An Open Letter to Marzuki Alie

Source: Jakarta Post

http://imo.thejakartapost.com/nrg07/2010/10/29/an-open-letter-to-marzuki-alie/

An Open Letter to Marzuki Alie

Dear Sir,

It is my job as a troubled, disappointed Indonesian citizen to voice out what I think of the Legislative Assembly as a political institution that is supposedly to be on the side of “the people”, in light of recent developments.

Your remark as to tsunami victims were at risk because they lived on the shores was insensitive and morally corrupt. To be politically incorrect, even though they leave from the shores, they’ll suffer volcano ashes if they move to the mountains, get drowned in mud if they stay in the Kampung, or flooded if they move to the city. Unlike you, many other Indonesians don’t have big houses, fancy cars, and all the facilities that a House speaker is entitled to. Unlike you, many Indonesians are struggling just to get their food on the table.

Where is your sense of priority when your members are taking a study trip to Greece, a country where it is the most corrupt among European Union countries, with high unemployment rates and an economy near to default, and to justify the visit to learn “ethics and politics” among the many dire conditions Indonesia is facing?

Where is your sense of empathy, when many children are unable to go to school because their building is torn down, many women are unable to get basic maternal health because there are only few hospitals around, yet you urge that renovating the DPR building, complete with a spa and massage parlour, is more important?

Where is your sense of responsibility, as a law-making body, when your House have only been able to pass 7 out of 70 bills prioritized for this year?

How do you sleep at night?

I don’t know why I’m writing this in English, but my gut tells me it wouldn’t matter if I wrote it in Indonesian, since I don’t think you’d understand anyway. However, I do hope you, as a the head of the House, a self-proclaimed voice of the people, still have an ear to listen, let alone a heart.

Sincerely,
A concerned citizen.

 

Kisah Ponimin, Istrinya dan Awan Panas Merapi

Jumat, 29/10/2010 11:26 WIB
Ponimin, Kandidat Kuat Pengganti Mbah Maridjan 
Hery Winarno – detikNews


Jakarta – Sosok Ponimin (50) bagi warga lereng Merapi bukan figur yang asing. Dia adalah orang “sakti” nomor dua setelah Mbah Maridjan. Selama ini dia dikenal sebagai “orang pintar” yang biasa dimintai bantuan warga Merapi.

Ponimin, dikenal sebagai pawang hujan, tempat konsultasi tentang hari baik, dan juga tokoh agama yang suka diminta warga untuk memimpin pengajian dan selamatan.

“Gusti Kanjeng Ratu Hemas meminta saya menggantikan Mbah Maridjan,” ujar Ponimin saat ditemui wartawan di rumah dr Ana Ratih Wardani, di Kaliadem, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat (29/10/2010).

Ponimin merupakan warga asli Merapi. Pria yang menurut warga kuat berzikir ini, telah memiliki 2 cucu ini menjadi abdi dalem Keraton Yogyakarta sejak 2001. Pada Kamis (28/10) GKR Hemas, istri dari Sri Sultan HB X, datang menengok pengungsi Merapi. Saat itu Hemas mendengar cerita dari Ponimin. Setelah itu Hemas meminta Ponimin untuk meneruskan tugas Mbah Maridjan sebagai kuncen Merapi.

“Tapi saya tidak bisa memberikan jawaban sekarang, rumah saya yang saya tinggali hancur,” ujar Ponimin yang juga biasa dipanggil Mbah Ponimin.

Dilihat dari penampilannya, nuansa mistik tampak melekat pada Ponimin. Tasbih terkalung di pergelangan tangannya. Dua buah cincin akik melingkar di jari manis dan tengahnya.

“Untuk menjadi juru kunci Merapi, saya ada 3 syarat. Pertama, soal rumah saya yang hancur tentu saya harus berikhtiar, yang kedua izin dari Allah dan istri saya, yang ketiga semuanya itu harus terpenuhi,” jelas pria berkumis ini.

Menurutnya pula, saat ini jabatannya sebagai abdi dalem Kraton Yogyakarta hanya pada tingkat jajar. Posisi itu masih jauh dengan kuncen Merapi, ada 3 golongan di atas posisinya sekarang untuk menjadi juru kunci.

“Jabatan saya masih jauh di bawah,” ujar Ponimin yang mengaku jarang berkomunikasi dengan Mbah Maridjan.

