaku lainnya dengan sepeda motor dan diberondong tembakan sebanyak lima kali. Korban tewas di lokasi kejadian," kata Kombes Pol Tugas Dwi Apriyanto, Kapolwil Cirebon saat ditemui Wartawan di Lokasi Kejadian.

Saat ini polisi sudah mengamankan 2 sepeda motor, satu milik korban satunya lagi milik pelaku yang ditinggal pergi. Polisi juga menyita 9 proyektil dan selongsong peluru. Polisi menduga para pelaku menggunakan senjata api jenis FN.

Selain menewaskan korbannya, perampok sadis tersebut juga berhasil menggondol uang Rp 585 juta tersebut.

(djo/djo)

~~~
http://tempointeraktif.com/hg/bandung/2010/05/04/brk,20100504-245357,id.html

Oknum Polisi Minta Pelicin Rp 3 juta Agar Berita Acara Perampokan Keluar

TEMPO Interaktif, Cirebon – Oknum Polresta Cirebon diduga meminta uang sebesar Rp 3 juta untuk menebus berita acara. Berita acara dari kepolisian dibutuhkan untuk mencairkan kembali gaji 380 guru yang sebelumnya sudah dirampok.

Uang gaji yang dirampok bisa digantikan. Menurut Kasubag Belanja Pegawai Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Cirebon, M Atlantik, harus terlebih dahulu ada berita acara dari kepolisian. "Setelah ada berita acara itu, barulah keluar SK Wali Kota Cirebon mengenai penggantian uang yang dirampok," kata Atlantik. Penggantian uang akan dilakukan sejumlah uang yang dirampok.

Namun saat mengurus berita acara, sumber Tempo di Dinas Pendidikan Kota Cirebon mengaku dimintai uang sebesar Rp 3 juta di ruang Reskrim Polresta Cirebon agar berita acara itu cepat keluar. Saat ini berita acara itu sudah ada di meja Atlantik.

Kapolresta Cirebon, AKBP Ary Laksmana Wijaya, saat dikonfirmasi membantahnya. Namun ia pun meminta jika benar ada permintaan uang tersebut untuk dilaporkan langsung kedirinya. "Saya minta supaya melaporkan langsung ke saya kalau memang benar ada," kata Ary.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada Senin (2/5) terjadi perampokan. Saat itu dua orang PNS di lingkungan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan Kecamatan Kesambi Kota Cirebon, baru selesai mengambil gaji untuk 380 guru dari Bank Jabar Banten Cabang RSUD Gunung Jati.

Jarak yang dekat antara kantor UPT dan bank, hanya sekitar 100 meter, membuat dua orang tersebut masing-masing Rudiman, 45, dan Sutikno, 45, memutuskan mengambil uang menggunakan motor. Namun baru keluar dari bank, motor yang mereka tumpangi dipepet oleh sebuah motor satria sambil melepaskan tembakan. Keduanya pun akhirnya tewas ditempat dan uang sebesar Rp 585 juta untuk gaji 380 guru se Kecamatan Kesambi pun diambil perampok.

IVANSYAH