Rumah milik Ponimin hanya berjarak 200 meter dari rumah Mbah Maridjan,  namun beda dusun. Baik Mbah Maridjan dan Ponimin sama-sama dituakan di kawasan Merapi.
(ndr/nrl)

Jumat, 29/10/2010 11:34 WIB
Ponimin Ditunjuk Gantikan Mbah Maridjan, Sang Istri Salat Istikharah  
Meylan Fredi Ismawan – detikNews


Yogyakarta – Yati (42), istri Mbah Ponimin enggan mengomentari sang suami yang menjadi kandidat kuat pengganti Mbah Maridjan. Yati hanya ingin kembali ke rumahnya untuk mengaji dan salat istikharah sebelum mengambil keputusan.

“Saya harus mengaji dulu dan salat istikharah apakah kiranya suami saya bisa menjadi penjaga Merapi,” kata Yati yang ditemui detikcom di kediaman dokter Ana, di Dusun Ngenthak, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, Jumat (29/10/2010).

Perempuan berkerudung ini berharap bisa segera kembali ke rumah di Dusun Kaliadem, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman.

“Saya saat ini sudah 3 hari tidak mengaji. Yang saya takutkan jika sampai 7 hari saya tidak mengaji akan terjadi sesuatu,” ujar dia sambil memegang telepon genggamnya.

Yati yang mengenakan kerudung warna putih dan daster warna ungu ini dikenal rajin mengaji.

“Dalam mengaji, saya tidak mau dilihat orang lain. Tetapi, kalau orang lain ingin mendengarkan tidak masalah. Saya mengaji dan salat tahajud biasa pukul 23.00 WIB hingga fajar,” kata Yati yang mengalami luka di bagian kaki karena menginjak pasir panas ini. Namun kini luka Yati sudah sembuh.

Yati mengaku pernah tinggal di 4 pesantren.  Yati dan Ponimin memiliki putera, Ilham Galih Habibi (5). Yati yang asli dari  Desa Merdikorjo, Tempel, Sleman, ini  memiliki anak angkat yang telah berkeluarga dan memberinya 2 cucu.

Ponimin merupakan warga asli Merapi. Pria yang menurut warga kuat berzikir ini, telah menjadi abdi dalem Keraton Yogyakarta sejak 2001. Pada Kamis (28/10) GKR Hemas, istri dari Sri Sultan HB X, datang menengok pengungsi Merapi. Saat itu Hemas mendengar cerita dari Ponimin. Setelah itu Hemas meminta Ponimin untuk meneruskan tugas Mbah Maridjan sebagai kuncen Merapi.

(aan/asy)

Jumat, 29/10/2010 12:10 WIB
Kisah Ajaib Ponimin Selamat dari Awan Panas Merapi  
Hery Winarno – detikNews


Sleman – Ajaib, Ponimin bersama 7 anggota keluarganya selamat dari musibah awan panas atau wedhus gembel Merapi. Calon kuat pengganti Mbah Maridjan ini berlindung di bawah mukena istrinya, Yati, sambil memegang Alquran.

“Yang ajaib, mukena yang buat tudungan itu dan hanya buat salat itu, bisa untuk nutup kita bertujuh. Semuanya anak dan istri saya di tangan kanan kiri semuanya megang Alquran,” kata Ponimin (50) saat ditemui  wartawan di rumah dr Ana Ratih Wardani, di Kaliadem, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat (29/10/2010).

Ponimin bercerita, saat itu, Selasa (26/10) sore dia tengah berada di beranda rumah. Semua pintu terbuka, sehingga dia bisa jelas melihat istrinya tengah mengaji. Ketika magrib datang, dia melihat istrinya berbicara dengan seseorang.

Ponimin mendengar suara, istrinya berucap, “Jangan Mbah, jangan Mbah,” terang Ponimin menirukan suara istrinya, Yati.

Rupanya, sosok gaib yang berbicara dengan istrinya itu adalah sosok laki-laki tua mengenakan batik lurik Jawa dan blangkon yang biasa mendatangi keluarga mereka. Lelaki tua itu berucap hendak menghancurkan Yogyakarta. Mendengar ucapan istrinya, lelaki tua itu marah.

“Lalu saya melihat asap dan api mengejar istri saya, dan saya masuk ke dalam. Istri saya kemudian tudungan dengan mukena bersama 2 anak dan menantu saya dan 2 cucu saya. Saya langsung masuk ke dalam, setelah itu tiba-tiba pintu tertutup, saya pun langsung masuk ke tudungan mukena,” jelasnya.

Di dalam tudungan mukena biasa untuk salat istrinya itu, mereka memegang Al Quran dan berzikir. Hawa panas mengitari mereka. “Saya lihat api di mana-mana,” imbuh Ponimin.

Hingga kemudian setelah terasa aman, dia menghubungi kawan-kawannya yang di pengungsian melalui telepon seluler untuk minta bantuan. Tapi tidak ada yang datang, karena udara masih panas. Teman-teman yang dia hubungi malah memintanya bersabar. Teman itu akhirnya datang dengan menumpang mobil seperti Jeep.

“Kami lantas keluar rumah dengan panas terasa di kaki. Ketika kendaraan jalan, tidak bertahan lama, karena bannya keburu meledak,” terangnya. Rombongan itu lantas kembali ke rumah. Di rumah mereka mengambil sajadah dan bantal. Dengan alat itu mereka keluar lagi mencari pos pengungsian.

“Dengan memakai bantal dan sajadah, yang dipakai sebagai alas dengan estafet, akhirnya berhasil sampai di tempat aman,” ujar Ponimin yang rumahnya sekitar 200 meter dari Mbah Maridjan, namun beda dusun.

Jarak dari rumah dia ke tempat aman sekitar 2 km. Bantal dan sajadah dipakai alas dengan bergantian, yang paling belakang memberikan sajadah atau bantal ke yang terdepan untuk digunakan, demikian seterusnya.

“Akhirnya setelah dua jam kami bertemu tim SAR,” imbuh Ponimin yang memakai cincin batu akik di jarinya dan tasbih di tangannya ini.

Ponimin mengalami luka di kaki. Telapak kakinya melepuh karena panas, terlihat seperti bisul mengandung nanah.

“Tapi alhamdulillah kami selamat,” ujar Ponimin yang dikenal sebagai “orang pintar” nomor dua setelah Mbah Maridjan di lereng Merapi ini.

Karena pengalaman ajaibnya ini, Keraton Yogyakarta pun menawari Ponimin menjadi kuncen Merapi menggantikan Mbah Maridjan. Namun Ponimin masih pikir-pikir menerima jabatan yang 3 kali lebih tinggi dibanding tugas abdi dalem yang disandangnya sekarang. Itu karena dia harus berikhtiar membangun rumahnya kembali yang porak poranda.

(ndr/nrl)

Why Singapore courtesy trumps Indonesia’s ‘santun’

by Mario Rustan THE JAKARTA POST

Some years ago, an old British headmaster, frustrated at the behaviour of local students, said to me that “Indonesian does not have a word for ‘courtesy’.”

I would translate courtesy as “santun”, a borrowed Javanese word implying its culture’s most admirable behaviour – speaking and acting politely. Courtesy, however, covers other aspects not covered by the concept of “santun” – respect and consideration.

Indonesians love to think of themselves as a nation of polite and friendly people. We have helpful people who offer service with a smile. We speak politely and address all strangers as “sir”, “madam”, and “big brother/sister”. Schoolchildren are told that tourists love Indonesia because of its friendliness and politeness.

Early this month, I travelled to Singapore, an unsmiling nation. Singaporeans grunt, yell and speak fast in incomprehensible English.

If you look Chinese (as yours truly does), the shop attendant might address you in Chinese and would become unhappy when you didn’t understand or try to reply in English.

And yet, Singapore is a global hub for international conferences, a favourite destination for holidaymakers from around the world – including Indonesia – and a financial powerhouse. So why does grunt triumph over smile?

I experienced culture shock when asking my hotel’s information desk and then a convenience store clerk where the nearest MRT station was. If you don’t know and you ask, they treat you like a fool (if the former) or imply that you are wasting their time (if the latter).

Later in the day, the Singaporean treatment was particularly hard for some of my acquaintances from Java. Someone was yelled at when asking, “What’s this?” when ordering food.

The waitress grabbed our empty plates as we were speaking. When we were still figuring out how the MRT tickets worked, impatient people behind us began practically pushing us over.

Singaporeans are intense people. They live hard, work hard, party hard. Poor people – like us Indonesians – have time to greet each other, give directions to strangers, take our time to enjoy one another’s company.

Or do we? When I was walking to the check-in desk at Soekarno-Hatta International Airport, I noticed that they had employed several “customer service” staff.

The first one who greeted me asked me about my flight. After he answered a question I had put to him about my gate number, he asked where I lived and what my job was. Finally he asked me to come closer to him, while his female partner laughed behind his back.

There were dozens of other uniformed officers who spent the hour crowding a closed check-in desk, chatting and laughing out loud.

I had lunch in a cafe, where after taking my order, the waiters stood near the tables and exchanged raunchy jokes and rude banter, enough to make several potential customers leave.

It has become a familiar scene in several shops – waiters and clerks making rude jokes in audible voices in front of customers.

NO LAME EXCUSES – JUST ‘NO’

A few months ago, a writer in this newspaper compared the treatment she received in Soekarno-Hatta and Changi airports in reference to requesting a wheelchair.

The Singapore staff bluntly snapped at her. The Jakarta staff declined her request with a smile, a half-bow and an excuse.

In the next few days, I learned the game and learned to compete with Singaporeans. Eye contact can get you what you want, or psyche out your competitor to give away his hand.

Fast feet and hands can give you an edge in getting empty tables or seats. But the best part of playing in Singapore is you can play fairly, at least compared to in Indonesia. You may jostle, but everyone queues.

People and things arrive on time, and when somebody has to give you a negative reply, they don’t give a lame excuse. They just say “no” and that is the end of the discussion.

A Singaporean who wanted to meet me informed me well in advance. We made sure that we knew when and where we were supposed to meet, and when she knew she was going to arrive late, she notified me – a rarity in Indonesia.

In terms of politeness, Singaporeans need to improve. In terms of consideration for other people, they have plenty to learn. But in terms of respecting others, they do.

Perhaps for most people, the waiter did not respect the patron by taking away the empty plates early. But what is important is that they had delivered the correct food in a timely manner.

Lately I’ve become frustrated by upstart restaurants in Bandung that take forever to deliver my order and that have waiters who idle away their time and do not follow up on my complaints appropriately – and never say sorry.

WHO’S SMILING

Singaporeans are practical people and love to point out that they are stressed out by their high-speed lives. But take another look, and you might see that the suffocating slow life of Jakarta is worse.

Worse, while in Singapore you can be assured that things work, it’s a different story here. I tried to make some Singaporeans smile using practical, friendly and quick introductions, and it worked. On the other hand, it’s harder to make strangers in Jakarta smile, because many are concerned about their personal security.

A humorist in Jakarta wrote in his blog that he was worried about the new service policy applied by a popular restaurant chain.

The waiters, he said, greeted customers enthusiastically, made comments about them, praised their choices, and then asked if they were comfortable enough. And then in the middle of dining, the waiters would come and ask the customer if they liked the food. And so on.

The problem was the words that they used were unnatural, their enthusiasm and smiles forced, and like my experience at the Jakarta airport, they didn’t respect their customers’ personal space.

Along with other requests, such as for them to have more babies, the Singaporean Government wants its people to be more courteous.

After all, they are too tired, burned out and too stressed to be able to smile, to make small talk with strangers and to be more expressive.

But since they respect each other’s space, they act responsibly on the streets and they don’t make poor excuses; in terms of courtesy, they are superior to Indonesians.

The writer is a graduate of La Trobe University, Australia. He is currently writing a novel on city life. This column first appeared in The Jakarta Post.

[Merapi Eruption] The scorched forest and villages

http://www.detiknews.com/read/2010/10/27/145403/1476676/10/hutan-tempat-mbah-maridjan-melakukan-ritual-hangus

Rabu, 27/10/2010 14:54 WIB
Gunung Merapi Meletus
Hutan Tempat Mbah Maridjan Melakukan Ritual Hangus   
Bagus Kurniawan – detikNews


(Foto: Bagus Kurniawan/detikcom)


Jakarta
– Sangat panasnya material Merapi terlihat di hutan Pethit Opak yang berada di lereng Merapi, sekitar 3 KM dari puncak. Hutan yang biasa digunakan Mbah Maridjan melakukan ritual labuhan itu benar-benar hangus. Lereng yang sebelumnya menghijau itu kini menjadi sangat gersang, tak ada pohon yang hidup.

Pethit Opak yang merupakan hulu sungai Opak ini dinilai sebagai kawasan yang paling mengerikan. Kondisi Pethit Opak ini terlihat jelas dari Dusun Kinahrejo. Tempat yang berjarak sekitar 2 KM dari dusun Kinahrejo, Kecamatan Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman itu seperti padang tandus.

Pemantauan detikcom, Rabu (27/10/2010), semua pohon di hutan ini terbakar. Namun, hutan ini memang tidak dihuni oleh warga. Hutan ini sering dianggap sebagai pintu gerbang roh halus Gunung Merapi. Karena itulah, Mbah Maridjan selalu menggelar ritual labuhan di tempat ini.

Sementara itu, data yang didapatkan detikcom, desa yang mengalami kerusakan paling berat akibat awan panas Merapi adalah Desa Umbulharjo dan Desa Kepuharjo, yang sama-sama berada di Kecamatan Cangkringan. Desa Umbulharjo, antara lain terdiri dari dusun Kinahrejo, Ngrangkah, dan Palemsari. Sedangkan di Desa Kepuharjo, dusun Kaliadem yang mengalami kerusakan parah.

Dusun-dusun yang dihujani material Merapi itu tampak porak-poranda. Bisa dipastikan semua bangunan rumah warga mengalami kerusakan. Perlu renovasi terhadap rumah-rumah warga agar bisa digunakan kembali.

Tim SAR telah melakukan penyisiran di dua desa ini untuk mengecek kembali adanya korban tewas akibat letusan Merapi. Sejumlah warga juga disertakan oleh Tim SAR dalam rangka penyisiran itu. Tim SAR memasuki rumah-rumah warga untuk memastikan ada tidaknya korban.

Rumah-rumah warga di Dusun Kinahrejo, misalnya, dipenuhi dengan debu. Semua sudut rumah tidak lepas dari tumpukan debu. Rumah-rumah di sekitar rumah Mbah Maridjan, tumpukan debu terlihat sangat tebal. Tidak hanya debu, tapi juga tumpukan pasir halus.

Akibat awan panas Merapi ini, 28 orang tewas, termasuk Mbah Maridjan, yang selama ini disebut sebagai kuncen spritiual Merapi. Mbah Maridjan ditemukan tewas dalam posisi sujud di dalam rumahnya yang porak-poranda.

(asy/nrl)

http://foto.detik.com/readfoto/2010/10/27/131357/1476485/157/1/

Rabu, 27/10/2010 13:13 WIB

fotoNews

Cangkringan Sleman Porak Poranda

Fotografer – Bagus KurniawanMerapi telah mengeluarkan awan panas (wedhus gembel) akibatnya puluhan rumah di Desa Umbulharjo dan Kepuharjo Kecamatan Cangkringan, Sleman rusak parah dan 26 jiwa melayang.

GB
Pohon-pohon di sekitar Desa Umbulharjo Kecamatan Cangkringan Sleman rusak akibat terkena hempasan awan panas.

 

GB

Kawasan Dusun Kinahrejo Desa Umbulharjo, Cangkringan Sleman habis terbakar disapu awan panas yang terjadi pada hari Selasa sore.

GB

Semua pohon terbakar akibat terkena awan panas dengan suhu lebih dari 500 derajat.

GB

Salah satu dusun di Desa Umbulharjo porak poranda tersapu awan panas.

GB

Semua luluh lantak diterjang wedhus gembel Merapi.

GB

Seorang anggota TNI AL memeriksa puing-puing reruntuhan rumah salah seorang warga Desa Umbulharjo yang terkena awan panas.

GB

Puluhan hektar lahan dan pemukiman di lereng selatan Merapi di desa Umbulharjo luluh lantak diterjang awan panas.

GB

Bangkai sepeda motor ditemukan diantara reruntuhan rumah milik salah seorang warga Desa Umbulharjo yang terkena awan panas pada hari Selasa sore.

GB

Seorang anggota polisi menyusuri jalan perbukitan di lereng Merapi Dusun Kinahrejo untuk mencari korban yang belum ditemukan.

GB

Potongan kulit manusia yang menjadi korban awan panas ditemukan di sekitar reruntuhan rumah di dusun Kinahrejo.

Holy Cow!

Rabu, 27/10/2010 12:07 WIB
Gunung Merapi Meletus
Masjid Mbah Maridjan dan 2 Sapi yang Perkasa
Bagus Kurniawan – detikNews


(Foto: AFP)

Sleman – Kawasan Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, luluh lantak diguyur awan panas Gunung Merapi. Dusun Mbah Maridjan ini seperti kota mati. Namun, masjid Kinahrejo masih tetap tegak berdiri. Juga ada dua sapi yang perkasa dan berdiri tegak.

Pemantauan detikcom, Rabu (27/10/2010), kawasan Pakem yang sebelumnya asri dengan warna hijau, karena banyak pepohonan, kini menjadi kering kerontang. Hanya warna coklat dan hitam yang mendominasi. Debu vulkanik menutupi semua yang ada di kawasan Kinahrejo, termasuk rumah-rumah yang porak-poranda dan pepohonan yang bertumbangan.

Di tengah porak-porandanya bangunan-bangunan di Kinahrejo, masjid Kinahrejo, tampak masih utuh dan kokoh berdiri. Di masjid inilah, Mbah Maridjan dan warga dusun biasanya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Meski berselimut debu, masjid yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumah Mbah Maridjan itu terlihat masih kokoh. Hanya saja, banyak genting di beberapa bagian yang bolong, terkoyak oleh kerikil-kerikil panas yang menyembur dari perut Gunung Merapi. Di sekeliling masjid, pohon-pohon tampak mati, penuh dengan debu.

Yang tak kalah menarik lainnya, ada dua sapi di desa ini yang masih hidup. Dua sapi jenis Fries Holland, sapi penghasil susu itu, masih tegak berdiri pagi tadi. Namun, kondisi sapi ini memang mengenaskan. Dua sapi ini tetap berdiri di pinggir bangunan rumah yang sudah porak-poranda, tak ada air dan makanan di sampingnya.

Sekujur tubuh dua sapi itu terdapat luka bakar. Sebagian kulitnya mengelupas dan melepuh. Kesaksian salah seorang Tim Evakuasi yang mendatangi kawasan ini pada Selasa (26/10/2010) malam, dua sapi itu masih bisa melenguh. Kini, dua sapi itu ditangani Tim SAR untuk diselamatkan.

Hingga pukul 11.40 WIB, Tim SAR masih terus menyisir kawasan Desa Umbulharjo dan Kepuhharjo. Tumpukan debu yang cukup dalam dan tumbanganya banyak pohon cukup menyulitkan Tim SAR dalam melakukan penyisiran. Suasana dusun itu memang mengerikan setelah diguyur material Merapi yang diprediksi bersuhu 600 derajat Celcius itu.

(asy/nrl)

Lereng Merapi Dilanda Wedhus Gembel

Rabu, 27/10/2010 11:06 WIB
Rumah Hangus, Sapi Terpanggang, Dusun di Lereng Merapi Bak Kampung Mati 
Bagus Kurniawan – detikNews


Foto: AFP

Jakarta – Sunyi sepi. Kampung mati. Itu situasi di tiga dusun di lereng Merapi, Kinahrejo, Pelemsari, dan Ngrangkah, Sleman, Yogyakarta, pada Rabu (27/10/2010) pada pukul 10.45 WIB. Sapi-sapi pun terpanggang.

Tiga dusun itu tersapu awan panas Merapi, Selasa, 26 Oktober sore. Rumah-rumah penduduk di tiga dusun itu rusak berat. Bangunan yang terbuat dari kayu, ludes terbakar. Jadi arang.

Pemandangan begitu mengenaskan. Ternak-ternak, di antaranya sapi-sapi mati terpanggang. Sebagian sapi sapi itu dalam keadaan sekarat. Sekujur tubuh sapi sapi itu sudah melepuh.

Semua penduduknya masih berada di pengungsian. Hanya tampak sejumlah anggota tim SAR yang melakukan pencarian korban letusan Gunung Merapi di reruntuhan rumah.

Salah satu rumah yang dicek oleh tim SAR adalah rumah milik Pringgo. Lokasi rumah Pringgo di bagian utara Dusun Ngrangkah. Namun tim SAR tidak menemukan Pringgo dan keluarganya.

Menurut saksi mata, Pringgo dan anaknya, saat Merapi meletus sedang mencari rumput di atas gunung. Namun informasi itu masih belum bisa dipastikan. Tim SAR masih terus mencari. Pringgo atau pun warga lainnya. (ken/bdi)

In Memorian Mbah Maridjan

Rabu, 27/10/2010 04:13 WIB
Relawan PMI Tewas Saat Menjemput Mbah Maridjan  
Meylan Fredi Ismawan – detikNews

Foto: Reuters

Jakarta – Seorang Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) tewas bersama 15 orang lainnya di sekitar rumah juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan. Relawan TNI ini tewas terhembus awan panas alias wedhus gembel dalam misi menjemput Mbah Maridjan.

“Ada Relawan TNI dari Bantul, Tutur Priyono, tewas di atas dan dibawa ke RS Sarjito,” ujar Sekretaris PMI Kecamatan Pakem, Wahyu Dwi Hantoro,” kepada wartawan di posko pengungsian Hargobinangun, Sleman, Yogyakarta, Rabu (27/10/2010).

Wahyu menuturkan, Tutur tewas dalam misi menjemput Mbah Maridjan. Tutur terpanggang awan panas alias wedhus gembel yang dikeluarkan Gunung Merapi sore tadi. Rencananya, Tutur akan mengamankan Mbah Maridjan dari wedhus gembel tersebut.

“Tewas di atas bersama tim,” terang Wahyu.

Saat ini jenazah para korban awan panas Gunung Merapi yang tewas di sekitar rumah Mbah Maridjan tengah diidentifikasi di RS Sardjito, Yogyakarta. Hingga saat ini baru berhasil diidentifikasi sebanyak 9 korban meninggal akibat awan panas tersebut.

Berikut identitas 9 jenazah korban awan panas Gunung Merapi yang ditemukan di sekitar rumah Mbah Maridjan :

1. Parno (pria/ warga Dusun Kinahrejo)
2. Yuniawan Wahyu Nugroho (pria/ wartawan VIVAnews)
3. Sipon (wanita/ warga Dusun Kinahrejo)
4. Wahono (pria/ relawan lereng merapi)
5. Tutur Priyono (pria/ relawan PMI)
6. Imam (pria/ warga Kinahrejo)
7. Mukiman (pria/ warga Kinahrejo)
8. Ny. Puji Sasono (wanita/warga Kinahrejo)
9. Barno Utama (pria/warga Kinahrejo)
(van/nvc)

Rabu, 27/10/2010 07:31 WIB
Mbah Maridjan Ditemukan Meninggal Dunia dalam Posisi Sujud di Dapur 
Febriani – detikNews


Jakarta – Akhirnya misteri keberadaan Mbah Maridjan terpecahkan. Kuncen Gunung Merapi itu ditemukan Tim SAR telah meninggal dunia. Mbah Maridjan meninggal dalam posisi sujud.

“Ditemukan di dapur dalam posisi sujud,” kata anggota Tim SAR, Suseno, saat ditemui di RS Sardjito, Sleman, Yogyakarta, Rabu (27/10/2010).

Tim evakuasi segera membawa jenazah Mbah Maridjan ke tempat yang aman. Jasad Mbah Maridjan yang lahir pada 1927 ini kini tengah diidentifikasi di rumah sakit.

“Tim mengevakuasi Mbah Maridjan sekitar pukul 05.00 WIB,” tambah Suseno.

Pada Senin (26/10) malam sempat tersiar kabar Mbah Maridjan masih hidup. Namun kini setelah tim evakuasi melanjutkan pencarian dipastikan Mbah Maridjan meninggal dunia. Di kawasan rumah Mbah Maridjan, ada 16 orang yang ditemukan tewas.

Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu pun sebelumnya mendapatkan kabar bahwa Mbah Maridjan meninggal dunia karena ada jenazah yang mirip dengan pembantu setia (alm) Sultan HB IX itu. Kabar terbaru ini berarti juga meluruskan informasi yang berkembang sebelumnya bahwa pria bergelar Raden Ngabehi Surakso Hargo itu telah diselamatkan dalam kondisi lemas semalam. (ndr/nrl)

Rabu, 27/10/2010 10:18 WIB
In Memoriam
Mbah Maridjan, Menepati Janji Sampai Mati  
Anwar Khumaini – detikNews


Yogyakarta – Seribu pertanyaan dari publik tentang keberadaan Mbah Maridjan terjawab sudah. Juru kunci gunung Merapi itu ikut gugur di pangkuan Gunung Merapi. Amanah Sultan HB IX untuk menjaga gunung paling berbahaya di Indonesia itu, selesai sudah.

“Dilihat dari batiknya dan kopiah yang dipakai di kepalanya kita yakin (itu jenazah Mbah Mardijan),” kata petugas Tim SAR Yogyakarta, Suseno, saat ditemui di RS dr Sardjito, Yogyakarta, Rabu (27/10/2010). Mbah Maridjan ditemukan dalam posisi sujud di dapur. Luka bakar terdapat di tubuhnya. Bajunya robek-robek.

Nama Raden Ngabehi Suraksohargo atau yang lebih terkenal dengan panggilan Mbah Mardijan melambung seiring dengan peristiwa meletusnya Gunung Merapi, Yogyakarta, pada 2006 lalu.

Mbah Maridjan terkenal karena sebagai juru kunci Gunung Merapi, dia tidak mau mematuhi perintah untuk turun gunung oleh Sultan Hamengkubuwono X. Akibatnya, mata dunia pun terbelalak pada sosok renta yang sangat sederhana ini.

Bahkan, saking terkenalnya pria kelahiran Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, tahun 1927 itu, Pemerintah Jerman yang saat itu sedang menggelar hajatan Piala Dunia bermaksud mengundang Mbah Maridjan untuk menghadiri pembukaan Piala Dunia 2006. Si Mbah lantang menolak. “Kalau saya ke Jerman, siapa yang mencari rumput sapi saya,” tutur pria sepuh itu.

Bagaimana Mbah Maridjan setelah dikenal dunia? Apalagi Si Mbah saat ini telah menjadi ikon produk jamu “Roso-roso”! Adakah perbedaan dengan Si Mbah setelah lebih ‘berada’? Ternyata tidak. Mbah Maridjan tetap seperti yang dulu, ramah, rendah hati dan selalu tersenyum menghadapi siapa pun meski belum kenal sama sekali.

“Saya ya tetap seperti ini,” ujar Mbah Maridjan dengan Bahasa Jawa khasnya saat
ditemui detikcom di sela-sela kesibukannya yang terus menerima tamu di saat
musim liburan Natal dan Tahun Baru, Senin (24/12/2007) silam.

Mbah Maridjan menuturkan, pascameletusnya Gunung Marapi pada 2006 silam, banyak perubahan pada dirinya. Selain menjadi terkenal, dia menjadi ikon produk jamu yang juga membuat namanya semakin melambung.

“Tapi soal honor, itu bukan saya yang mengurusi. Tapi anak-anak saya, dan masyarakat juga menikmati hasilnya,” papar pria bersahaja ini.

Pengalaman lucu pun diceritakan Mbah Maridjan saat pengambilan gambar dalam iklan tersebut. “Waktu itu saya diajari agar saya mengangkat tangan saya sambil membawa gelas dan mengatakan ‘roso-roso’. Sering diulang,” kata Mbah Maridjan disambut tawa para tamunya.

Karena usianya yang semakin renta, Mbah Maridjan mengaku sudah tidak kuat lagi melakukan aktivitas sehari-hari semisal berladang dan mencari rumput. “Rumput satu kali mencari biasanya bobotnya 50 kilo. Jadi pundak saya sudah nggak kuat untuk mengangkatnya,” cerita Mbah Maridjan sambil tertawa.

“Kan sudah minum jamu ‘roso-roso’ itu, Mbah?” Mbah Maridjan hanya tertawa lebar
mendengar pertanyaan tersebut.

Sayangnya, saat itu Mbah Marijan tidak mau lagi difoto bareng dengan pengunjung. Hal ini berbeda 2006 lalu tatkala Si Mbah dengan sabar bersedia meladeni tamu yang hendak berpose dengannya.

“Nanti kalau mau difoto tembok saya sudah nggak bisa lagi menampung foto-fotonya,” ujar si mbah sembari menunjukkan foto-foto Mbah Maridjan dengan berbagai pose yang terpampang di tembok rumahnya.

Namun kini, sosok sederhana dan rendah hati ini telah tiada. Mbah Maridjan menepati janjinya kepada Sultan HB IX untuk terus menjaga Merapi sampai akhir hayat.

Selamat jalan Mbah, di mata kami, sampeyan tetap roso!
(anw/nrl)